
“Antarkan aku ke makam orang tuamu. Mau menikahi putri mereka, tapi belum meminta izin. Walau sudah tiada, setidaknya aku punya sedikit tata krama.” Saat turun dari mobil dan masuk ke rumah, Aloysius meminta hal itu. Selama dekat dengan Lindsay, belum pernah sekali pun menemui keluarga sang wanita. Tak masalah dalam wujud pemakaman. Setidaknya ia tahu.
“Orang tuaku ada di dalam rumah ini.” Lindsay menunjuk ke atas, langit-langit ruangan.
Aloysius membulatkan mata dengan sedikit terkejut. “Kau bisa melihat arwah?” Jika sampai benar dijawab iya, maka fakta baru akan ia terima. Terlalu banyak hal yang belum dikenal dari sosok Lindsay. Dahulu hanya memikirkan kesenangan saja.
Si ibu hamil itu terkekeh dengan kepala menggeleng. “Tentu saja aku tidak bisa melihat arwah, ayo ikut, kalau kau memang mau melihat mereka,” ajaknya. Tangan terulur dan memperbolehkan sang pria menggandeng.
Menaiki anak tangga menuju lantai dua. Baru kali ini Aloysius ke sana. Biasanya hanya berkeliaran di lantai satu, kamar Lindsay juga di bawah. Jadi, untuk apa juga ia jalan-jalan ke atas.
Suasana memang gelap, baru terang saat lampu dihidupkan. Dari awalnya menyeramkan, kini berubah menakjubkan. Banyak lukisan terpasang di dinding seolah si pemilik rumah sangat menyukai seni.
“Semua ini dibuat sendiri atau beli?” tanya Aloysius. Ia tertahan sejenak pada salah satu lukisan. Ada anak kecil berambut pirang sedang di ladang rumput bersama puluhan sapi. Dilihat hingga meresapi, sangat mirip dengan Lindsay.
“Itu aku, Mommy pelukis. Jadi, semua hasil karyanya dipajang di lantai dua,” jelas Lindsay. Bibir tersenyum seraya jemari mengusap kanvas penuh oleh cat yang tercoret begitu indah.
“Pasti di sini banyak kenangan, ya?” tebak Aloysius. Merangkul sang wanita, memberikan usapan seolah memberi tahu bahwa Lindsay tidak lagi hidup sendiri. Ada dirinya yang akan menemani.
“Sangat. Dari kecil sampai besar, aku tumbuh di sini bersama sapi-sapi daddyku.” Mengajak sang pria untuk melanjutkan langkah kaki menuju sebuah ruangan. “Peternakan ini dibuat oleh orang tuaku sendiri.”
Semakin menyusuri lantai dua, Aloysius jadi tambah penasaran. Banyak sekali spekulasi yang kini dipikirkan. Mungkin calon mertuanya diawetkan, lalu dibiarkan tetap di dalam rumah supaya tidak bau. Atau bisa jadi ada kuburan di dalam rumah. Entahlah, ia jadi banyak menerka.
Lindsay membuka sebuah pintu. Gelap sekali, tidak ada cahaya sedikit pun. Wanita itu menekan sesuatu yang menempel pada dinding. Kini bisa melihat isi di dalam sana.
Sebuah kamar, ada ranjang berukuran besar juga. Rapi, bersih, wangi. Hanya saja tak ada penghuninya.
Alis Aloysius terangkat sebelah. Dia tidak melihat satu orang pun. Calon istriku tak halusinasi karena ditinggal meninggal orang tua, kan? Sedikit risau saja kalau sampai iya. Tapi, tetap akan diterima apa pun kekurangan Lindsay. Maklum, sudah terlanjur cinta.
“Oh, yang mana?” Tanggapi saja, daripada mengatakan tak melihat, nanti Lindsay merasa kalau Aloysius menganggap gila.
“Itu, di dalam guci.” Lindsay menunjuk dua guci di rak atas headboard.
Tersenyum kikuk, Aloysius seketika merasa bersalah dengan isi pikiran yang sempat menilai kalau calon istrinya sedikit halusinasi. “Dikremasi?”
“Iya.” Lindsay mengangguk. Dia dan Aloysius hanya berdiri di ujung ranjang. Jadi posisi mereka sejajar dengan letak guci. “Permintaan orang tuaku. Katanya kalau tiada mau dikremasi, abunya tidak dilarung ke laut atau ditanam, tapi disimpan pada kamar mereka.”
Mengangguk paham. Tapi, masih saja penasaran. “Kenapa begitu?”
Sembari menatap di mana abu mendiang orang tuanya berada, Lindsay menjawab, “Katanya, agar aku ada yang menemani. Mereka tidak berhubungan baik dengan keluarga karena menikah tanpa restu. Jadi, aku pun sampai sekarang tak tahu siapa saudara yang ku punya, dan tidak pernah mencari juga.”
Aloysius bukan tertuju pada guci, tatapannya fokus pada wanitanya. Dia tahu cerita yang dikeluarkan oleh bibir Lindsay adalah sesuatu berbau kesedihan. Siapa tahu calon istrinya berubah ekspresi wajah menjadi sedih atau menangis. Tapi, ternyata tidak. Lindsay justru mengulas senyum. “Kau tak sedih hidup sendiri?”
Menggeleng sebagai jawaban. “Sedih pun tak akan merubah keadaan, bukan? Mereka tidak mungkin hidup lagi. Jadi, cukup sekali aku menangisi ketika meninggal delapan tahun lalu.” Senyum Lindsay merekah begitu indah.
Justru Aloysius yang tersentuh. Dia berkaca-kaca seolah merasakan betapa kesepiannya Lindsay kalau sendirian. Tiba-tiba memeluk calon istri. Dengan penuh rasa sayang dan cinta kasih. “Di depan mending orang tuamu, aku berjanji akan menjadi suami yang selalu menemanimu, tidak membiarkan kau merasakan hidup kesepian, melimpahkan segala riang dan canda, tawa dan tak ku biarkan ada duka.”
Pria itu menangkup pipi kanan dan kiri Lindsay, sedikit mendongakkan wajah sang wanita, hingga kini dua pasang mata saling memancarkan keharuan yang sama. “Kau wanita yang sangat tegar menghadapi hidup. Tidak pernah mengeluh walau sesakit apa pun jalan yang ditempuh. Sementara aku, pria bodoh yang pernah menyakitimu. Betapa bersyukurnya karena hatimu sangat baik, tidak menyimpan dendam. Aku adalah pria brengsek yang beruntung bisa mendapatkan cintamu, Lindsay Novak.”
Ada lelehan air mata di wajah Aloysius. Bukan kesedihan, tapi bahagia. Bibirnya menyambar calon istri, mencium dengan penuh cinta, sayang, gairah, semua bercampur jadi satu.