
Aloysius baru tahu kalau ada istilah hamil simpatik. Dia sampai melakukan tes darah, CT scan, rontgen, dan berbagai macam prosedur pengecekan lainnya hanya untuk memastikan penyakitnya. Namun, hasil menunjukkan bahwa ia baik-baik saja.
Dokter yang curiga pun menanyakan apakah kekasih atau istri sedang hamil atau tidak. Kemudian dijawab iya, barulah diberi tahu kemungkinan ada kaitan dengan itu. Sebab, sakitnya terjadi ketika pagi, dan siang kembali baik-baik saja.
Mau tidak percaya, tapi Aloysius merasakan siksaan itu sendiri. Jadi, dia pasrah saja. “Mungkin anakku sedang menghukum daddynya karena perbuatanku selama ini yang kelewat batas.” Begitulah kiranya yang ia pikirkan.
Dokter mengatakan kalau memasuki trimester dua biasanya tidak akan lagi mengalami mual, pusing, malas. Tapi, nyatanya, sampai detik ini pun Aloysius masih melewati masa-masa sulit itu.
Jika dihitung, Lindsay pergi saat hamil tujuh minggu. “Berarti sekarang usia kandungannya enam bulan,” ucap Aloysius.
Pria itu menyandarkan kepala di headboard. Sekarang ia tinggal sendirian di apartemen penuh kenangan. Setidaknya ada jejak ingatan bersama Lindsay yang pernah hidup di sana bersamanya. Setiap sudut selalu mengingatkannya dengan sosok wanita itu.
Aloysius menatap langit-langit kamar. “Tolong beri aku petunjuk untuk menemukanmu. Setidaknya aku ingin menemani masa kehamilan walau tersisa beberapa bulan lagi menuju persalinan,” gumamnya.
Selama ini Aloysius tidak berhenti mencari. Meski tidak dibantu siapa pun. Dia yakin pasti akan menemukan Lindsay. Apa lagi ikatan batin dengan anaknya. Buktinya ia terkena hamil simpatik. Bukankah itu tanda bahwa anaknya sangat menginginkannya?
...........
Aloysius bangun siang sekali. Dia datang ke mansion orang tuanya karena hari ini ada penyambutan kepulangan mommynya yang sudah boleh rawat jalan sembari terus melakukan serangkaian pengobatan. Pasti di sana keluarga besar sedang berkumpul. Mungkin bisa mencari celah membujuk sepupunya supaya mau membantu.
“Maaf, aku baru datang, masih sering pusing dan mual di pagi hari,” ucap Aloysius, lalu ia melihat sofa, mencari tempat yang masih kosong. Namun, penuh semua.
“Minggir, Bre, kau duduk di bawah!” titah Aloysius, mengusir Brennus supaya mengalah. “Badanku lemas sekali.”
Semua anggota keluarga tahu tentang apa yang dialami oleh Aloysius. Tentu saja bocor dari mulut dokter kepercayaan keluarga yang mengecek kesehatannya. Jadi, Brennus yang iba pun memilih mengalah.
Aloysius langsung menghempaskan tubuh, bersandar di sofa. Dia tidak menunjukkan tenaga sedikit pun. “Kalian tak ada yang kasian denganku? Obat apa pun tidak ada yang bisa menyembuhkan. Siapa tahu bertemu Lindsay akan segera hilang mual dan pusingku ini.”
Semua mata saling melirik ke arah yang sama. Seolah menunggu apakah diperbolehkan membantu atau tidak.
Aloysius menangkap gerak gerik tersebut. Memicingkan mata pada daddynya, curiga kalau semua sudah dihasut untuk menghukumnya. “Apa aku perlu sujud dan bersimpuh di hadapan kalian? Keluarga macam apa yang tidak mau membantu menyelesaikan masalah?”
“Bukan tidak mau, tapi itu kemauanmu sendiri, kan? Meminta Lindsay pergi. Jadi, untuk apa kami membantu? Sementara kau sendiri yang berulah,” tegas Delavar.
“Aku menyesal, bagaimana lagi harus membuktikan pada kalian?” sahut Aloysius.
“Ck! Janganlah terlalu bodoh. Kau itu cucuku, gunakan otakmu sedikit untuk berpikir.” Si tetua mulai ikut bersuara, Davis mengambil sebuah susu kotak yang sejak tadi disajikan banyak di atas meja. “Minum ini supaya kau lebih pintar.” Ia melemparkan itu ke arah Aloysius, dan terjatuh tepat di paha cucunya.