Snatch My Daddy’S Wife

Snatch My Daddy’S Wife
Part 30



“Oke, aku akan pergi.” Lindsay memilih menyerah dan tidak memaksa lagi. Percuma memperlakukan baik kalau disambut tak menyenangkan.


Menyambar tas yang ada di atas sofa, Lindsay menahan gejolak di dada yang terasa menyakitkan. “Semoga cepat sembuh.” Selepas itu ia berbalik dan menuju pintu.


Lindsay berusaha tidak menangis. Tapi, entah kenapa sekarang menjadi lebih perasa sejak ada makhluk lain bersarang di dalam tubuh. Matanya berkaca-kaca saat melangkah menyusuri koridor rumah sakit.


Mungkin memang ada benarnya apa yang dikatakan oleh Aloysius. Keberadaannya tidak diharapkan oleh siapa pun. Bukannya Lindsay tak mau terbuka, tapi cukup tahu bagaimana reaksi Aloysius dan segala ketidakinginan akan sebuah hubungan serius juga terikat. Lebih tepatnya ia sadar bahwa segala apa pun yang dilakukan, maka tetap berakhir pada hal yang sama seperti sebelumnya.


Awalnya hanya satu tetes, namun semakin lama lebih deras hingga rasa sesak di dada tak lagi mampu ditahan. Ia mengusap pipi ketika merasa banyak pasang mata menatapnya seolah penasaran.


Kaki wanita itu bergerak menuju lift, menekan lantai di mana seseorang tengah dirawat selama ini. Aloysius berada di rumah sakit yang sama dengan istri Delavar. Lindsay pun berhenti tepat di depan pintu.


Sebelum masuk, memastikan kalau tidak ada lagi air yang membuat wajahnya kacau. Bibir mengulas senyum agar menyamarkan kesedihan.


Mengetuk pintu supaya orang yang ada di dalam tahu jika ada yang mau masuk. Setelah mendengar ada sahutan, barulah ia dorong pintu itu.


“Hi,” sapa Lindsay. Pembohong yang handal, dia tetap tersenyum walau rasanya sedang ingin menangis akibat kata-kata pedas Aloysius.


Semakin ke dalam, Lindsay bisa melihat sepasang suami istri yang nampak sangat mesra dan hangat. Delavar dan Amartha. Bagaimana ia tega merusak hubungan pernikahan orang lain kalau seperti itu.


“Lin?” Pandangan Amartha kini teralihkan pada sosok wanita yang ia temui beberapa bulan lalu, ketika terjadi sebuah insiden pada dirinya.


“Apa aku mengganggu?” tanya Lindsay. Ia berdiri tepat di samping ranjang pasien.


Lindsay menggeleng sebagai penolakan. “Aku tidak lama, hanya ingin menjenguk dan melihat kondisimu.”


“Masih sama saja seperti ini, minggu depan aku akan mulai kemoterapi pertama,” jelas Amartha.


Mengangguk, Lindsay lega mendengarnya. “Semoga pengobatannya berhasil, dan kau tidak merasakan sakit lagi,” harapnya sangat tulus.


“Terima kasih.” Amartha pun menatap suami dan Lindsay secara bergantian. “Apa kalian jadi menikah sesuai permintaanku?”


Lindsay menatap pria yang masih tampan diusia paruh baya, Delavar. Kalau sampai ada pertanyaan seperti itu, berarti belum diceritakan kejadian yang sebenarnya.


“Aku tidak bisa menikahi suamimu. Maaf, belum mengabulkan permintaanmu yang terakhir kali.” Lindsay menunduk penuh rasa bersalah. “Ada seseorang yang aku cintai.”


Amartha pun menatap suaminya, mungkin ada penjelasan lebih dari Delavar.


“Aku tahu keadaanmu saat itu memang buruk, tapi sampai kapan pun tidak bisa menjalin hubungan dengan wanita selain dirimu. Jadi, kami hanya mendaftarkan pernikahan tanpa melangsungkan prosesnya,” jelas Delavar seraya meraih tangan dan mengusap permukaan kulit Amartha. “Lagi pula, ada hal lain yang tidak kau ketahui tentang Lindsay. Aku juga baru tahu saat putra kita pulang dan marah ketika mendengar kabar bahwa aku hendak menikah lagi.”


“Apa yang tidak aku ketahui?” tanya Amartha.


“Lindsay dan Aloysius ternyata dahulu pernah dekat. Aku juga baru tahu ketika bocah itu menghajarku habis-habisan, lalu ku tanyakan cerita jelasnya pada Lindsay.” Delavar sampai bergeleng kalau mengingat saat tahu perilaku sang putra. “Entah belajar dari mana, dia tidak menghargai wanita sedikit pun.”