Snatch My Daddy’S Wife

Snatch My Daddy’S Wife
Part 63



Kalau bukan karena merasa dirinya kotor, mana mungkin Aloysius mau mandi sehari dua kali. Apa lagi ketika udara dingin begini. Walau menggunakan pemanas air, tapi tetap saja lebih baik sekali karena saat winter jarang keluar keringat.


Berhubung tidak mau membuat wanita pujaan hati mengambil jarak akibat jijik dengan bau badan, lebih baik ia masuk ke dalam kamar mandi.


Begitu juga dengan Lindsay yang tadi masuk rumah langsung ke kamar untuk membersihkan tubuh. Namun, ia sudah keluar lebih cepat dari Aloysius.


Melihat jarum jam terlebih dahulu, ternyata waktu telah sore. Pantas saja langit gelap saat tadi perjalanan kembali ke rumah. Saat winter, matahari terbit lebih lama dan terbenam cepat. Untung saja ini masih awal dan belum turun salju.


Lindsay mendekati kamar tamu di mana ia persilahkan Aloysius menginap di sana. Mengetuk sebanyak tiga kali. “Mau makan apa, Alo? Seharian kau belum mengisi perut,” tawarnya dengan sedikit berteriak.


Tidak mendapatkan tanggapan apa pun, akhirnya Lindsay sedikit membuka pintu dan mengintip. Memastikan terlebih dahulu apakah Aloysius dalam kondisi berbusana atau tidak. Ternyata kosong. “Sepertinya dia masih mandi.”


Lindsay pun berani ke dalam, mengetuk sebuah pintu lagi. “Alo?”


“Ya?” Suara pria itu menggema dari dalam.


“Aku mau buat makan malam, kau ingin apa?”


“Kau yakin menawari aku?”


“Ya. Sebagai tanda terima kasih karena hari ini kau sudah membersihkan kandang sapiku.”


Keduanya berinteraksi dengan suara saling berteriak supaya bisa terdengar satu sama lain. Merasa lelah berbicara nada tinggi, Aloysius pun secara dadakan membuka pintu.


Membuat Lindsay melongo melihat penampilan pria yang kini tanpa sehelai benang pun. Masih ada busa juga dari ujung kepala hingga kaki.


Aloysius menyeringai, lalu meraih pinggul sang wanita dan cukup diusap. “Aku mau memakanmu sebagai santapan malam, boleh?”


“Kau mau menggigit aku? Membumbui aku dengan garam, merica, kecap, dan sebagainya?” Lindsay menepis tangan kekar yang berhasil menghantarkan sengatan listrik di sekujur aliran darah.


“Tentu tidak, aku hanya akan membumbui dengan cinta, peluh, dan desah.” Mengucapkan kalimat itu dengan sangat sensual, seraya jemari membelai tubuh Lindsay sebagai rayuan.


“Terserah, apa saja. Mie instan juga boleh.” Aloysius disuruh berpikir mau makan apa? Jelas dia tidak pernah memiliki jawaban pasti. Terlalu bingung karena tak ada keinginan spesifik.


“Huft ... sangat tidak membantu.” Padahal Lindsay juga tengah pusing ide memasak, maka bertanya saja. Ternyata justru semakin tersesat. “Ya sudah, kau lanjutkan lagi, aku akan ke dapur supaya selesai mandi bisa langsung makan.”


Sesantai itu Lindsay walau ada pria tanpa pakaian di depan mata. Ia sudah biasa melihat Aloysius seperti itu. Jadi, tak terlalu heboh. Toh bentuknya sama, tak ada yang berubah dari atas sampai bawah. Hanya bagian di pangkal paha saja sedang mengkerut.


Aloysius mencekal pergelangan Lindsay yang hendak beranjak. Seakan belum rela membiarkan wanita itu pergi.


“Apa lagi?” tanya Lindsay. Dia tahu betul sorot mata yang kini dipancarkan padanya, memohon bantuan.


“Tolong gosokkan punggung.” Aloysius meringis tak berdosa. “Kau tahu sendiri kalau aku tidak bisa menekuk tangan sampai ke belakang karena otot-otot di lengan ini. Jadi, agak sulit kalau tidak ada bantuan. Di sini juga tak ada alat untuk menggosok seperti yang biasanya aku pakai.”


“Alo ... Alo ... dari dulu sampai sekarang tidak pernah berubah.” Lindsay pun tak jadi pergi. Dia ikut masuk ke dalam kamar mandi. “Jangan iseng, ya? Daripada ku usir pergi dari rumah,” peringatnya sebelum Aloysius macam-macam.


“Sekarang jadi galak sekali setelah hamil.” Aloysius sempat-sempatnya mengusap perut Lindsay yang tercetak jelas buncit karena sedang memakai kaos ketat.


“Hadap depan.” Lindsay memutar tubuh pria itu agar memunggunginya.


Menekan botol sabun hingga cairan berada di telapaknya, Lindsay pun mulai membersihkan punggung. Pelan dan lembut, lalu sedikit digosok agar lebih bersih. Dia seperti sudah biasa melakukannya. Memang, dahulu ketika mereka masih dalam masa hubungan tanpa status, pasti Aloysius minta mandi bersama hanya untuk hal itu. Ada juga kegiatan lain yang tak lain adalah bercinta.


Jika diingat, dahulu memang mereka sebahagia itu. Awalnya Lindsay tidak mempermasalahkan status. Tapi, semenjak melihat pria itu seenaknya dengan berciuman bersama wanita yang sampai sekarang masih penasaran siapa orangnya, mendadak merasa kecewa dan terbesit kemauan untuk diperjelas agar ia ada hak untuk marah kalau Aloysius melukai perasaan, kepercayaan, dan kesetiaannya.


Meski begitu, sampai sekarang Lindsay tak pernah bertanya. Dia menunggu kesadaran Aloysius untuk bercerita.


“Selesai.” Tak terasa Lindsay telah membersihkan dari bahu yang lebar hingga pinggul. Ia lekas membasuh tangan agar tidak ada busa yang tersisa.


“Lihatlah betapa aku ketergantungan denganmu, mandi saja butuh pertolongan. Jadi, tolong pikirkan baik-baik ajakan menikah denganku,” ucap Aloysius ketika Lindsay mulai meninggalkan kamar mandi.