
“Sudah, aku menghubungi banyak pembalap mobil wanita karena pasti mereka suka race car sesuai keinginanmu. Jadi, ada satu yang bersedia menjadi teman kencanmu. Namanya—” Dakota menggantungkan ucapan tepat saat bibir menganga. Bosnya main interupsi angkat tangan agar ia diam. Sungguh tidak tepat waktu.
“Aku tak butuh namanya, yang penting orangnya datang saja.” Aloysius melepaskan setiap kancing kemeja. Dia seharian sudah bekerja walau hanya di dalam ruangan. Tapi, tetap butuh ganti dan mandi untuk menemui klien.
Dakota mematung di tempat saat terpaku oleh dada dan perut berotot bosnya. Menelan ludah akibat terbius oleh tubuh seorang Aloysius.
Menyadari sekretarisnya masih di sana, Aloysius menatap tajam. “Kau boleh pulang, kerjamu hari ini sudah selesai. Terima kasih sudah membantuku.” Tangannya mengibas, mengusir secara terang-terangan.
“Baik.” Dakota lekas berbalik dan berjalan menuju pi tu.
“Jangan lupa kau beri tahu padaku melalui pesan kalau wanita itu sudah sampai ke lokasi. Sebutkan ciri-cirinya agar aku lebih mudah mencari!” titah Aloysius sebelum sekretarisnya beranjak keluar.
Setelah menyanggupi, Dakota pun menghilang diikuti suara pintu tertutup rapat.
Aloysius pun masuk ke sebuah pintu lain yang ada di dalam ruangannya. Seperti tempat untuk istirahat, layaknya kamar, ada ranjang, almari, juga kamar mandi. Itu adalah tempat istirahat ketika ia lelah bekerja dan malas untuk pulang.
“Kenapa aku tak tinggal di kantor saja?” gumam Aloysius ketika kepala tengah diguyur shower. Seolah baru saja mendapatkan jawaban supaya tidak tinggal bersama kakek dan neneknya terus. Dia punya apartemen, tapi dahulu sering dijadikan tempatnya bercinta dan bermesraan dengan Lindsay, takut gagal melupakan wanita itu jika tinggal di sana. Terlalu banyak kenangan yang melekat.
Kantor jauh lebih bersih dari memori bersama Lindsay. Aloysius tidak pernah membawa wanita itu ke tempat kerja. Sebab, hubungan mereka sangat tertutup dan nyaris tak ada yang tahu karena jarang mengekspose kemesraan selain saat di apartemen atau hotel.
Selesai mandi, dia mengusap kepala menggunakan handuk. Lalu bersiap sebelum pukul delapan malam harus sudah berada di tempat pertemuan.
Telah berpakaian lengkap dan rapi, rambut juga dikeringkan menggunakan hair dryer. Aloysius menyempatkan untuk melihat pantulan diri di cermin. Dia tidak memerhatikan bagaimana kondisi fisik yang saat ini sedang tidak baik-baik saja. Terkesan memaksakan karena mau menyibukkan diri.
Melihat waktu menunjukkan pukul setengah delapan, Aloysius lekas keluar setelah menyisir dan menata rambut. Lorong kantornya sudah sepi, semua karyawan nampaknya sudah pulang.
Butuh waktu kurang lebih sepuluh menit untuk sampai. Aloysius tiba di sebuah hotel bintang lima. Pasti ia tiba paling awal dari klien karena masih ada dua puluh menit lagi sebelum jadwal yang disepakati bersama.
Aloysius membaca isi pesan sekretarisnya sembari berjalan masuk. Dia menghapalkan ciri-ciri yang disebutkan. Semua yang diberi tahu oleh Dakota adalah warna pakaian. Tiba-tiba sekretarisnya menghubungi dan langsung diangkat.
“Tuan, tidak perlu mencari wanita itu, aku sudah memberi tahu dia nomor mejamu. Jadi, tunggu saja dia datang.”
“Oke.” Aloysius mempercayakan semua pada sekretaris. Sejauh ini belum pernah kecewa dengan kinerja Dakota.
Sembari menunggu klien dan wanita kencannya, Aloysius menundukkan kepala dan memegang pelipis. Pusing semakin menghantam, tapi ia berusaha mengabaikan.
Mendengar ada seseorang ikut duduk di hadapannya, Aloysius pun menaikkan pandangan. Keningnya berkerut ketika yang ditangkap oleh mata adalah ... “Lindsay? Kenapa kau di sini?”