
Aloysius sampai tak menyelesaikan kalimat yang tadi, tentu kalau iya akan menjadi sebuah umpatan dan sumpah serapah untuk Lindsay. Dia justru dibuat mengalihkan pandangan pada pria yang sejak tadi tidur di sofa, daddynya. Suara yang menyela adalah berasal dari sana.
“Kau mengusir dan menyuruh Lindsay pergi?” tanya Delavar sekali lagi menggunakan nada begitu rendah tapi ketahuilah bahwa dia sedang menahan gejolak amarah supaya tidak menghajar putranya yang keterlaluan.
“Ya, kenapa? Kau tidak suka istri keduamu pergi?” Aloysius masih saja sinis. Dia belum bisa damai dan baik-baik saja pada sang Daddy.
Delavar menghembuskan napas pelan supaya menepis seluruh keinginan untuk mengamuk. Dia tidak boleh kasar pada anak, apa lagi di depan istrinya yang sedang sakit. Jadi, sembari merubah posisi menjadi duduk lebih tegak dan tatapan tegasnya bisa terpancar jelas, ia berusaha mengontrol diri.
“Kau pria bodoh, dan sialnya adalah anakku, Alo!” Tangan Delavar mengepal, mencengkeram tepi sofa untuk menyalurkan seluruh kilatan-kilatan emosi jiwa serta raga.
“Sht ....” Aloysius berdesis sembari telunjuk ditempelkan pada bibir, memberikan isyarat supaya diam. “Aku tak ingin bertengkar denganmu di depan Mommy. Setidaknya tujuanku bagus mengusir dia agar tidak menjadi duri dalam pernikahan orang tuaku. Kau saja yang main gila, bisa-bisanya menikah lagi disaat Mommy sedang kritis.”
“Apa karena itu Lindsay tidak pernah datang ke sini lagi? Terakhir kali saat dia memberikan hasil USG ini,” gumam Amartha. Padahal ia minta supaya setiap hari menjenguk, sudah dinanti juga karena ingin mengusap perut di mana cucunya berada, tapi tak pernah muncul sedetik pun.
“Mommy sudah bertemu dengan istri baru Daddy?” Aloysius justru dibuat terkejut karena orang tuanya tahu tentang Lindsay.
Kenyataan yang baru saja didengar pun berhasil membuat wajah Aloysius melongo. Dia terkejut bukan main. “Kenapa begitu? Memangnya Mommy tidak tahu kalau aku sempat menyukai Lindsay?” Entah kini Aloysius harus marah pada siapa, rasanya semua orang terlihat menyebalkan.
“Jaga nada bicaramu, Alo! Kau sedang berkomunikasi dengan orang tuamu, terlebih dia adalah wanita yang melahirkanmu!” peringat Delavar. “Jangan salahkan kami, kau seharusnya sejak awal memperkenalkan wanita yang sedang dekat denganmu. Jadi, tak akan pernah ada kejadian seperti ini.”
“Oke, aku yang salah,” putus Aloysius. Kini ia benar-benar bingung. “Coba jelaskan, kenapa Mommy bisa kenal Lindsay dan meminta dia menikah bersama Daddy?”
Amartha meraih tangan putranya, menggenggam penuh kelembutan. “Ceritanya panjang, yang pasti aku meminta hal itu karena takut kalau mati duluan dan daddymu kesepian.” Ia tidak akan menceritakan tentang insiden kecelakaan. Melihat Aloysius memiliki emosi yang menggebu, membuatnya tidak yakin kalau anak itu bisa menerima dan memaafkan Lindsay. Jadi, lebih baik tidak perlu tahu tentang detail kecelakaan yang menimpa dirinya.
“Iya, paham. Tapi, kenapa Lindsay?” tanya Aloysius. Sekarang yang ia permasalahkan adalah calonnya. “Mengapa bukan orang lain?” Mungkin karena ia kecewa akibat wanita itu hamil, tapi bukan anaknya.
“Sekarang ku balas bertanya. Setelah tahu ide pernikahan itu adalah dari mommymu, kenapa kau mempermasalahkan Lindsay? Memang ada masalah apa dengan wanita itu?” Delavar kini balas menantang, dia harus melihat seberapa dalam dan sadar putranya tentang perasaan sendiri.