
“Dariush mana? Dariush ...?” Aloysius memanggil nama pamannya yang tidak kelihatan di lokasi. Padahal sudah siap mau pengucapan janji, tapi orang yang mengajak taruhan justru menghilang. “Jangan sembunyi kau, Dariush! Cepat keluar dan bawa sapi seratus. Aku mau menikah sekarang. Saksinya banyak kalau keponakanmu ini menikah sebelum salju pertama turun.”
“Pergi orangnya. Tadi menelepon seseorang, lalu sekarang entah ke mana. Di dalam rumah juga tidak ada,” jelas Alceena.
Aloysius berdecak dengan bibir mencebik. “Pokoknya kalian saksinya. Aku yang menang taruhan. Oke?” Dia menggandeng calon istri untuk menghadap seseorang yang akan meresmikan pernikahan mereka.
Diminta saling berhadapan. Aloysius sangat semangat dan senang sekali. Sensasi menang taruhan itu luar biasa. Sejak tadi dia berdebar karena hari yang ditunggu tiba, mau menikah, sekaligus penentuan pemenang taruhan.
“Aku—” Saat Aloysius hendak mengucapkan janjinya, tiba-tiba ada puluhan truk masuk ke ladang rumput. Dia menjeda sejenak untuk melihat siapa yang mengacaukan hari penting. Seharusnya menjadi momen paling sakral di sepanjang hidupnya. Tapi, terganggu oleh deru mesin.
Tak lama ada seorang pria turun dari salah satu kemudi truk. Dariush. “Apa aku terlambat?” tanyanya sangat santai.
“Belum, itu sapinya? Sudah siap?” Aloysius yang menanggapi.
Pernikahan itu bukan terjadi karena adanya taruhan. Memang keinginan Aloysius. Hanya saja ia sangat semangat untuk menambah sensasi. Euforia yang didapat pasti semakin berlipat.
“Hm ... seratus sapi sesuai janji.” Dariush meminta agar salah satu truk dibuka, lalu menurunkan sepuluh sapi.
Hewan ternak gemuk berwarna putih itu telah dihias menggunakan pita. Dariush memegang salah satu tali dan membawa sebagai jaminan atau nanti tanda serah terima.
“Ok, Bonsai. Jika kalian berdua selesai mengucapkan janji, lalu dinyatakan sah, maka seluruh sapi ini menjadi milikmu.” Dariush menepuk kepala hewan yang ada di sampingnya. “Sapi ini akan ikut menjadi saksi.”
“Ya ini mau aku lakukan. Kau datang membuat prosesnya terjeda.”
Aloysius pun kembali menghadap sang wanita. Saling menggenggam satu sama lain. Menarik udara memenuhi paru-paru. Dia ucapkan kalimat sakral yang akan mengikat seluruh hidupnya.
“Di depan seluruh saksi yang hadir di sini, Aku, Aloysius Finlay Dominique, menikahi engkau, Lindsay Novak, untuk menjadi istriku dal—” Dia lagi-lagi menjeda karena merasakan ada butiran putih yang jatuh ke tangannya. Mendongak untuk memastikan, ternyata salju pertama turun.
“Woi ... bisa dijeda sebentar tidak? Turunnya satu menit lagi. Biarkan kami selesai mengucapkan janji.” Aloysius berteriak. Namanya juga manusia yang selalu ingin menang.
Orang yang hadir di sana pun terkekeh mendengar suara frustasi dari mempelai pria. Seharusnya menjadi acara paling serius. Tapi, ternyata diselimuti oleh canda dan riang tawa.
“Sudahlah, lanjutkan saja. Seperti tak mampu beli sapi seratus saja kau itu.” Delavar mengomel. Gemas dengan putra sendiri yang terobsesi menang taruhan.
Saling mengucapkan janji satu sama lain, akhirnya Aloysius dan Lindsay pun dinyatakan resmi menjadi suami istri. Keduanya diminta saling bertukar cincin.
