
Lindsay lupa tepatnya kapan, tapi pertama kali bertemu Amartha adalah beberapa bulan yang lalu. Dia sedang mengendarai mobil, hobinya adalah balapan di arena, tapi kalau di jalanan juga kadang terbawa suasana, jadi sering kebut-kebutan juga.
Saat itu sedang sepi, membuat Lindsay yang sedang merasakan rindu berat ingin bertemu Aloysius pun meluapkan dengan balapan di jalan. Tidak ada lawan, hanya sendiri dan kecepatan melebihi batas. Dia tahu itu salah dan melanggar aturan, tapi hanya dengan balapan ia bisa sedikit melupakan pria itu.
Terlalu kalut oleh perasaan yang sulit untuk diutarakan karena posisi Lindsay memang tidak bagus. Cinta tapi orang yang diinginkan hanya mau hubungan tanpa status. Sakit jika diingat, kala cemburu tak bisa diluapkan, kecewa dan marah juga tidak mampu untuk berekspresi hanya karena tidak ada hak akan hal itu.
Arena balap memang diperuntukkan sebagai lokasi kebut-kebutan, sementara jalan raya tidak. Banyak orang jalan kaki maupun berkendara. Disitulah salah Lindsay, dia sedikit kurang fokus hingga tidak sengaja menyerempet pengendara motor, dan kendaraan roda dua itu jatuh terseret di atas aspal hingga menyerempet Amartha yang saat itu baru keluar dari mobil terparkir di pinggir jalan.
Merasa bersalah, Lindsay tidak kabur. Dia menelepon ambulan dan pergi ke rumah sakit bersama korban. Meminta maaf pada pengendara motor, menanggung semua biaya yang untungnya tidak ada korban jiwa, hanya luka-luka.
Lindsay juga masih bersyukur karena tidak sampai dibawa ke pihak berwajib karena itikad baiknya sudah membuat semua korban memaafkan, termasuk Amartha. Padahal Amartha paling minim luka, tapi ternyata benturan akibat kecelakaan itu membuat sel-sel kanker berkembang dan aktif lebih cepat. Kondisi wanita itu justru memburuk.
Tentu rasa bersalah membuat Lindsay berjanji akan melakukan apa saja. Demi apa pun, saat itu ia ketakutan kalau ada korban jiwa. Jadi, ia menerima permintaan Amartha untuk menikahi suami wanita itu yaitu Delavar, kalau kondisi memburuk. Lalu, benar saja, beberapa minggu setelahnya masuk ICU.
Lindsay sejak awal tahu kalau Amartha dan Delavar adalah orang tua Aloysius. Namun, ia terlanjur janji mau menuruti permintaan apa pun.
Di detik-detik terakhir sebelum pernikahan, Lindsay sempat pingsan. Akhirnya tidak jadi ke Badan Kependudukan, tapi Delavar membawa ke rumah sakit. Jadi, mereka memutuskan untuk tidak melanjutkan pernikahan yang tidak diinginkan itu. Lagi pula keduanya memiliki orang yang dicintai.
“Bagaimana kandunganmu?” tanya Delavar. Tentu dia tahu karena saat Lindsay pingsan dan dibawa ke rumah sakit, ternyata telah ada janin di dalam rahim wanita itu. Mungkin sekarang sudah tujuh minggu.
Belum nampak buncit, masih terlalu muda. Lindsay mengusap perutnya. “Dia sehat, aku minum vitamin dan menjaganya dengan sepenuh hati.”
Amartha tidak paham dengan perbincangan itu, hingga membuat kening berkerut. “Lindsay hamil?”
Yang ditanya mengangguk membenarkan.
“Anakmu?” tanya Amartha seraya menatap sang suami.
Delavar langsung menggeleng. “Tidak, itu cucu kita.”
Amartha semakin dibuat melongo oleh kenyataan yang terjadi. “Cucu kita dari?”
“Aloysius,” jawab Lindsay dan Delavar bersamaan.