
Lindsay membawa kursi roda itu menuju mobil Mercedes Benz x-class pick up off-road yang selalu ia gunakan kalau di peternakan. Dia mengulurkan tangan ke depan Amartha. “Bisa naik sendiri? Atau aku panggilkan bantuan untuk menggendong?”
“Bisa, aku tidak lumpuh.” Amartha menggenggam tangan yang terasa menahannya agar mampu berdiri menopang tubuh.
“Ok, di bawah ada pijakannya.” Lindsay menunjuk yang dimaksud.
Amartha mengangguk, dan ia memperlihatkan kalau bisa melakukan pergerakan sendiri. “Lihatlah, aku itu mampu, hanya saja suami yang tidak mengizinkan banyak bergerak,” jelasnya.
“Aku khawatir kalau akibat kesalahanku saat berkendara, membuatmu jadi tidak bisa bergerak leluasa.” Lindsay tak akan pernah lupa siapa yang mengakibatkan sel-sel kanker Amartha menjadi aktif dan bertumbuh pesat.
“Tidak, Sayang. Tenang saja.” Amartha yang sudah duduk di dalam mobil pun mengusap pipi tirus Lindsay.
“Syukurlah.” Lindsay memegang pintu. “Aku tutup, ya.” Lalu mendorong pelan hingga rapat.
Meski hamil, tapi banyak bergerak adalah hal biasa bagi Lindsay. Angkat barang juga bukan sesuatu yang baru. Jadi, dia bisa memindahkan kursi roda ke bak belakang untuk dibawa berkeliling.
Lindsay berjalan memutari bagian belakang kendaraannya yang gagah. Saat hendak naik, tiba-tiba ada suara empat wanita berteriak dari arah rumah.
“Tunggu, kami ikut.”
Diora, Alceena, Amabella, dan Adorabella. Mereka lekas memencet remot mobil.
“Jangan pakai kendaraan biasa, nanti ban bisa selip. Apa lagi itu terlalu ceper,” beri tahu Lindsay. Kendaraan yang dibawa ke rumahnya adalah jenis sedan. Dirinya saja memilih untuk ganti karena pernah terjadi seperti apa yang ia katakan.
“Lalu, naik apa?” tanya Amabella.
“Naik mobilku. Di belakang sepertinya cukup untuk empat orang.” Lindsay membukakan pintu agar mereka masuk.
“Iya.” Mobil Lindsay itu empat pintu, tapi di bagian belakang adalah bak, bukan bagasi. Sering digunakan untuk mengangkut pakan ternak. “Coba saja.”
Meski kurang meyakinkan, tapi satu persatu ke dalam juga. Pertama adalah Diora, lalu Amabella dan Adorabella mendahului Alceena.
Setelah menutup pintu belakang, Lindsay pun menempatkan posisi di jok kemudi. Ia melihat sebentar kondisi penumpangnya. “Sudah siap?”
“Belum, ini sempit sekali diduduki empat orang.” Duo Bella merasa sesak. Tidak pernah berada pada situasi posisi seperti itu kalau naik mobil, selalu luas.
“Sudahlah, lagi pula sebentar saja perjalanan ke peternakannya, kan?” Alceena mengomeli sang anak agar tidak menggerutu terus.
“Ya ... tapi, tidak dipakai empat orang juga, Mom. Namanya menyiksa,” protes Adorabella.
“Bis saja masih bisa duduk leluasa, ini mobil bagus justru seperti kereta di negara terbelakang, harus berdesakan,” imbuh Amabella.
Alceena yang gemas oleh anaknya pun mencubit pipi Duo Bella. “Kalau begitu, sana kau duduk di bak belakang.”
“Dih ... kenapa kami? Sayang rambut yang bagus dan selalu rapi ini kalau diterpa angin,” tolak Amabella seraya menyisir surai lebatnya.
“Betul itu, lebih baik Mommy saja yang mengalah, rambut ‘kan memang sudah acak-acakan dan jarang disisir. Jadi, kalau berhamburan pun tidak masalah.” Memang dasar anaknya Dariush, orang tua sendiri pun dikerjai.
Alceena berdecak dan mencebikkan bibir. “Turunan daddymu sekali, ya ... jahilnya minta ampun.”
Memutuskan mengalah demi anak-anaknya, tangan Alceena membuat tatanan rambut Duo Bella menjadi berantakan sebelum akhirnya turun dan pindah duduk di bak belakang yang terbuka.
Lindsay pun mulai melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Hembusan angin langsung menerpa kepala penumpang paling belakang. Rambut Alceena berhamburan hingga menutupi wajah. “Untung suamiku suka yang acak-acakan seperti gembel.”