Snatch My Daddy’S Wife

Snatch My Daddy’S Wife
Part 91



Untunglah Andrew itu manusia normal yang tidak kekanakan. Dia tak membalas dengan kalimat umpatan atau menunjukkan rasa kurang senang. Cukup menaikkan sebelah alis, lalu berkata, “Oh, ya?”


“Hm ... kenapa? Terkejut mendengar beritanya?” Aloysius menaruh pakan ke atas dorongan barang untuk mempermudah membawa banyak ke mobil. Jadi, tidak perlu memanggul jauh.


“Biasa saja.” Andrew menarik pakan yang telah ia ambil. Dia pergi meninggalkan Aloysius.


Sementara si calon pengantin yang belum resmi mendaftarkan diri ke instansi terkait itu pun mencebikkan bibir. “Bisa-bisanya Lindsay mempekerjakan manusia yang menyebalkan seperti Andrew,” gerutunya. Walau begitu, ia akui kalau kinerja rivalnya memang bagus.


“Kau baru mau menikah, kan? Jangan menangis jika ku gagalkan.” Andrew tersenyum miring. Sepasang kaki menyempatkan untuk berhenti sejenak hanya untuk mengatakan itu pada Aloysius si pria sombong.


Reflek mata Aloysius mendelik hingga nyaris keluar. Tapi, ia balas menyeringai. “Jangan terlalu percaya diri bisa melakukan itu. Di hati Lindsay hanya ada seorang Aloysius Finlay Dominique. Namamu tidak cukup untuk masuk ke dalamnya. Jadi, tak perlu membuang tenaga dan waktu hanya untuk melakukan hal yang sudah tahu akan berakhir sia-sia.”


“Manusia sombong sepertimu memang harus diberi pelajaran,” sahut Andrew. “Aku tak yakin Lindsay bisa bahagia hidup bersama denganmu. Angkuh begitu.”


“Sudahlah ... kau itu terima saja kenyataan kalau aku adalah pilihannya. Barisan patah hati memang terkadang suka lucu, tidak terima melihat orang lain bahagia.” Berbincang sembari mengangkut pakan. Kurang lebih Aloysius membawa dua puluh di atas dorongan barang. “Lagi pula, mau mengambil simpati Lindsay dengan cara apa pun, pasti akan gagal juga. Masih yakin bisa menggagalkan pernikahan kami?” remehnya.


Sudah banyak dan dirasa cukup untuk pakan satu kandang, Aloysius pun menarik dorongan itu. Lumayan olahraga gratis jika bekerja di peternakan. Ia tidak perlu repot-repot gym karena otot telah terlatih oleh angkat berat.


“Bisa, akan ku culik Lindsay. Mudah sekali.” Setelah mengucapkan kalimat itu, Andrew segera menuju mobil pick up miliknya.


“Ku tebas kau jika berani melakukan itu!” ancam Aloysius dengan suara berteriak.


...........


Hanya butuh kurang lebih satu minggu untuk Aloysius beradaptasi di peternakan, menyatu dengan seluruh ternak milik Lindsay. Sekarang ia sudah seperti seorang peternak sungguhan, walau belum handal sekali. Setidaknya tak ada insiden terkena cipratan kotoran, dikencingi, atau ditendang lagi.


Aloysius juga pandai mempersiapkan sarapan untuk sapi-sapi di kandang nomor dua ratus lima puluh sembilan. Isinya hewan bertubuh besar semua. Dia menumpahkan pakan di tempat yang memang khusus untuk makanan ternak. Kepala sapi juga telah siap dan tidak sabar untuk menyantap.


Membagi rata dari ujung ke ujung. Aloysius tersenyum kala semua moncong mulai mengunyah. “Makan yang banyak, supaya lebih besar. Sebentar lagi kalian akan disembelih,” ucapnya seraya mengusap salah satu kepala sapi.


Memang benar apa yang dikatakan oleh bibir Aloysius. Yang sekarang ia beri makan adalah sapi pedaging siap untuk dipotong lehernya.


