
“Memberi pelajaran? Memangnya aku berbuat salah, apa?” Aloysius masih belum sadar diri. Santai sekali menghadapi kakeknya. Justru sekarang menghisap ujung gulungan tembakau, lalu mengeluarkan asap dalam bentuk bulatan.
“Kalau bukan cucuku, sudah ku kurung kau di kandang sapi agar tidur di sana.” Davis mengumpati cucunya yang menggemaskan. Memang kalau bicara dengan Aloysius itu tidak bisa berupa hal yang masih abstrak.
“Sadisnya ... kakekku.” Mengarahkan wajah ke Davis agar asap yang akan ia keluarkan menerpa suhu di keluarga besarnya, tapi ingat kalau sudah tua. Jadi, diurungkan, dan hembusan keluar ke arah sebaliknya.
“Kau itu sudah berapa hari tidak masuk kerja?” tanya Davis. Kini jemari berkeriput itu menjewer telinga Aloysius.
“Jangan buang-buang kekuatanmu, Grandpa. Nanti ku dorong bisa jatuh kau itu. Sudah tua, jangan banyak gaya.” Aloysius tergolong cucu yang berani pada kakeknya. Percayalah, dia bisa berbincang sesantai itu karena memang terbiasa dan Davis pun orang yang asyik, bukan kaku atau gila hormat. Meski begitu, ia sayang walau terkadang juga menyebalkan.
Aloysius menahan tangan sang kakek supaya menjauh dari telinganya. “Lembut sedikit, nanti kalau lepas, bisa-bisa aku tuli dan tak bisa mendengar lagi.”
“Masih punya dua telinga pun sering tidak mendengarkan apa kata keluarga.” Davis mengakhiri jewerannya. Dan sang cucu langsung mengusap bagian yang kini memerah.
“Coba jelaskan dengan hati yang tenang, apa kesalahanku sampai kalian harus repot-repot datang ke sini,” pinta Aloysius. Membuang rokok yang sudah habis ke asbak kecil.
“Tiga hari kau libur, kan?”
“Empat,” ralat Aloysius.
“Semakin banyak saja kau berleha-leha.”
“Tapi, tidak begini caranya.” Davis mengomel tiada henti. Apa lagi Aloysius terus menimpali dan tidak mau kalah atau terlihat salah. Definisi cucu menyebalkan yang mau menang terus.
“Lalu, harus menggunakan cara apa?” Aloysius menaikkan sebelah alis. “Menyeret paksa Lindsay langsung ke Badan Kependudukan atau Katedral, begitu? Yang ada aku diusir karena memaksa orang. Memangnya kau yang tukang mengancam, dapat istri saja hasil merebut pacar orang.”
Tadi Aloysius yang dibully, sekarang gantian dia yang mengejek kakeknya dengan fakta di masa lalu. Salah sendiri tidak memiliki privasi di keluarga, keburukan pun diceritakan. Jadi, wajar kalau tahu tentang awal mula kisah Davis menikahi Diora.
Mencari benda terdekat yang bisa diraih. Davis hanya melihat asbak saja. Dia pegang itu, lalu lemparkan ke cucunya. Kena kepala, Aloysius mengaduh sembari mengusap bagian yang terkena serangan dadakan.
“Kenapa? Tersindir, ya?” Bukannya takut, Aloysius tersenyum miring.
“Memang cucu paling tengik kau itu.” Davis bergeleng kepala. Untung saja dia sayang. “Aku mau bicara serius, jangan kau sela sedikit pun!” peringatnya.
“Iya ... katakan!” Aloysius menatap kakeknya.
“Jika sedang sibuk dengan urusan pribadi dan mau meninggalkan kantor dalam waktu lama, kau harus memberi tahu aku atau anggota keluarga yang lain. Supaya ada salah satu yang menggantikan posisimu untuk sementara. Jangan tiba-tiba pergi, lalu tidak bisa dihubungi. Namanya kau menyusahkan banyak orang. Selain perusahaan yang ku bangun akan rugi, sekretarismu juga menjadi kuwalahan, mendapatkan komplain dari klien yang kau kecewakan. Paham?!” Sepanjang itu Davis berbicara tanpa ada jeda untuk menghirup napas sedikit pun.
“Iya, maaf. Nanti ponselnya aku hidupkan.” Memang cucu laknat, menjawab kakeknya hanya sekali tarikan napas juga masih sisa banyak.