
“Susu? Aku tidak suka.” Aloysius tidak tertarik melihat kemasannya, justru meletakkan minuman yang tadi dilempar ke arahnya itu ke atas meja. “Sejak dulu juga tak pernah minum susu, rasanya aneh.”
“Dia sukanya yang langsung dari pabriknya,” seloroh Brennus.
“Alo kalau minumnya pakai sedotan tidak suka, maunya yang langsung disesap,” imbuh Amabella, sepupu Aloysius.
“Padahal tidak keluar airnya juga, tapi pasti dia ketagihan.” Clemmons ikut-ikutan.
“Kalau itu lain cerita, kesukaanku, ada sensasinya yang membuat darahku berdesir.” Aloysius tidak menyangkal, justru menjelaskan lebih detail lagi. Memang apa yang saudara-saudaranya bicarakan adalah benar.
Semua orang menertawakan Aloysius karena wajah saat mengakui terlihat lesu. Mereka lalu sama-sama mengambil susu kotak yang ada di atas meja.
“Sukanya milik Lindsay, ya? Atau wanita lain juga?” tanya Adorabella, sepupu Aloysius.
“Pernah mencoba merasakan yang lain, tapi rasanya berbeda. Aku tetap suka milik Lindsay.” Aloysius menghembuskan napas lemas, mendorong punggung ke belakang hingga mendarat di sandaran sofa.
“Kalau yang satu ini pasti kau suka, rasanya seperti buatan Lindsay.” Padahal sudah sejelas itu Delavar memberikan petunjuk. Dia menyesap sedotan dan menikmati susu kotak yang dibawa pulang selepas menemani sang istri menjenguk Lindsay di peternakan.
“Em ... kau pasti akan menyesal kalau tidak mencoba.” Saudara-saudara Aloysius juga semuanya memameri betapa lezatnya itu.
“Mau kata kalian enak, kalau pada dasarnya aku tidak suka minum susu, ya tetap tak enak.”
Masih saja menolak diperintah untuk mencicipi, membuat Dariush gemas. Dia adalah pamannya Aloysius. Mengambil satu kotak, langsung dicobloskan sedotan. Tangannya melingkar di leher keponakannya yang sedang bodoh.
“Banyak bicara, tinggal cicipi apa susahnya!” Dariush memaksa ujung sedotan masuk ke bibir Aloysius. “Minum!” titahnya dengan tegas. “Atau ku tutup hidungmu supaya tidak bisa bernapas?”
“Guyur saja pakai susu enjoy life, Dad.” Amabella jadi ikut kesal, dia memberikan ide lain pada Dariush, daddynya.
Kalau ada yang mencetuskan ide gila, sudah pasti akan dilakukan sungguhan oleh keluarganya. Jadi, Aloysius pun memilih untuk meminum sedikit.
Baru satu teguk masuk ke dalam mulut, lalu ditelan melewati kerongkongan, mata Aloysius langsung melebar. Tidak mungkin ada susu yang bisa membuatku suka. Untuk memastikan kalau lidahnya tidak salah, maka ia lanjutkan hingga beberapa teguk. Namun tetap saja enak.
Aloysius pun mengambil alih minuman kotak itu. “Kalian beli di mana? Ku rasa ini akan menjadi satu-satunya yang bisa aku minum.”
“Beli di tempat yang jual.”
“Ke pabriknya langsung.”
“Diberi gratis oleh pemiliknya.”
Aloysius berdecak dengan bibir mencebik. Keluarganya tidak ada yang memberi jawaban serius. Sudah habis, ia melihat kemasannya. “Enjoy life? Brand yang sangat simple namanya, tapi memang membuat aku enjoy menikmati ini.”
“Tadi katanya tidak suka, sekarang ketagihan,” sindir Delavar. Bibirnya tersenyum geli.
Tidak menanggapi, Aloysius pun semakin membaca informasi kandungan gizi di kemasan tersebut. Semua dibaca, termasuk siapa yang memproduksi dan lokasinya ada di mana. “Pintar juga memberikan brand dan nama perusahaan yang tidak rumit. Jadi, mudah diingat oleh orang-orang,” pujinya. “Enjoy Life Farm, sepertinya aku menyukai produk ini.”
“Suka? Datanglah ke peternakannya langsung,” ucap Danesh, salah satu pamannya Aloysius.
“Lokasinya jauh sekali, bisa enam jam perjalanan. Lebih baik ku gunakan untuk mencari Lindsay daripada ke peternakan sapi.”