
Aloysius mulai menggabungkan kalimat Mr. Grey dengan tingkah laku dan ucapan keluarganya saat itu. Mulai dari ia yang dipaksa minum susu kotak, kemudian disuruh datang ke peternakannya langsung kalau mau membeli, dan masih banyak lagi. Demi apa pun, ia tidak akan pernah menyangka bahwa apa yang dilakukan oleh keluarganya adalah sebuah petunjuk.
“Enjoy Life Farm? Istrimu sekarang sedang berada di sana?” tanya Aloysius untuk lebih memastikan lagi.
“Ya, perusahaan istriku membantu pemasaran produknya. Jadi, sekarang sedang high demand karena viral,” jelas Mr. Grey.
Aloysius mendorong tubuh ke belakang, punggung pun membentur sandaran kursi. Menghembuskan napas lemas dan pandangan mata kini kosong seolah menyesali segalanya. “Kenapa aku tidak sadar? Ternyata selama ini keluargaku sudah memberi tahu keberadaan Lindsay, hanya saja aku yang tak paham,” gumamnya sangat pelan.
“Kau berbicara padaku? Maaf, suaramu terlalu pelan, tidak dengar,” ucap Mr. Grey.
Tangan Aloysius melambai pertanda tidak. “Kita selesaikan pembahasan hari ini, sepertinya aku harus pergi ke suatu tempat,” ajaknya kemudian.
“Oke.”
Keduanya pun melakukan perbincangan serius seputar pekerjaan. Tentu membicarakan yang berkaitan dengan proyek Mr. Grey dan berhubungan dengan produk-produk yang akan disupplay oleh perusahaan Aloysius.
Rasanya ingin segera selesai supaya lekas berangkat ke peternakan milik Lindsay. Andai Aloysius memahami petunjuk dari keluarganya, pasti saat itu ia sudah menemukan wanita yang dicari. Tapi, sayangnya baru sekarang ia sadar.
Pertemuan dengan Mr. Grey pun selesai dalam waktu tiga jam. Aloysius lekas keluar setelah kliennya pergi.
“Dakota, kau tidak perlu membelikan aku Enjoy Life ke pabriknya,” ucap Aloysius saat ia keluar membawa tas dan kunci mobil.
“Kenapa, Bos? Aku dipecat?”
“Tidak, aku yang akan datang ke sana sendiri.” Aloysius pun berjalan begitu saja tanpa bertanya apakah hari ini masih ada jadwal penting atau tidak.
“Batalkan semua! Ganti lain hari.”
“Tidak bisa, kau itu pemimpin di sini, tidak ada teladannya sama sekali.” Dakota menahan tangan Aloysius agar tidak masuk ke dalam lift.
Aloysius melotot ke arah sekretarisnya. “Sudah bosan kerja?”
“Jika kau tidak melakukan pertemuan hari ini, maka perusahaan akan rugi satu juta euro. Mau diberi gaji apa karyawanmu, termasuk aku?” Dakota pun mengeluarkan kalimat paling ampuh. “Aku adukan pada kakekmu kalau perusahaan rugi akibat CEO tidak rajin bekerja.”
Berdecak, Aloysius kesal sekali. “Awas kau ya.” Dia mengurungkan niat untuk pergi. Hari itu pun dihabiskan untuk bekerja sepanjang hari.
...........
Besoknya, Aloysius bolos kerja. Masa bodoh, dia sudah tidak tahan ingin menemui Lindsay setelah tahu persis ke mana selama ini wanita itu tinggal.
Enam jam perjalanan juga tidak masalah, semua terasa cepat kalau untuk orang yang saat ini sedang mengandung anaknya.
Masih ada sisa waktu satu jam. Aloysius ingin berhenti sejenak di supermarket untuk membeli sesuatu. Mungkin coklat sebagai permintaan maaf pada Lindsay. Mana mungkin ia datang ke sana hanya tangan kosong.
Berhubung lokasi peternakan Lindsay sangat jauh dari supermarket. Jadi, dia menyempatkan menepi sejenak di lokasi yang lebih ramai penduduk.
Aloysius turun, dan hendak masuk ke dalam. Namun, kaki mendadak bagaikan dipaku dan sulit bergerak. Ia melihat Lindsay baru saja keluar dari tempat itu. “Akhirnya aku menemukanmu,” gumamnya dengan bibir tersenyum lega.