Snatch My Daddy’S Wife

Snatch My Daddy’S Wife
Part 34



Tiga kali Aloysius menjenguk mommynya, pasti sedang terlelap. Jadi, ia belum bertemu oleh wanita yang sudah melahirkannya. Dia juga datang ketika malam hari, saat waktu semua orang tidur. Sebab, ia curi-curi waktu dari dokter yang memintanya supaya istirahat dahulu, jangan jalan-jalan.


Kurang lebih selama lima hari Aloysius ada di rumah sakit, dua harinya habis untuk tidak sadarkan diri. Semenjak Lindsay meninggalkan ruang rawatnya, tidak pernah lagi melihat wanita itu. Baguslah, jadi tidak perlu marah-marah untuk mengusir, juga proses melupakan jauh lebih mudah. Selama itu juga yang merawatnya adalah nenek, terkadang ia memilih sendiri dan mengandalkan perawat rumah sakit.


Setelah mendapatkan penanganan dokter secara intens, kondisi kesehatan Aloysius mulai membaik. Dia juga sudah diizinkan untuk pulang, asal menjaga pola makan dan istirahat.


Untuk apa memiliki karyawan yang digaji kalau tak dimanfaatkan, Aloysius pun memanggil sekretarisnya untuk mengemasi seluruh barang-barangnya. Membiarkan Dakota membawa tas jinjing seorang diri, sementara ia jalan mendahului.


“Bos yang tidak berperasaan,” gerutu Dakota. Bisa-bisanya membiarkan seorang wanita melakukan seluruh pekerjaan lelaki.


“Anggap itu hukuman karena kau salah menemukan pasangan kencan untukku.” Aloysius yang mendengar pun langsung menanggapi tanpa berbalik. Jarak mereka tidak terlalu jauh, sehingga suara Dakota bisa ditangkap oleh telinganya.


“Salah bagaimana? Aku sudah berusaha mencari sesuai ciri-ciri yang kau sebutkan. Bahkan seluruh detailnya ada di wanita itu,” protes Dakota.


“Aku tidak suka orangnya. Jadi, kau jangan banyak protes. Masih untung hanya ku beri hukuman ringan, bukan pemecatan.”


Dakota berdecak kesal. “Nasib menjadi budak corporate,” keluhnya. “Tapi kau harus berterima kasih dengan wanita itu.”


“Untuk apa?” Aloysius berhenti tepat di depan lift, menanti pintu terbuka.


“Berkat dia, Mr dan Mrs. Grey menyepakati kalau perusahaanmu menjadi vendor proyek barunya. Katanya mereka suka kerjasama bersamamu kalau ada Lindsay. Jadi, kau berhutang budi,” jelas Dakota. Dia ikut masuk ke dalam lift saat sudah terbuka.


“Dih! Memang mereka saja yang melihat potensi bagus dari kinerja perusahaanku, bukan karena Lindsay. Lagi pula dia hanya mengajak Mrs. Grey mengobrol biasa, tidak melibatkan bincang tentang proyek.”


“Justru karena itu. Mrs. Grey senang kalau ada orang yang bisa menemani dia saat bekerja. Pertimbangan mereka menerima kerjasama karena hal itu.” Dakota rasanya gemas. Padahal hanya diminta supaya berterima kasih, tapi keras kepala sekali bosnya.


“Kau itu sangat berisik! Kalau masih ingin bicara, keluarlah! Aku tidak ingin mendengar nama Lindsay lagi,” usir Aloysius dengan mata melotot pada sekretarisnya.


Dokta pun mengunci rapat bibir. Mengusap dada supaya sabar menghadapi bos yang sekarang berubah menjadi menyebalkan. “Kalau tak ingat butuh uang dan pekerjaan, sudah ku toyor kepala si bos,” gumamnya sangat pelan.


“Kau mengumpati aku?” tanya Aloysius dengan suara rendah penuh selidik.


“Tidak, katamu aku harus diam,” elak Dakota.


Lift pun terbuka, Aloysius mau menyempatkan menjenguk mommynya. Siapa tahu sedang terjaga karena waktu menunjukkan masih siang.


“Kau bawa barang-barangku ke kantor. Simpan di dalam ruang kerja!” titah Aloysius ketika mendengar langkah kaki Dakota di belakangnya.


“Sekarang kau mau ke mana? Haruskah aku ikut?” tanya Dakota karena sadar kalau mereka tidak keluar di lantai satu.


“Menjenguk mommyku. Kau langsung pergi saja, tak perlu mengekor!” usir Aloysius.