
Baru pertama kali ini Aloysius melakukan pekerjaan kasar, atau lebih tepatnya berat. Dia sering angkat barbel jika sedang gym. Tapi, itu dilakukan dalam posisi kaki tidak bergerak. Berbeda dengan saat ini yang perlu ke sana ke mari dan membawa tiga kardus isinya berat sekali.
Otot-otot di seluruh lengan Aloysius sampai menonjol semua. Dia tidak lagi banyak bicara karena sekarang sedang kelelahan. Demi apa pun, menjadi kuli panggul tak pernah ada dalam daftar riwayat hidupnya.
Hanya karena tidak mau terlihat kalah dari Andrew, Aloysius melakukan semuanya. Pokoknya dia harus yang paling unggul dan bisa mengambil perhatian Lindsay. Pria lain lewat, kalau perlu ia tendang sampai ke ujung dunia.
“Cih! Cuma kuat mengangkat tiga kardus?” ejek Andrew. Wajahnya sangat meremehkan, apa lagi senyum yang nampak sinis itu.
Berhasil membuat seorang Aloysius melotot dan menggerutu. Baru kali ini juga ada orang lain yang berani meremehkan keturunan Dominique. Tentu tidak terima. “Memangnya kau kuat berapa? Hanya empat.” Balas sinis. “Lihat aku, akan bawa lima sekaligus.”
Dengan penuh percaya diri, Aloysius minta lima kardus diletakkan ke atas tangannya yang jemarinya sudah saling mengunci. Wajahnya seketika berubah menjadi seperti orang menahan ingin buang air besar.
“Shit! Isinya apa saja ini? Semakin berat.” Bebannya tidak seringan tadi. Tapi hanya bisa bergumam pelan, nanti diremehkan lagi.
Andrew cukup melipat kedua tangan di dada dan melihat Aloysius bergerak kesusahan. “Ternyata seorang bos tidak bisa melakukan pekerjaan kasar.”
“Kau bisa diam, tidak?! Jangan mengganggu konsentrasiku!” Aloysius geram sekali. Andrew cerewet bukan main.
Bahkan untuk melihat jalan saja susah. Aloysius sampai harus bergerak menyamping supaya bisa melihat jalan. Masih harus mendengarkan ocehan sialan dari mulut Andrew. Rasanya ingin ia jahit mulut pria itu.
“Sudah, Andrew. Kau jangan menggodanya terus,” tegur Lindsay seraya menepuk pundak pria yang ia ajak bicara.
Aloysius sampai ngos-ngosan setelah berhasil mendaratkan kelima kardus tadi. Ia menatap Lindsay dengan sorot sengit karena terlalu dekat Andrew.
“Sebentar.” Lindsay bergerak masuk ke dalam.
Kemudian Andrew hendak menyusul. Tapi, Aloysius yang melihat gerak-gerik itu pun segera menghadang. “Kau harusnya sadar diri, Bung.” Dia sedikit mendorong dada Andrew. “Lindsay sedang mengandung anakku, jangan berharap lebih.”
“Mengandung anakmu, tapi aku yang selama ini menemaninya di sini.”
Tangan Aloysius mengepal kuat. Sialan sekali lawannya, tidak bisa ditumbangkan secara mudah.
Tak berselang lama, Lindsay pun keluar membawa dua minuman kaleng. Ia mengulurkan satu pada Aloysius, dan Andrew.
“Dia unta, tidak butuh minum.” Aloysius mengambil kedua minuman itu dan membuka, lalu meneguk langsung.
Lindsay mengulum senyum lagi melihat tingkah kekanakan Aloysius. Dia ingin mengatakan kalau pria itu terlihat menggemaskan ketika cemburu. Tapi, urung karena tak ingin memperlihatkan secara jelas bahwa hati sangat menyukai Aloysius.
Andrew sebatas bergeleng kepala, ia memilih melanjutkan memindahkan kardus setelah istirahat sebentar.
Sementara Aloysius masih berdiam diri di hadapan Lindsay. Sembari minum, ia menatap wanita itu terus, walau Lindsay tidak menghadap ke arahnya.
Karena merasa tidak diperhatikan, Aloysius pun mendaratkan sebuah kecupan di bibir Lindsay. “Ayo semangati calon suamimu, aku akan kembali menjadi kuli panggul.”