Snatch My Daddy’S Wife

Snatch My Daddy’S Wife
Part 72



Aloysius menghadang pintu, tidak memberikan akses keluarganya masuk. Pokoknya televisi perlu diamankan terlebih dahulu. Itu adalah aib yang cukup menjadi tontonan kesukaan Lindsay seorang.


“Mau apa kalian ke sini?” tanya Aloysius. Kedua kaki melebar hingga menyentuh ujung bingkai pintu. Tangan kanan dan kiri juga sama. Matanya menatap tidak suka, sudah seperti tuan rumah saja.


“Main, lah ....” Adorabella yang menjawab. Wanita dengan kacamata hitam itu berdiri di belakang.


“Jauh sekali, pulang lagi, sana.” Aloysius mengibaskan tangan mengusir. Memang agak kurang ajar manusia satu itu.


Tuk!


Davis di paling depan pun memukul kepala cucunya menggunakan kepalan tangan. “Enteng sekali mulutmu bicara, punggungku sudah encok duduk terus enam jam perjalanan.”


“Salah sendiri ke sini, siapa juga yang suruh.” Bisa-bisanya Aloysius lancar menimpali sang kakek.


“Alo ....” Suara lembut dari seseorang di atas kursi roda pun membuat Aloysius bergerak mencari keberadaannya.


“Mom? Ikut ke sini?” Suara seketika melembut jika Aloysius berbicara dengan Amartha.


“Iya, ingin bertemu calon menantu dan calon cucuku.” Amartha tersenyum lembut, meminta suaminya untuk mendorong lebih ke depan supaya mendekati putranya yang menghadang jalan masuk. “Lindsay di dalam?”


Kepala Aloysius mengangguk. “Iya, baru saja tidur.” Dia menengok ke belakang, siapa tahu layar televisi mendadak mati sendiri atau berubah tak memutarkan video aibnya lagi. Sayangnya, pengaturan diubah untuk memutar rekaman CCTV saja. Jadi, mana mungkin harapannya terjadi.


“Kami tidak akan mengganggu dia tidur, bolehkah masuk?” pinta Amartha dengan penuh kelembutan.


“Em ....” Boleh-boleh saja kalau saat ini di dalam aman. Tapi, berhubung ada sesuatu yang jangan sampai keluarganya tahu, kini Aloysius terlihat berpikir. Sejak tadi mencari cara agar ada kesempatan mematikan televisi.


Jika tahu yang datang bertamu adalah keluarganya, maka akan otomatis dibawa remotnya agar tidak menyusahkan seperti sekarang.


“Boleh. Tapi, tunggu sebentar, ya? Hanya satu menit.” Aloysius itu selalu luluh kalau menghadapi wanita dengan penuh kasih sayang dan kelembutan. Buktinya ia tidak mengusir jika sang Mommy yang meminta.


“Iya, aku tunggu di sini,” balas Amartha.


“Aku ke dalam, jangan ada yang masuk tanpa izin,” peringat Aloysius. Tatapan matanya tertuju pada kakek dan pamannya yang memiliki kadar seenak jidat tinggi.


“Mau tahu saja,” sinis Aloysius. Dia hendak menutup pintu lagi.


Tapi, sayangnya Dariush sudah mencegah terlebih dahulu dengan menahan menggunakan lengan dan segenap kekuatan. “Apa? Lindsay sedang tak memakai busana?”


“Diamlah!” Aloysius dan Dariush pun saling mendorong pintu. Satu ingin menutup, dan dari luar ingin tetap membuka.


“Woi! Bantulah! Kita berbanyak, jangan mau kalah dengan si tengil Aloysius. Dia pasti menyembunyikan sesuatu di dalam.” Dariush meminta bantuan karena tenaga keponakannya sama-sama kuat.


“Del, bantu saudaramu itu!” titah Davis. “Aku sudah tua, mana bisa, yang ada menyusahkan saja.”


Delavar pun ikut mendorong pintu. Jadilah persaingan antar saudara. Hanya saja kali ini memperebutkan pintu antara tertutup dan terbuka.


“Duo Bella ... cepat masuk ke dalam dan lihat apa yang Aloysius sembunyikan, sampai kita tidak boleh melihat!” titah Dariush pada dua anak kembarnya.


“Ok, Daddy.” Si cantik pun menyusup masuk melalui celah yang lumayan lebar.


Merasa benteng pertahanan awal sudah runtuh, Aloysius pun melepaskan pintu. Membuat Dariush dan Delavar yang mendorong dengan sekuat tenaga pun jatuh ke bawah dalam posisi bertumpukan.


Kini Aloysius harus menahan sepupu agar tak semakin ke dalam. Tapi, Adorabella dan Amabella sudah sampai di pembatas ruang santai. Dua wanita cantik itu berdiri dengan mulut melongo. Kemudian mendadak tertawa terbahak-bahak dibagian sangat lucu.


“Ternyata dia menyembunyikan sebuah video,” teriak Duo Bella.


Menghembuskan napas kalah, Aloysius sudah tetangkap basah. Namun, dia harus tetap sok cool supaya terlihat keren. Walau aslinya risau jika menjadi bahan olok-olokan setiap kali kumpul keluarga.


Yang lain jadi ikut penasaran karena suara terbahak-bahak dari dalam memang terdengar sangat renyah. Dariush dan Davis paling semangat masuk karena mau ikut melihat juga.


“Video apa?” tanya Davis.


“Tidak perlu dijawab, kami sudah tahu.” Dariush menimpali.


Kini gelak tawa bukan dari satu atau dua orang saja. Tapi, keluarga Dominique sangat terhibur dengan tontonan di layar televisi. Hanya Amartha dan Diora yang masih mengulum senyum.