
Sedang semangat-semangatnya mempromosikan Aloysius dengan mengatakan hal-hal baik tentang pria itu pada Lindsay supaya mereka bisa segera menikah sebelum anak lahir. Eh ... rupanya manusia yang didukung habis-habisan pernah membuat ulah. Mana keluarga tidak ada yang tahu pula. Ini mau mengelak bagaimana juga semua sedang bingung dan berpikir supaya tidak salah bicara.
“Kau lihat langsung atau sekadar dari foto maupun video?” tanya Amabella untuk memastikan lagi.
“Langsung, dengan mata kepalaku. Saat itu aku ada pesta kemenangan teman balap, di sebuah club malam. Lalu, melihat Aloysius sedang di sana, bersama seorang wanita.” Lindsay tidak melanjutkan lagi cerita itu. Memejamkan mata karena tak ingin mengingat hal yang membuatnya terluka.
Bedanya Aloysius dan Lindsay. Kalau si pria ketika patah hati, marah dan mudah emosi tanpa mengontrol diri. Sementara yang wanita lebih memilih diam, menghindar dari sumber pembuatnya terluka.
Amartha, Diora, Amabella, Adorabella, dan Alceena pun saling melirik satu sama lain. Bagaimana mau membela kalau Lindsay menyaksikan sendiri? Mereka juga bingung harus mengatakan apa. Menunggu salah satu angkat bicara.
“Begini, Lin.” Akhirnya Diora yang paling tua sebagai penasihat. Dia merangkul lengan wanita berperut buncit itu. “Kita sambil jalan, supaya tidak seperti patung,” ajaknya kemudian.
Mereka mengayunkan kaki pelan dan seirama. Justru telinga lebih fokus mendengarkan Diora daripada karyawan Lindsay yang saat ini sedang menjelaskan tentang proses pembuatan susu kemasan di Enjoy Life Farm.
“Kesetiaan itu tidak diukur dari dia berciuman dengan berapa orang. Selagi tidak ada ikatan, semua bebas melakukan apa saja. Termasuk kau juga boleh berciuman dengan pria selain Aloysius,” ucap Diora.
“Tapi aku tidak pernah,” sanggah Lindsay.
“Lantas, dari mana kalian bisa yakin kalau Aloysius itu mampu bertahan hanya denganku seorang? Sementara ada riwayat kejadian yang kurang menyenangkan,” tanya Lindsay. Satu itu yang mengganjal dan menahan diri hingga mulutnya berat mengatakan ‘iya mau’ walau sesungguhnya sangat ingin. Ada setitik risau.
“Dari keteguhan hatinya, kau bisa merasakan menggunakan ini.” Diora menyentuh dada Lindsay, memberikan pertanda bahwa yang dibutuhkan adalah feeling.
“Setiap orang pasti memiliki masa lalu. Termasuk kami pun begitu. Sebelum menikah, bahagia, dan mendapatkan kesetiaan suami, pasti ada hal sulit yang membuat diri merasa terkurung. Padahal, jika berani melawan ketakutan dan kerisauan, bahagia ada di depan mata.” Amartha lalu sedikit menceritakan kalau dahulu ia bukanlah seseorang yang berasal dari keluarga baik, bahkan hidupnya cukup buruk, tapi suami tetap mau menerima dalam kondisi apa pun.
Kemudian Diora dan Alceena juga sedikit bercerita tentang kisah cinta mereka. Kecuali Duo Bella yang cukup menyimak karena belum mendapatkan lelaki idaman.
Lindsay mengangguk paham. Dia tidak pernah memotong sedikit pun saat ketiga wanita yang lebih tua darinya tengah berbicara.
“Saranku, kalau hatimu memang yakin mencintai Aloysius. Apa lagi sudah ada calon bayi.” Alceena menunjuk perut buncit. “Cukup lupakan masa lalu, dan lihatlah ke depan untuk meraih kebahagiaan.”
“Ya, betul. Apa lagi melihat bagaimana sepupuku berusaha keras sampai rela belajar mengurus peternakanmu. Terkena kotoran dan kencing sapi. Itu sangat luar biasa. Aloysius manusia yang anti dengan hal-hal kotor begitu. Tapi, lihat dan nilai saja sendiri tekadnya.” Amabella juga harus mengompori agar tiada keraguan di hati Lindsay.
“Atau begini saja. Jika masih bingung mau menerima atau menolak, kau bisa meminta bantuan sapi-sapimu. Kalau mereka memberikan restu untuk si pemilik dinikahi oleh Aloysius, maka kau harus menjadi istri sepupuku. Bagaimana? Ide bagus, kan?” Adorabella si pencetus hal gila. Dia sembari menaik turunkan alis.