Snatch My Daddy’S Wife

Snatch My Daddy’S Wife
Part 93



Aloysius dan Lindsay bersiap, ganti pakaian yang lebih hangat untuk keluar membeli cincin. Mereka lalu berdampingan menuju mobil. Sama-sama memencet remot di kunci kendaraan masing-masing hingga bunyi pertanda tidak terkunci. Saling tatap dengan alis naik sebelah di bagian kiri semua.


“Pakai mobilku saja, terlalu lama diparkir dan tak digunakan. Nanti rusak.” Aloysius menggandeng dan sedikit menarik calon istri agar menuju kendaraan roda empatnya.


“Ya ... maaf, terbiasa kalau mau keluar pasti naik mobil itu. Jadi, reflek,” jelas Lindsay. Menurut saat ia diminta masuk mobil yang baru saja pintunya dibuka oleh calon suami.


Aloysius segera memutari bagian depan, lalu ikut menempatkan posisi ternyaman di jok kemudi. Menekan tombol untuk menghidupkan mesin.


“Biar aku saja.” Tangan beserta tubuh Aloysius terdorong ke sebelah, hingga posisinya ada di depan Lindsay. Ia menarik seatbelt untuk sang wanita.


“Aku bisa sendiri, seharusnya kau tidak perlu melakukan hal sesederhana ini untukku,” protes Lindsay. Dia jadi harus tahan napas karena Aloysius terlalu dekat. Semerbak pria itu selalu berhasil membuat hasratnya bagai diaduk-aduk dan menerbangkan ribuan kupu-kupu di dalam perut.


“Jangan menentang. Aku ini sedang berusaha romantis pada calon istri.” Ada bunyi ceklikan dari ujung seatbelt yang sudah masuk di tempat semestinya. Tapi Aloysius tidak segera menarik diri untuk fokus menjalankan kendaraan. Dia justru membiarkan wajah membeku saat menatap wanitanya dalam jarak tak ada satu jengkal.


Tak ada kata yang terucap, hanya sorot mata begitu terpancar penuh cinta. Satu detik berikutnya, kecupan Aloysius mendarat pada bibir sang wanita. “Cantik, hanya milikku.”


Barulah sekarang Aloysius memakai seatbelt sendiri, lalu melajukan kendaraan untuk keluar dari area peternakan Enjoy Life.


Pujian yang sangat sederhana, tapi mampu membuat bibir Lindsay tersenyum. Jemarinya mengusap bekas kecupan yang sangat manis.


Sepanjang perjalanan, Aloysius selalu melihat cuaca di luar. Memastikan supaya salju belum turun. Dia tidak mau kalah taruhan. Seratus sapi pokoknya harus didapat.


“Oh, cek, belum turun salju.” Aloysius menunjuk kaca, tapi maksudnya adalah terarah pada langit di luar sana yang gelap, tapi cukup membuat udara dingin saja, jangan butiran putih.


“Astaga ... kau sangat mengharapkan dapat seratus sapi dari pamanmu?”


Mengangguk, kaki Aloysius sembari memijak gas dan keempat roda kembali berputar satu lingkaran penuh. “Tentu saja, lumayan.”


“Sudahlah, aku juga bisa beli sendiri sebanyak itu. Lagi pula kalah taruhan juga tidak masalah.”


“Ada sensasi lain ketika mendapatkan sesuatu dari hasil kemenangan. Meski aku juga bisa beli sendiri, tapi rasanya pasti beda,” jelas Aloysius.


Lindsay hanya bisa bergeleng kepala. Pria yang akan dinikahi itu terlalu lain seleranya. Tapi, ya sudah, memang Aloysius adalah pilihannya. Jadi, terima segala baik buruk pria itu.


“Ini tokonya hanya mengikuti arah yang ditunjukkan oleh maps?” Memastikan lagi supaya tidak salah tempat, Aloysius menunjuk layar berukuran tujuh belas inch yang menyatu dengan kendaraan.


“Ya, sudah dekat.”


Tak perlu buru-buru di jalan. Lagi pula tidak kejar setoran, walau waktu sudah menunjukkan hampir malam. Mereka saja keluar sudah sore.


Akhirnya sampai. Menepikan kendaraan di depan sebuah toko perhiasan yang diinginkan oleh calon istri. “Benar ini?” Pandangan Aloysius tertuju pada bangunan yang nampak biasa saja, tidak ada yang istimewa seperti brand besar.