
Aloysius melongo ketika mendengar tugas pertamanya. Mau protes tapi nanti dikira tidak bisa menepati omongan. Jadi, ia terima saja.
Sepanjang perjalanan, Aloysius tak hanya melewati hamparan rumput, tapi juga bangunan yang berjumlah banyak dengan layout rapi. “Daripada kita di dalam mobil hanya diam, bisa kau jelaskan padaku apa saja fungsi bangunan yang ada di sini?”
“Em ... sudah seperti tour guide saja,” kelakar Lindsay. Ia menutup wadah yang sudah kosong.
“Anggap saja aku turis yang sedang belajar di peternakanmu.” Telapaknya mengusap puncak kepala Lindsay. “Tapi tamu special.”
“Tamu? Kau lebih cocok menjadi penguntit,” ejek Lindsay. Kini kekehannya lebih terlihat dibandingkan kemarin. Sekarang tak segan lagi menunjukkan bahagia.
“Oke, aku akan beri tahu satu persatu.” Lindsay pun menunjuk tiap bangunan, menjelaskan fungsinya. Mulai dari pabrik, kantor, gudang, asrama karyawan, kantin. “Dan kandang sapinya ada dipaling ujung.”
Aloysius menyimak sembari mengangguk. “Ternyata kau kaya juga, ya.”
“Hm ... tidak seberapa, tapi sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan lima ratus karyawan dan diriku sendiri.”
“Pantas saja kau tak pernah meminta uangku sejak dahulu, ternyata tanpa meminta pun sudah membeludak.”
“Makanya, jangan sombong memamerkan kekayaanmu. Belum tentu juga aku tergiur.” Lindsay menjulurkan lidah sebagai ejekan.
“Kalau sedang tak berkendara, sudah ku sesap lidahmu yang mengejek itu,” ancam Aloysius, menoel dagu sang wanita.
“Mesum terus pikiranmu, lihat itu rambut sampai keriting.” Lindsay semakin membuat rambut Aloysius jadi tak beraturan dengan mengacak-acak.
Aloysius menggenggam tangan wanita yang amat dicintai agar berhenti membuatnya porak poranda. Bukan hanya rambut, tapi hati juga. “Hanya denganmu, wanita lain lewat.”
“Di depan sana, berhenti, sudah sampai kandang.” Setelah memberi tahu, Lindsay pun menarik tangannya agar berhenti digenggam.
Wanita itu turun mendahului saat kendaraan sudah berhenti sempurna. Berjalan meninggalkan Aloysius. Padahal ia sudah melupakan kejadian saat melihat pria itu berciuman dengan wanita lain, mendadak jadi teringat lagi.
“Hei ... tunggu aku,” pinta Aloysius. Ia berlari dan menggandeng tangan sang wanita supaya tak buru-buru. “Pelan saja, ingat kau sedang hamil.”
Lindsay hanya tersenyum. Keduanya disambut oleh Andrew yang baru saja datang juga menggunakan mobil pick up.
“Yakin orang sepertimu mau bekerja di tempat seperti ini?” Andrew ini piawai sekali kalau urusan memprovokasi.
“Jelas, menjadi peternak? Pekerjaan yang sangat mudah.”
“Jangan banyak bicara, kita buktikan saja.” Andrew menepuk punggung Aloysius. “Ayo ke dalam.”
Dua pria itu pun berjalan dengan aura permusuhan terpancar jelas. Baru juga memijakkan kaki di pintu masuk, Aloysius langsung menutup hidung. “Bau sekali, shitt!” umpatnya.
“Mau pulang saja?” tawar Lindsay. Dia ingin melihat seberapa bulat tekat pria itu. Menghadapi hal yang tak pernah dan tidak mungkin dilakukan oleh keturunan Dominique.
“Tentu tidak, mau setumpuk kotoran sapi pun akan ku lewati demi mendapatkan cinta pemiliknya.” Aloysius berusaha menepis rasa risi yang bergejolak.
Sejak datang ke peternakan itu, segala hal yang dilakukan adalah kali pertama. Mulai jadi kuli panggul, sekarang membersihkan kotoran sapi. Tapi, tak masalah, yang penting bisa membujuk Lindsay agar menerima ajakannya menikah.
“Ini, kau serok kotorannya dan masukkan ke dalam sana agar terolah menjadi pupuk.” Andrew memberikan sebuah alat dengan ujung melebar pipih dan terbuat dari besi.