Snatch My Daddy’S Wife

Snatch My Daddy’S Wife
Part 58



Lindsay melotot ke arah Aloysius yang terlihat biasa saja. “Kau itu gila, ya? Untuk apa membelikan barang-barang yang tidak diperlukan?” protesnya seraya mencubit kecil perut pria itu.


“Hei ... jangan bilang tidak diperlukan. Siapa tahu kita akan bercinta, ya, kan.” Aloysius menggoda diiringi kedua alis naik turun. “Mungkin kau merindukan masa-masa bercumbu denganku. Sebab, aku sangat rindu itu,” bisiknya kemudian.


Pipi Lindsay merona seketika mendengar suara yang masuk ke telinga seperti sebuah gelitikan.


Aloysius yang melihat perubahan rona itu pun memanfaatkan situasi untuk menggoda. “Iya, kan? Benar, bukan? Kau juga sama menginginkan aku.” Telunjuk digunakan menusuk-nusuk pipi Lindsay yang tirus.


“Tidak,” elak Lindsay.


“Bohong, buktinya pipimu merah seperti kepiting rebus.” Namanya juga Aloysius, selain sombong, arogan, dia penggoda ulung.


Lindsay menampik tangan pria itu agar berhenti menusuk pipinya. “Merah karena udaranya dingin.”


“Oh ... kode minta dipeluk?” Aloysius langsung menarik Lindsay ke dalam dekapannya, membenamkan kepala wanita itu ke dada bidang.


“Uw ... Nona Novak ternyata memiliki kekasih yang sangat romantis,” teriak salah satu karyawan Lindsay. Mereka sampai terpana dengan kemesraan yang sejak tadi disaksikan.


“Kekasih? Enak saja! Aku ini calon suaminya.” Belum juga ada keputusan diterima atau tidak, Aloysius sudah mendeklarasikan di depan semua orang. Percaya diri adalah kunci nomor satu.


“Sembarangan, memangnya aku mau?” Lindsay mencubit pelan lengan Aloysius agar berhenti mendekap.


“Harus mau, aku tidak menerima penolakan,” paksa Aloysius. Menarik kepala sang wanita untuk diberikan kecupan pada kening.


Lindsay bergeleng. Tidak tahan dengan tingkah laku Aloysius. Terlalu menggemaskan, dia rasanya ingin mengiyakan saat itu juga, tapi harus ditahan.


Untuk menghindari dada yang sejak tadi berdebar, Lindsay pun memilih untuk masuk ke dalam rumah. Menghindari pipi yang merona.


“Kekanakan,” ejek Andrew, tidak lupa decakan meremehkan.


...........


Meski dengan memohon, Aloysius berhasil membujuk agar diizinkan menginap di rumah Lindsay. Kemarin ia diusir. Tapi, dengan kekuatan memaksa, berhasil juga tetap berada di sana. Walau belum bisa sekamar dan tidur memeluk si ibu hamil, tidak masalah, yang penting saat pagi hari masih bisa menatap sosok yang dicintai.


“Morning, Sayang.” Aloysius keluar dari kamar, melihat Lindsay di dapur, langsung mendekat dan mengecup bibir tanpa permisi.


“Jangan senyam senyum terus, rumah sakit jiwa jauh dari sini,” tegur Lindsay. Dia terus melanjutkan memotong sayuran untuk salad.


“Tenang, obat gilaku sudah ada di depan mata.” Aloysius memeluk wanita itu dari belakang, mencium tengkuk yang sudah lama tak pernah ia jamah.


Lindsay memberontak geli. “Katanya mau mengurus peternakanku, sana siap-siap,” usirnya.


“Aku sudah mandi sejak bangun tidur, kalau mau berangkat sekarang juga ayo.” Tapi tangannya masih asyik mengusap perut si buncit.


Lindsay buru-buru menyelesaikan membuat salad untuk ia makan sebagai sarapan. Mendorong lengan Aloysius agar segera bergerak keluar.


“Biar aku yang mengendarai.” Aloysius merebut kunci dari tangan Lindsay.


Pria itu membukakan pintu untuk sang wanita, barulah ia masuk.


“Ini lurus terus?” tanya Aloysius.


“Iya.” Lindsay sembari mengunyah salad dan sesekali menyuapi Aloysius juga.


“Tugas pertamaku apa?”


“Membersihkan kandang.”