Snatch My Daddy’S Wife

Snatch My Daddy’S Wife
Part 44



“Tidak perlu, tadi pagi aku masak, dan sepertinya masih ada sisa,” tolak Lindsay seraya berjalan meninggalkan area kandang sapi. “Nanti ku panaskan saja, daripada sayang kalau dibuang,” imbuhnya kemudian.


Pria itu ikut melangkah beriringan dengan pemilik peternakan. Menuju ke mobil pick up yang terparkir tak jauh dari pintu keluar kandang.


“Oke, baiklah. Mau aku temani?” tawar pria itu lagi.


“Tidak perlu, kau pasti lelah setelah membantu sapi melahirkan. Jadi, istirahat saja.” Lindsay menolak lagi tawaran salah satu orang kepercayaannya di peternakan. Ia pun menepuk pundak pria itu. “Juru masak kantin pasti sudah menunggumu makan di sana. Rumahku dengan peternakan cukup jauh. Kau tidak perlu repot-repot menemani.”


“Sebenarnya tidak masalah, toh ke rumahmu juga pakai mobil, tak akan lelah,” elak pria itu. Dia ikut berhenti di samping mobil milik Lindsay.


Lindsay hanya diam, menatap Andrew sejenak. Belum ada komentar apa pun yang ia keluarkan. Tapi, selama sebulan lebih tinggal di sana, pria itu selalu saja berusaha menemani dirinya. Padahal ia tidak ingin.


“Aku hanya ingin memastikan kau tidak kesepian kalau sendirian. Biasanya hidup di kota dengan suasana ramai, lalu pindah ke sini tanpa membawa sanak saudara. Apa lagi dalam kondisi hamil,” jelas Andrew.


“Terima kasih atas kebaikanmu. Tapi, aku sangat menikmati hidup ini.” Lindsay pun menekan remot mobilnya, hingga ada bunyi pertanda tidak lagi terkunci pintunya.


“Boleh minggir sedikit? Aku mau masuk ke dalam mobil,” pinta Lindsay dengan sangat tenang.


“Ya, maaf jika kau terganggu dengan aku yang selalu menawarkan bantuan,” ucap Andrew, seraya kaki mundur satu langkah.


“It’s ok, aku tahu kau orang yang sangat peduli.” Lindsay pun membuka pintu, lalu masuk ke dalam mobil Mercedes Benz X-class pickup offroad.



Di dalam mobil, Lindsay mengangguk. Melesatkan transportasi itu dengan kecepatan pelan. Dia tidak lagi berani kebut-kebutan karena ada bayi di dalam rahim. Takut kalau banyak terkena guncangan, apa lagi masih amat muda.


Dari area kandang ke rumahnya, Lindsay membutuhkan waktu yang lumayan juga. Jarak tempuhnya tidak dekat. Dia memiliki lahan seluas empat puluh ribu hektar, sapi ada kurang lebih dua puluh ribu ekor yang dibagi dalam lima ratus kandang. Ada berbagai macam jenis, mulai sapi perah, pedaging, peranakan.


Selain itu adalah warisan keluarga, Lindsay juga memperbesar usaha tersebut setiap kali memiliki uang. Jadi, awalnya tidak sebesar itu.


Selama Lindsay sibuk di kota dan asyik balapan, Andrew yang mengelola. Pria itu sudah bekerja sejak peternakan masih dikelola oleh orang tuanya. Usia mereka tidak jauh berbeda, lebih tua Andrew lima tahun.


Untuk berkeliling area peternakan pun tidak mungkin jalan kaki. Lindsay selalu menggunakan mobil. Begitu pula dengan karyawan lain. Terlalu luas.


Bukan sekadar ada kandang dan sapi saja, tapi semua karyawan dibuatkan tempat tinggal juga, seperti asrama, ada kantin untuk menyediakan makanan dan itu gratis sebagai fasilitas. Tentu supaya memudahkan kalau bekerja, mana mungkin pulang pergi dari rumah masing-masing, sementara transportasi umum pun jarang ada yang lewat sana.


Selama peternakan jatuh ke tangan Lindsay karena ia adalah pewaris tunggal, peternakan jadi berkembang pesat. Dia membuat pengolahan susu dan daging juga. Jadi, produk yang dijual bukan hasil mentah, melainkan sudah diolah dan memiliki brand.


Di lahan seluas itu pula ada kantornya, walau bukan bangunan tinggi. Pabrik dan gudang penyimpanan juga ada. Mulai hulu hingga hilir, semua dilakukan di sana semua.