Snatch My Daddy’S Wife

Snatch My Daddy’S Wife
Part 102



Seharusnya setelah menikah itu malamnya bercinta, karena tidak ada malam pertama bagi Aloysius dan Lindsay. Tapi, kenyataannya sangat jauh berbeda. Padahal Aloysius sudah membayangkan melucuti dan mencumbu sampai ketiduran tanpa sadar. Sayangnya, sang istri sekarang sedang dikuasai oleh kaum wanita. Ditahan dan tidak boleh dekat-dekat dengannya. Sejak tadi sudah coba diajak untuk kembali ke kamar. Tapi, tidak diizinkan oleh nenek dan sepupunya. Begitupun dengan dirinya yang diajak bergurau dengan kaum pria. Segala rencana berubah seketika.


Semua telah berganti dengan pakaian yang lebih hangat. Tidak seterbuka tadi saat acara. Termasuk Lindsay yang kini sedang membuka kado dari keluarga Aloysius. Isinya sangat menunjang hal-hal berbau peranjangan. Mulai dari lingerie, vibrator yang menyerupai bentuk microphone, bikini, pengaman juga sebagai pelindung. Banyaklah, ada yang normal seperti perhiasan kalung, jam tangan.


Setelahnya mereka mengobrol. Mengalir saja. Lindsay banyak ditanya tentang kehidupan sebelum bertemu Aloysius. Kemudian wanita itu hanya diam jika tidak ada yang bertanya lagi, memilih mendengarkan. Berbicara saat ada yang mengajaknya berinteraksi saja. Dia bukan tipe orang yang selalu memiliki topik pembicaraan.


“Tentang wanita yang dicium oleh Alo, aku sudah bertanya padanya. Dia tidak ingat, jadi kau tidak perlu khawatir kalau akan ada wanita yang mengganggu,” ucap Adorabella.


“Aku tidak memikirkan lagi. Awalnya ku pikir sekretaris Aloysius, karena sempat melihat dari belakang ada kemiripan. Tapi, sepertinya aku salah duga karena Dakota tidak seperti wanita yang memiliki hubungan khusus atau menyukai Aloysius. Dia justru terlihat kesal dan membenci suamiku. Jadi, tidak perlu dibahas lagi masalah itu. Aku sudah memutuskan untuk tidak mengulas masa lalu kembali, dan fokus menata hidup ke depan,” jelas Lindsay. Maunya pembicaraan itu berakhir di sana. Cukup. Tidak mau menaruh curiga pada siapa pun, daripada salah dan berakhir hanya menjadi fitnah.


Semakin larut, akhirnya satu persatu masuk ke kamar untuk istirahat. Tidak dengan para pria yang masih setia berkumpul. Sengaja menahan Aloysius agar tidak bisa bercinta di malam setelah resmi menikah.


“Aku ngantuk, jangan halangi,” protes Aloysius seraya menepis tangan yang mencekalnya.


“Bohong terus kau. Matamu masih segar begitu.” Delavar menunjuk wajah sang putra yang tak memperlihatkan sayu atau menguap sedikit pun.


Pikiran Aloysius telah melayang membayangkan bagaimana posisi yang enak. Otak dan fokusnya tidak lagi pada obrolan. Entah apa yang keluarganya perbincangkan pun tak peduli. Bahkan saat sesi tertawa juga ia hanya ikut-ikutan tanpa paham apa yang membuat cerita menjadi lucu.


Sampai pada akhirnya waktu menunjukkan pukul tiga dini hari, barulah mereka bubar. Aloysius rasanya lega sekali bisa keluar dari penjara manusia. Kaki tak sabar langsung berjalan cepat menuju kamar Lindsay.


“Sayang ... mari kita bercumbu mesra.” Aloysius berucap lirih, nyaris berbisik. Sembari menutup pintu lagi dengan hati-hati.


Semangatnya yang membara, runtuh seketika kala melihat ranjang bukan berisi satu wanita saja. Tapi, ada tiga orang. Lindsay di tengah, lalu diapit oleh dua sepupunya.


“Pasti mereka sengaja membuatku tidak bisa menjenguk anak untuk pertama kali,” gerutu Aloysius. Bibir mencebik sebal. Hancur, segala sesuatu yang sudah dibayangkan dan rencanakan sejak awal, tidak berjalan mulus sesuai keinginannya.


Mau memindahkan sepupunya, tapi seluruh ruangan di rumah Lindsay telah penuh. Jadi, Aloysius mengalah saja untuk malam ini. Dia keluar lagi dan tidur di luar bersama para pria yang tak kebagian kamar.