
Lindsay ingin menutupi kehamilan itu dari Aloysius bukan tanpa alasan, tapi ia memikirkan banyak hal. Walau tengah mengandung anak pria itu, belum tentu juga dinikahi.
Lindsay masih sangat ingat jelas saat malam hari jendela kamarnya diketuk oleh seseorang yang ternyata Aloysius, memohon padanya supaya membatalkan pernikahan. Tapi, saat ditanya apa pria itu mau menikahinya? Jawaban tidak sesuai yang diinginkan. ‘Hubungan tanpa status itu seru’ kalimat yang membuatnya jadi memilih lebih baik membesarkan anaknya sendiri.
Sejak dahulu tidak pernah bergantung pada orang lain juga. Jadi, bagi Lindsay, hidup bersama anaknya tidaklah terlalu buruk. Dia juga sudah mempertimbangkan untuk berhenti balapan, mulai kehidupan normal sebagai seorang ibu. Toh selama ini penghasilannya bukan dari balapan saja, masih ada yang lain, hanya saja jauh dari kota.
Tidak ada yang tahu tentang usahanya karena memang semua orang lebih mengenal Lindsay sebagai seorang pembalap. Bahkan Aloysius juga tidak tahu karena tak pernah bertanya dan ia tak berniat menceritakan bisnis yang nan jauh di sana, tidak ada hiruk pikuk kebisingan kendaraan maupun bisiknya perkotaan.
Lindsay sadar, sudah cukup selama tiga tahun hidup tanpa kejelasan hubungan bersama Aloysius. Dia telah menurunkan harga diri, bahkan tidak memiliki harga diri karena mau-maunya dijadikan kontak darurat. Terlalu bodoh dan buta akan cinta. Tapi, untunglah sekarang ia bisa keluar dari lingkaran kebodohan itu. Meski kenyataannya berat karena memang setiap hari pun sering terlintas kenangan tentang pria itu, juga di mimpi. Pada akhirnya berhasil melewati juga.
Sudahlah, menjadi mandiri tidak membuat Lindsay perlu bergantung pada seorang pria.
“Ayolah, Lindsay, biarkan Aloysius tanggung jawab, ya?” mohon Amartha. Dia sampai menggenggam erat supaya cucunya ada kejelasan dan memiliki nama keluarga besarnya.
“Tidak, biarkan hatinya yang bergerak dan menginginkan kami, bukan terpaksa,” tolak Lindsay seraya mengusap perut. “Tenang saja, cucu kalian tidak akan kekurangan kasih sayang dariku.”
Amartha menatap Lindsay dengan mata yang nampak sayu. Sedih tentu saja, gara-gara putranya jadi membuat kehidupan seorang wanita menjadi berantakan. “Aku minta maaf atas perilaku Aloysius padamu, ya?”
Lindsay merasa sudah terlalu lama di sana, satu jam lebih. Maka, berpamitan karena mau bersiap pergi sesuai keinginan Aloysius. Dia tidak mau menjadi perusak rumah tangga seperti apa yang dikatakan oleh pria itu.
“Aku ... pergi dulu, ya? Kau juga harus istirahat,” ucap Lindsay seraya melepaskan tangan yang sejak tadi digenggam oleh Amartha.
“Buru-buru sekali, memangnya kau mau ke mana?” tanya Amartha.
“Pulang.” Ada senyum di wajah Lindsay, dia tidak memberi tahu kalau ingin pergi jauh.
“Sering-sering menjengukku, ya? Aku ingin melihat perkembangan cucuku,” pinta Amartha.
Lindsay tidak menanggapi apa pun. Dia meraih tangan Amartha dan diletakkan ke perutnya. “Hi, Granny, aku baik-baik saja di dalam perut Mommy.”
Rasanya senang mengetahui akan memiliki cucu. Mungkin itu juga memberikan motivasi lagi untuk ia bisa sembuh melawan penyakit.
Sebelum pergi, Lindsay memasukkan tangan ke dalam tas, mengambil sesuatu di sana. “Ini hasil USG terakhir kali, kau bisa memiliki itu seandainya rindu dengan cucumu.”