
Entah harus ke mana lagi Aloysius harus mencari Lindsay. Dia tidak menemukan wanita itu dimanapun. Merasa pernah mengalami hal yang sama, ketika satu tahun silam. Memang sesusah itu menemukan Lindsay. Bahkan ia tak sekadar berputar di area Kota Helsinki saja, daerah lain juga dicek. Namun, sudah satu bulan ini tidak mendapatkan hasil apa pun.
Frustasi, tentu saja. Aloysius merasa hampir gila karena wanitanya sangat pandai bersembunyi. Juga serangan rasa bersalah semakin menikam dada. Tidak ada satu pun orang yang berpihak padanya atau membantunya dalam proses pencarian ini.
Daddynya mana mungkin menolong, Aloysius saja kurang ajar dan emosian pada orang tua sendiri. Kakeknya? Sudah dihasut agar membiarkannya melakukan semuanya tanpa bantuan. Jadi, siapa lagi yang bisa diandalkan? Semua keluarganya enggan karena sudah tahu kalau Lindsay pergi pun akibat ia usir.
“Kau yang meminta dia pergi jauh dan menghilang, maka carilah sendiri!” Kurang lebih begitulah jawaban keluarganya kalau diminta pertolongan.
Oke, Aloysius sadar kalau semua adalah kesalahannya. Lindsay hamil akibat ulahnya. Wanita itu pergi hingga entah keberadaan di mana juga dari tutur kata yang tidak bisa dikontrol saat emosi. Apakah mengakui salah dan menyesal tidak bisa dipertimbangkan? Demi apa pun, rasanya kepala ingin pecah.
Bagaimana kondisi Lindsay, apakah sehat dan bisa melewati masa kehamilan sendiri? Anaknya masihkah di dalam rahim wanita itu? Aloysius terus dihantui banyak pertanyaan di isi kepala. Dia sangat penasaran, atau bahkan menuju tahap rindu.
Meski begitu, Aloysius tetap harus bekerja setiap hari, daripada dibuat menjadi gelandangan kalau bermalas-malasan. Akan tetapi, kondisinya tiap pagi selalu kurang enak badan. Entahlah, rasanya lemas dan malas melakukan aktivitas. Hanya saja selalu dipaksa bergerak.
Biasanya Aloysius selalu berangkat kerja dengan mengendarai mobil sendiri. Tapi, sudah satu bulan belakang menggunakan supir karena fokusnya sering terganggu. Daripada terjadi hal buruk di jalan dan tidak bisa menemukan Lindsay juga anaknya, lebih baik tak perlu mamaksakan diri.
“Tuan, sudah sampai di kantor,” ucap supir itu seraya menggoyangkan lengan Aloysius karena sudah dipanggil beberapa kali tapi tidak ada sahutan.
Aloysius pun terbangun dari tidur. Perasaan ia mudah sekali terlelap kalau pagi hari. Padahal jarak tempat tinggal ke perusahaan juga tak terlalu jauh. “Oke.” Dia pun lekas turun dengan tak bertenaga.
“Dakota, tolong belikan sarapan!” titah Aloysius ketika melewati meja sekretarisnya.
“Mau makan apa, Bos?” tanya Dakota. Nanti kena sembur lagi kalau salah membelikan yang bukan selera atasannya.
“Terserah, yang penting enak.” Aloysius terus melanjutkan berjalan, tanpa menengok sedikit pun.
“Jangan terserah, Bos. Aku pusing berpikirnya, nanti tidak sesuai kemauanmu lagi.”
“Beli saja di restoran biasanya.” Setelah itu Aloysius masuk ke dalam ruang kerja. Dia tidak langsung bekerja, tapi bermalas-malasan.
Setelah tiga puluh menit, pintu pun ada yang mengetuk. Dakota masuk ke dalam membawa makanan. “Lasagna dari restoran biasanya.” Ia letakkan itu ke atas meja. “Adakah tugas lainnya?”
“Tidak, kau bisa kembali,” usir Aloysius. Ia pun meraih sendok, lalu mulai menikmati sedikit demi sedikit.
Namun, rasanya sangat aneh, tidak enak seperti biasanya. Sudah satu bulan terakhir, apa pun yang dimakan selalu tak sesuai harapan. Kemudian berakhirlah pada perut yang bergejolak.