
Pernikahan akan berlangsung di halaman rumah Lindsay. Bangunan lantai dua yang berdiri sendiri itu dikelilingi oleh hamparan rumput yang begitu luas. Jadi, tidak perlu pusing memikirkan menyewa tempat hanya untuk menikah. Apa lagi calon mempelai wanita sangat sederhana.
Semua bergotong royong untuk membantu dekorasi. Dilakukan oleh seluruh keluarga besar Aloysius, dan dibantu karyawan Lindsay.
Kini area yang tadinya hamparan rumput biasa pun telah tersulap oleh sedikit bunga. Identik warna putih. Tidak ada kursi, semua yang hadir dan menyaksikan bersatunya Lindsay dan Aloysius harus berdiri. Maklum, tak ada acara sewa menyewa satu barang pun. Mengandalkan apa yang ada di sekitar sana. Lagi pula sekarang musim dingin, mana mungkin terlalu lama berada di luar, bisa menggigil jika membiarkan tubuh berpakaian gaun yang tak hangat itu diterpa oleh angin.
Aloysius sudah siap berdiri di depan, menanti mempelai wanita datang. Dadanya berdebar riang. Tidak menyangka bahwa hari di mana ia akan melepaskan kebebasan pun datang.
Mempelai pria berstelan putih tulang itu menarik dua sudut bibir kala wanita yang akan diperistri mulai berjalan ke arahnya, seorang diri. Lindsay keluar dari pintu rumah.
Gaun yang membalut tubuh Lindsay juga nampak serasi dengan kesederhanaan konsep pernikahan itu. Model yang kuno, masih berlengan panjang, rok bagian bawah mekar tanpa ada kain panjang yang menyapu di bagian belakang. Polos tanpa banyak pernah pernik yang identik dengan kesan mewah. Jika melihatnya, pasti cocok dengan sebutan gadis desa.
Pernikahan itu dihadiri oleh karyawan Lindsay yang khusus hari ini diliburkan, dan keluarga besar Aloysius. Mereka menatap ke arah yang sama, kedatangan mempelai wanita. Namun, mendadak alis terangkat sebelah secara bersamaan ketika ada seorang pria mendekat.
Andrew, dia tiba-tiba menghampiri Lindsay, lalu mengandeng lengan. “Izinkan aku mengantar dan menyerahkan kau pada calon suami. Setidaknya, aku menepati janji dengan cara memberikanmu pada pria yang sudah dipilih dan yakin bisa membuatmu bahagia sepanjang waktu,” pintanya.
Sementara Aloysius tetap tersenyum. Andrew sudah izin semalam. Jadi, dia tahu kenapa calon istri bergandengan di depan mata.
Semakin mendekat, dua calon mempelai pun berdiri saling berhadapan. Andrew masih berada di samping Lindsay. Dia akan berdialog untuk terakhir kali. Melepaskan wanita yang ternyata memang bukan untuk dimiliki.
“Aloysius Finlay Dominique, Lindsay tidak memiliki siapapun di dunia ini. Dia sendirian, mungkin terkadang juga merasa kesepian walau sering ditahan dan tak pernah diungkapkan.” Andrew menjeda sejenak. Ada nyeri di hati, tapi juga merasa haru. Mata sampai berkaca-kaca dengan suara sempat sedikit bergetar. “Ku serahkan wanita di sampingku ini untuk kau nikahi, bahagiakan dan temani selalu sampai akhir hayat. Jika tidak mampu, maka kau bisa mengembalikan padaku.”
“Jangan meremehkan, aku bisa melakukan semua itu,” ucap Aloysius pongah.
“Bagus. Janjiku pada mendiang orang tuanya, mungkin bisa kau lanjutkan. Ku percayakan Lindsay padamu. Jadi, tolong jangan kecewakan dengan menyia-nyiakan wanita ini,” pinta Andrew.
Mempelai pria mengangguk paham. “Iya, sudah cepat, berikan tangan Lindsay padaku.” Aloysius mengulurkan tangan, merusak suasana yang sedang haru saja.
Tidak bermaksud begitu. Tapi, Aloysius sedang waspada sebelum salju turun. Ini adalah hari perkiraan dari BMKG. Jadi, dia harus buru-buru mengucap janji selagi belum ada butiran putih mulai menyelimuti hari bahagia.