Snatch My Daddy’S Wife

Snatch My Daddy’S Wife
Part 39



Aloysius buru-buru pergi dari rumah sakit. Sepasang kakinya nampak berlari dengan ritme tergesa. Di tangan masih memegang kertas hasil UDG Lindsay yang awalnya dikira adalah calon adik, ternyata anaknya. Oh sungguh ia merasa bersalah karena tidak tahu tentang kehamilan itu. Juga sempat berpikir buruk terus.


Seharusnya saat di Badan Kependudukan saat itu, langsung bertanya apakah pernikahan dilangsungkan atau tidak. Dia mempercayai begitu saja. Lalu terlanjur merasa patah hati dan menjadi manusia paling tersakiti.


Ditambah terakhir kali Aloysius merasa kelewatan juga, mengusir Lindsay secara kasar. Bahkan tidak sadar kalau saat itu sudah ada calon anaknya di dalam perut wanita yang ia cumbu secara kasar dan tidak bermoral.


Aloysius naik taksi karena tak tahu mobilnya di mana, mungkin masih di tempat terakhir kali ia pingsan. Dia memberi tahu alamat yang harus dituju, mansion orang tuanya. Siapa tahu Lindsay masih di sana.


Duduk di belakang dengan resah dan harap-harap cemas, Aloysius sembari memandang kertas kecil yang menunjukkan gambar di dalam rahim Lindsay. “Semoga kalian belum pergi, ku harap dia tidak menuruti permintaanku supaya menghilang selamanya.”


Untuk pertama kali Aloysius menyesal telah meminta seseorang menjauh. Patah hati dan larut oleh rasa sakit ternyata membutakan segalanya.


Laju taksi jadi terasa amat pelan, membuat Aloysius tidak sabar. “Bisa tolong lebih cepat lagi? Aku sedang buru-buru!” pintanya.


“Tidak bisa, ini adalah batas maksimal dari standar operasional perusahaan. Kalau melebihi, nanti saya mendapatkan sanksi,” tolak supir itu dengan sopan dan penjelasan masuk akal supaya bisa diterima oleh penumpang yang lumayan menyebalkan.


Aloysius menghembuskan napas kasar seraya menyandarkan punggung. “Aku bayar lebih, bagaimana?”


Namun, supir tetap menggelengkan kepala. Akhirnya Aloysius menendang bagian belakang jok karena kesal. “Sedang darurat, tidak pengertian sekali.”


Tapi, harapan tidak selalu sejalan dengan kenyataan. Nomor Lindsay tak aktif, yang menjawab justru operator.


Semakin dibuat gelisah saja Aloysius. “Jangan bilang kalau dia juga pergi dari mansion.” Kaki pria itu sampai tak bisa berhenti begerak.


Setelah melewati perjalanan yang terasa lama, padahal sebenarnya hanya lima belas menit, sampai juga di depan mansion. Aloysius segera membayar dengan uang non tunai. Turun, dan ia lupa tidak menutup pintu taksi lagi karena langsung berlari masuk ke dalam.


Meski perasaan tidak enak, namun Aloysius tetap mau memastikan apakah Lindsay di sana atau tidak. Ia menuju kamar di mana wanita itu menginap.


“Lindsay?!” panggil Aloysius dengan suara berteriak. Sudah seperti orang yang tinggal di hutan saja dia, memanggil harus berintonasi tinggi.


Tidak ada sahutan sedikit pun. Bahkan ketika membuka pintu, ternyata sudah kosong. “Lindsay Novak?” Tetap saja dia semakin ke dalam, memastikan isi almari apakah masih ada pakaian wanita itu atau sudah bersih.


“Shitt!” umpat Aloysius seraya menjambak rambut frustasi. “Dia sungguh pergi.”


Tidak berlama-lama di sana, ia keluar lagi. Tepat berpapasan dengan seorang pelayan, kesempatan untuk bertanya. “Wanita muda seusiaku yang sering menginap di sini, kau tahu dia di mana?”


Pelayan itu menggeleng. “Maaf, Tuan. Nona Lindsay telah meninggalkan mansion ini sejak tiga atau empat minggu yang lalu. Jadi, memang sudah lama tidak pernah menginap lagi. Mansion juga kosong terus karena semua orang tidak pulang.”