Snatch My Daddy’S Wife

Snatch My Daddy’S Wife
Part 10



Lindsay mencoba untuk berdiri. Tiba-tiba berdesis saat merasakan area bawahnya perih. Ini lebih sakit dari pertama kali ia mencoba bercinta, sekitar empat tahun lalu. Orang yang sama juga si pembuatnya kesulitan. Siapa lagi kalau bukan Aloysius.


“Wah ... wah ... wah ....” Aloysius bertepuk tangan melihat ekspresi wajah wanita yang semalam ia tiduri hingga rasanya bisa terlelap nyenyak. “Bagus sekali sandiwaramu, kau sudah seperti aktris hebat, top.” Dua jempol sengaja diangkat sebagai pujian. “Sudah berkali-kali dipakai, tapi gayamu sangat menjiwai seolah baru sekali ini bercinta.” Ada seringai di bibirnya pertanda mengejek.


“Bukan karena pertama atau tidak. Tapi, kau terlalu kasar dan memaksa tanpa ada pemanasan. Sekarang lihatlah ulahmu! Aku jadi tak nyaman saat berjalan.” Lindsay menggerutu sembari melangkah hendak menuju kamar mandi ingin membersihkan diri.


“Halah ... bilang saja kau mau minta ku gendong, kan?” sindir Aloysius. Pria itu sembari memakai kemeja yang sudah tidak utuh seperti semula. Tak bisa dikancing lagi.


“Aku? Membutuhkanmu?” Lindsay terkekeh pelan dan nampak sangat geli seolah ucapan pria itu begitu menggelitik. “Kau tidak pernah menjadi seseorang yang amat ku butuhkan sampai sekarang, karena bersamamu hanya menghabiskan waktu dengan kesia-siaan.”


Aloysius diam karena usaha apa pun yang ia lakukan untuk membuat Lindsay mundur dari niat menikahi daddynya pun semuanya terasa percuma. Sudah ditiduri dengan brutal juga tetap saja teguh dengan pilihan. Bahkan sekarang mengatakan tidak butuh dirinya?


“Kau melukai egoku, Lindsay.” Kaki tanpa alas itu melangkah mendekat, satu jangkahnya sama dengan tiga kali gerakan jalan Lindsay yang seperti pinguin.


Bulu-bulu halus Lindsay mulai berdiri lagi saat merasakan kalau Aloysius ada di belakangnya. “Jangan macam-macam lagi, Alo ...!” peringatnya. Sedetik kemudian ia merasakan tubuh mendadak melayang ke udara.


“Aku hanya ingin membantumu supaya cepat sampai, mau ke kamar mandi, kan?” Aloysius tidak melirik ke bawah, tatapannya lurus tertuju di depan.


Menurunkan wanita itu, Aloysius kemudian keluar lagi tanpa bicara apa pun. Dia meninggalkan Lindsay di kamar.


“Kenapa kau keluar dari kamar Lindsay?” tanya Brennus yang saat ini tengah sarapan.


“Jangan bilang kalau ....” Belum juga selesai melontarkan tuduhan, Clemmons sudah disela oleh Aloysius saja.


“Ya ... benar apa yang kalian pikirkan,” ucap Aloysius seraya menuju meja makan. Setelah semalam mabuk dan menjamah wanita, pagi ini perut terasa seperti kosong.


“Senangnya melihat anak-anakku berkumpul lengkap seperti ini di pagi hari.” Suara itu datang dari arah depan. Delavar baru saja pulang.


Aloysius mengurungkan niat untuk duduk ketika daddynya menginjakkan kaki di mansion. Kalau memengaruhi Lindsay tidak bisa membuat pernikahan gagal, maka dia akan lakukan pada orang tuanya.


“Oh ... Daddy ... untuk apa kau pulang ke mansion? Seharusnya tetaplah di rumah sakit menjaga Mommy.” Aloysius berdiri di depan kursinya dengan kedua tangan merentang sesaat, lalu kembali menyimpan ke dalam saku celana


“Daddy hanya pulang sebentar, setelah ini balik lagi. Kalian sempatkan ke rumah sakit juga,” balas Delavar. Dia menaikkan sebelah alis saat melihat kondisi pakaian putranya amat buruk. “Kemejamu rusak?”


“Ini?” Aloysius mengibaskan ujung kemeja dengan bangga. “Semalam aku tidur dengan Lindsay, calon istrimu itu. Ternyata dia brutal juga, tidak sabaran, sampai merobek kemeja mahalku ini.”