Setelah selesai urusan memberi makan, saatnya pulang ke rumah. Cukup tiga jam Aloysius bekerja. Walau tidak mendapatkan gaji, setidaknya sudah cukup dengan balasan cinta.


Sesampainya di bangunan dua lantai dan masuk ke dalam, ia mendapati Lindsay sudah bangun dan nampak memasak sesuatu di dapur. Aloysius selalu mencuci tangan yang kotor setelah dari peternakan. Jadi, pria itu langsung memeluk sang wanita dari belakang dan mencium bagian pundak.


“Dari mana?” tanya Lindsay. Membiarkan calon suaminya bergelayut manja. Dia suka Aloysius yang seperti itu. Terkesan sangat menyayangi dan membutuhkan dirinya sebagai sandaran hidup.


“Kandang, memberi makan sapimu,” jawab Aloysius. Dagu sengaja ditempelkan pada pundak supaya pandangannya bisa leluasa tertuju pada tangan lihai Lindsay yang kini sedang memasak cream soup.


“Supaya tidurmu lebih lama, dan anak kita sesekali merasakan bermalas-malasan,” jelas Aloysius. Pria itu mengikuti kemanapun pergerakan sang wanita. Bahkan mengambil mangkuk juga tetap menempel pada Lindsay. Seperti cicak di dinding.


Harum sekali aroma tubuh Lindsay. Aloysius selalu suka. Meski bekerja dengan hewan, tapi wanita itu tidak pernah bau. Parfum pasti mahal, oh tentu saja karena Aloysius yang membelikan.


“Pasti belum makan sejak pagi, kan?” tebak Lindsay. Bergerak ke ruang makan dengan membawa dua mangkuk di tangan.


“Iya, tadi aku juga kesiangan. Jam delapan baru bangun. Jadi, langsung siap-siap ke kandang.” Aloysius menarik kursi, lalu ia duduk terlebih dahulu, dan tangan menarik pinggul wanitanya hingga pantat jatuh ke pangkuannya.


“Biarkan aku duduk sendiri, Alo,” protes Lindsay. Berusaha keluar dari belitan tangan kekar yang ada di bawah perut buncitnya.


“Berdua lebih, enak,” elak Aloysius. Padahal modus saja pria itu, supaya bisa sambil menggerayangi.


“Mana ada berdua, jangan lupakan satu anak di dalam perut. Posisi ini tidak nyaman.” Lindsay mencubit gemas lengan calon suaminya agar tak mengeyel.


“Iya, iya, aku lepaskan.” Aloysius pasrah dan memilih mengalah. Membiarkan wanitanya berpindah ke kursi sebelah.


Mulai menikmati cream soup buatan Lindsay. Aloysius terus teringat dengan perkataan Andrew saat di gudang pakan tadi. Ia melirik ke kiri.


“Boleh aku minta sesuatu padamu?” tanya Aloysius.


“Apa?” Lindsay cukup menaikkan alis tanpa menengok. Sedang menikmati hidangan buatannya.


“Jangan dekat-dekat dengan Andrew lagi.” Aloysius merasa pernikahannya bisa terancam jika Lindsay masih memiliki akses di sekitar rivalnya.


“Aku tidak dekat dengan dia.”


“Maksudku jangan bertemu Andrew lagi.” Semakin spesifik permintaan itu.


“Mana bisa, Alo. Dia adalah orang kepercayaan aku,” terang Lindsay. Sekarang ia menggerakkan kepala ke kanan dan menatap bingung. Tiba-tiba sekali meminta hal aneh begitu.


“Pecat saja, ganti yang baru.”


“Tidak mudah mendapatkan karyawan seperti Andrew. Dia mengetahui seluruh seluk beluk peternakan ini. Sudah mandat dari mendiang orang tua juga untuk selalu mempekerjakan dia karena Andrew adalah orang kepercayaan keluargaku.”


Hembusan napas penuh rasa kecewa pun keluar seiring mendorong punggung ke belakang hingga membentur sandaran kursi. Ternyata tidak semudah itu menyingkirkan rival.


“Memangnya kenapa tiba-tiba minta memberhentikan Andrew? Kalian bertengkar lagi?” tanya Lindsay penuh selidik.