Sepasang sudah terpasang, saatnya berciuman. Tapi, mempelai pria menahan. “Sebentar, masih ada cincin yang belum dipasangkan.” Dia mengeluarkan dari saku, lalu membuka sebuah kotak perhiasan berisi cincin couple.
Alis Lindsay terangkat satu. “Kenapa ada dua?”
“Satu pilihanmu, yang ini aku. Jadi, supaya adil, ku beli semua, dan kita pakai bersama.” Aloysius menyengir, lalu memasukkan cincin ke jari manis sebelah kanan yang masih kosong.
Mempelai wanita hanya bergeleng melihat kelakuan suaminya. Sifat memang sulit dirubah. Tapi setidaknya dengan Aloysius selalu merasakan bahagia dan banyak saudara. Ia pun memakaikan perhiasan itu ke jari manis suami sebelah kanan.
Time to kiss. Aloysius paling bersemangat, menangkup kedua pipi istri, perlahan tangan kanan turun ke leher belakang. Pria itu mendorong kepala ke depan, berhenti di jarak dua ruas jari. Membiarkan hembusan napas hangat menerpa kulit yang mulai merasakan dingin.
“Salju pertama di tahun ini menjadi saksi bersatunya cinta kita. Setiap kali musim dingin, akan selalu menjadi kenangan manis yang tidak pernah terlupa. Lindsay Novak Dominique, kau adalah wanita yang sanggup meruntuhkan egoku, membuatku tidak lagi merasakan bahwa hidup bebas itu bahagia, karena ternyata bersamamu jauh lebih banyak makna.”
Aloysius tidak memberikan waktu untuk istrinya membalas kalimat manis. Bibirnya sudah gatal mau mencumbu di depan semua orang. Agar semua tahu bahwa mulai detik ini mereka saling memiliki satu sama lain.
Lidah begitu lihai membelai, menarik dengan penuh gairah dan bahagia. Aloysius begitu menikmati, melupakan sejenak bahwa udara mulai semakin dingin diiringi salju yang turun bukan sekadar rintik halus, namun kini semakin berdatangan dalam koloni yang banyak.
Rasanya syahdu, menikah diwarnai oleh salju. Lindsay tak pernah menyangka itu. Tapi, Aloysius memang sengaja memilih hari di mana perkiraan dari BMKG karena rencananya ingin setelah janji selesai, kemudian salju turun supaya menjadi pengganti konveti. Tapi, sudahlah, meleset sedikit dari perkiraannya. Tetap terasa seru juga.
“Hei! Sapinya keburu beku terkena salju!” teriak Dariush.
Mendengar suara itu, barulah Aloysius mengakhiri ciuman. Melingkarkan tangan di pinggul sang istri, lalu menatap pamannya. “Aku kalah taruhan, salju turun sebelum kami berhasil dinyatakan sah. Jadi, kau bawa saja.”
“Terlanjur dibeli, untuk apa ku bawa pulang? Yang ada mati semua tak terurus.” Dariush mendekat sembari menarik tali yang mengikat sapi agar ikut bergerak menuju pengantin.
“Daripada sia-sia. Lebih baik untuk kalian saja. Anggaplah sebagai hadiah dari pamanmu yang paling baik hati dan tidak sombong, hanya suka jahil saja.” Dariush memberikan tali pada Aloysius. Dia mendekat, memegang kepala mempelai pria. “Akhirnya keponakanku yang tidak pernah mau kalah, sekarang mau mengaku kalah.” Mengecup kening Aloysius sebagai pertanda senang dengan sedikit perubahan itu.
Upacara pernikahan berakhir karena salju tidak tanggung-tanggung menjajah seluruh hamparan rumput yang mulai menjadi putih. Karyawan Lindsay kembali ke asrama, sementara keluarga besar Aloysius masuk ke dalam rumah untuk lanjut makan-makan dan menghidupkan api di tungku supaya ruangan semakin hangat.