Snatch My Daddy’S Wife

Snatch My Daddy’S Wife
Part 57



Suasana sedang cocok kalau romantis, berdua, di dalam rumah tanpa ada pengganggu. Waktunya Aloysius mencuri-curi untuk bermesraan. Sudah lama tidak mendempel terus pada Lindsay.


Kedua tangan Aloysius meraih pundak sang wanita, merubah posisi supaya menghadap ke arahnya. Dia memaksa pandangan sosok itu agar terarah padanya dengan menahan dagu. Tatapannya pada Lindsay begitu dalam, lekat, penuh kerinduan, cinta, hasrat.


“Ciuman, yuk?” ajak Aloysius. Padahal bisa saja langsung menyosor. Tapi, dia ingin melakukan french kiss yang melibatkan belitan lidah. Bisa saja mendapatkan tamparan atau penolakan jika Lindsay tidak mau atau terkejut oleh aksinya yang dadakan.


Sepertinya Lindsay bisa awet muda kalau bersama Aloysius yang seperti ini. Menggemaskan, lucu, demi apa pun ... bagaikan memiliki bayi besar.


“Kalau aku tidak mau?”


“Tentu saja akan aku paksa sampai bibirmu menerima.” Jempol Aloysius mengusap bibir tipis yang sejak tadi menggoda dan melambai minta disesap.


“Lantas untuk apa kau meminta izin? Jika pada akhirnya tetap memaksa?”


“Formalitas saja.” Aloysius menyengir, perlahan mendekatkan wajah dan siap menumpahkan segala keahliannya dalam mencumbu Lindsay.


Namun, saat bibir nyaris saling bersentuhan, tiba-tiba ada orang yang mengetuk dari luar. Otomatis dada Aloysius didorong oleh Lindsay.


“Sepertinya Andrew dan karyawanku sudah datang,” ucap Lindsay. Ia berjalan meninggalkan pria itu begitu saja.


Aloysius meninju udara sembarangan. “Shitt! Mengganggu saja pria tengik itu,” umpatnya dengan seluruh kekesalan yang memuncak. “Dasar tidak tahu situasi, sebentar lagi aku berhasil mencium Lindsay.”


Gagal sudah french kiss yang telah Aloysius bayangkan. Dia menyusul Lindsay keluar, dan tatapan penuh rasa tak suka pun dilayangkan pada Andrew saat ia telah berada di luar.


“Fuckk you!” Kedua jari tengah Aloysius diangkat dan ditunjukkan pada Andrew.


Berbicara dengan pria itu membuat Aloysius selalu kesal. Lebih baik dia dekat-dekat dengan Lindsay saja. Sengaja melingkarkan tangan kekarnya ke pinggul sang wanita.


“Alo ... geser sedikit, masih luas tempat yang kosong,” pinta Lindsay seraya menggerakkan tubuh agar pria itu tidak terlalu mendempel. “Jangan membuat aku menjadi bahan tontonan karyawan sendiri,” bisiknya kemudian.


“Memangnya kenapa? Biarlah mereka melihat dan tahu kalau kau adalah milikku.” Aloysius justru kian merapat, tak segan-segan mengecup pipi Lindsay di depan semua orang.


Karyawan peternakan itu tidak pernah ada yang tahu siapa sosok pria yang dekat dengan pemilik Enjoy Life Farm. Justru tahunya malah Andrew karena sering terlihat bersama. Maka dari itu kini Aloysius menjadi pusat perhatian di sana. Apa lagi kemesraan yang diumbar begitu saja.


Lindsay menghembuskan napas, percuma, dia memilih untuk mengalah dan membiarkan Aloysius melakukan sesuka hati.


“Kalian boleh ambil sesuka hati, sesuai kebutuhan, yang penting jangan sampai ada yang terbuang,” ucap Lindsay.


“Oke.”


Saking banyaknya barang, mereka sampai membawa kantung sendiri-sendiri agar bisa muat menampung banyak.


“Andrew, kau juga boleh ambil.” Lindsay mempersilahkan pria yang sejak tadi hanya berdiri.


“Iya, silahkan, aku tidak akan pelit juga, toh uangku banyak. Kalau kurang, nanti ku belikan lagi.” Aloysius menimbrung, lebih tepatnya mengejek.


“Nanti saja, aku terakhir, biarkan mereka dahulu,” ucap Andrew.


Saat semuanya asyik mengambil satu persatu barang, ada karyawan yang menyeletuk sembari mengangkat sebuah bungkus. “Ada tisu magic, kondomm, dan pelumas. Apa ini juga untuk kami?”