Snatch My Daddy’S Wife

Snatch My Daddy’S Wife
Part 61



Meski ada harap-harap cemas kalau diminta untuk melakukan hal-hal yang aneh dan diluar batas kemampuannya, tapi bibir Aloysius tetap saja sombong dan meminta pekerjaan lagi dan lagi. Sifat tidak pernah mau kalah memang sulit menyurutkan ego yang ingin memiliki Lindsay. Terutama gugur di medan pertempuran melawan Andrew? Tidak mungkin.


Terkena cipratan kotoran hewan saja ia rela. Setidaknya itu adalah salah satu cara membayar kesalahan karena sudah berperilaku buruk pada Lindsay.


“Mungkin cukup untuk hari ini, dilanjut besok saja,” putus Lindsay. Dia kasian melihat kondisi Aloysius yang basah kuyup karena mengguyur diri sendiri menggunakan air kran.


Daripada pria itu sakit akibat kedinginan, udara juga sedang tidak bersahabat, lebih baik diajak kembali ke rumah.


“Yakin?” Seolah belum percaya dengan keputusan Lindsay. Kening Aloysius sampai berkerut.


“Memangnya kau mau lanjut dalam kondisi seperti itu?” Telunjuk Lindsay tertuju ke arah atas kepala hingga kaki. “Nanti muntah lagi karena masih menyisakan bau.”


“Asal kau mau ku peluk dengan keadaan seperti ini, maka aku bersedia melakukan segala perintahmu.” Kedua tangan Aloysius merentang, tersenyum jahil dan kian mendekat. “Bagaimana?”


Lindsay bergerak mundur secara perlahan, berusaha menghindar. “Jangan macam-macam, Alo!” tegurnya.


“Aku hanya ingin satu macam.” Bibir Aloysius menyeringai dan tidak mau berhenti menjahili wanita yang kini hamil anaknya. “Cukup dipeluk. Bonus cium, tidur berdua juga aku mau-mau saja.” Lalu ia menyengir bagaikan bocah polos banyak permintaan.


“Lantainya masih basah, Alo ... aku takut terpeleset kalau kau terus mendekat seperti itu.” Lindsay mengusap perut yang buncit sekali. “Ingat, ada anak kita di sini, jangan sampai dia kenapa-napa.”


“Nanti aku tanggap kalian agar tidak terjatuh.” Mengedipkan sebelah mata, Aloysius ini cocok sekali diberikan predikat pria tengil yang sombong, arogan, angkuh, segala keinginan harus terpenuhi. Sudahlah, pokoknya yang jelek-jelek semua cocok untuk gelarnya.


“Tapi kau bau, aku tidak suka.”


Gemas karena tak segera tergapai, Aloysius pun melangkah lebih lebar dan menangkap tubuh Lindsay. Ia memeluk wanita itu walau tadi sempat memberontak.


“Bagaimana? Apakah ingin muntah menghirup aroma tubuhku?” Aloysius berbisik, meraih dagu sang wanita agar sedikit mendongak.


“Ya, bau sekali.” Lindsay mendorong dada pria itu agar menjauh. Kalau boleh jujur, sesungguhnya ia tidak mual atau tidak bisa menerima bau Aloysius. Akan tetapi, harus terlihat tidak murahan seperti dahulu.


Aloysius memang lebih dominan aroma parfum. Tadi pria itu hanya terciprat sedikit, tak terlalu banyak. Namun, memang sedikit berlebihan saja saat membersihkan tubuh hingga diguyur semua.


Bagaimana Lindsay bisa mengatakan tak suka kalau ketika mereka berjarak pun tiap malam selalu merindukan Aloysius. Bahkan pria itu selalu hadir dalam mimpi sebagai obat rindu pada anaknya yang ada di dalam perut.


Andrew sejak tadi mengamati kemesraan dua orang itu. Dia bukan manusia yang senekat dan tak tahu malu seperti Aloysius. Mengumbar kemesraan di sembarang tempat.


“Kau itu mau pamer keromantisan pada siapa? Sapi-sapi di sini?” sindir Andrew ketika Aloysius menggandeng Lindsay dan berjalan bersamaan menuju pintu keluar kandang.


“Pada manusia, lah,” jawab Aloysius sinis. Dia melewati Andrew begitu saja.


“Di sini lebih didominasi oleh hewan, kalau kau lupa. Jadi, kemesraanmu itu sia-sia jika bertujuan untuk pamer.” Andrew masih saja kebakaran jenggot. Dia berjalan menyusul di belakang.


“Oh ... berarti kau juga sapi?” Kepala Aloysius menengok ke belakang, menatap dengan sudut bibir menyeringai. “Pantas saja dekil.” Diejek, maka Aloysius balas mengejek. Mana mau dia kalah. Jiwa harus menang sudah mendarah daging.