Snatch My Daddy’S Wife

Snatch My Daddy’S Wife
Part 49



Rasa bahagia dan lega bisa melihat Lindsay lagi pun tak bisa ditampik oleh Aloysius. Dia sampai tersenyum dengan mata menatap sosok wanita itu, penuh binar kerinduan. Pantas saja tak akan pernah bertemu kalau lokasi yang dicari hanya seputar di Kota Helsinki dan wilayah yang dekat sana.


Aloysius masih terpaku dengan Lindsay dan perut buncit yang menambah kesan lebih memesona. Hamil justru membuat lebih cantik, aura juga amat bersinar bagaikan bintang yang paling terang.


“Lin? Ternyata selama ini kau ada di daerah dekat sini,” ucap Aloysius. Kaki perlahan terayun mendekat. Dia ingin memeluk wanita itu, meluapkan segala sesak di dada akibat rasa rindu dan sesal yang begitu mendalam menghantui selama ini.


Jika ekspresi Aloysius gembira, tapi tidak dengan Lindsay. Dia justru menegang saat mendapati pria yang tidak menginginkannya itu berdiri dengan jarak lima meter. Semakin Aloysius mendekat, ia justru merasa tak enak.


Lindsay masih ingat jelas seluruh kalimat pria itu yang memintanya untuk pergi. Kalau perlu menghilang dan tidak pernah muncul lagi. Jadi, bertemu dengan Aloysius adalah sebuah insiden yang seharusnya tidak pernah terjadi. Anggap saja hari ini ia sedang sial.


“Maaf, Alo, aku tidak bermaksud muncul di hadapanmu. Aku akan segera pergi, pertemuan ini murni tidak sengaja.” Lindsay sedikit menundukkan kepala sebagai permohonan maaf. “Lain kali aku akan lebih hati-hati supaya tidak terlihat lagi,” imbuhnya kemudian.


Aloysius merasa tertampar dengan kalimat Lindsay. Sepertinya sosok yang sedang hamil itu berpikir kalau ia tidak suka bertemu. Padahal sebaliknya, sangat senang.


“Tidak perlu, kau boleh berkeliaran di hadapanku. Kapanpun dan dimanapun, aku—” Aloysius menggantungkan kalimat itu saat ada seorang pria tiba-tiba keluar dari pintu supermarket dan berdiri di samping Lindsay. Matanya sampai melotot karena terlalu terkejut.


Dia sudah menemukan penggantiku? Gumam Aloysius, bertanya pada diri sendiri.


“Apa pria ini mengganggumu?” tanya Andrew, tatapannya menelisik Aloysius yang sepertinya sengit sekali menyorotnya.


Rasanya Aloysius ingin membantah ucapan Lindsay. Dia tidak terganggu sedikit pun oleh kehadiran orang yang amat dirindukan dan dicari selama ini. Namun, rasanya ada batu besar membungkam mulutnya, akibat melihat sosok pria bersama wanita itu.


Ada hati yang tak rela, ada jantung yang berdebar pelan seolah mau mati saat itu juga. Aloysius masih mendelik menatap pria yang entah siapa, tak kenal, bahkan tidak mau tahu.


“Kalau begitu, segera pulang saja. Maaf tadi harus menunggu aku antri membayar, banyak sekali belanjaan kita,” ajak Andrew. Kedua tangan penuh oleh tas besar berisi kebutuhan bulanan.


Lindsay pun mengangguk. Dia berjalan begitu saja melewati Aloysius. Tidak pamit atau mengajak pria itu berbicara.


Sementara Aloysius masih mencerna situasi. Lindsay bersama seorang pria, belanja banyak sekali. Dan apa katanya tadi? Kita?


Kepala Aloysius menengok ke belakang, diikuti tubuh yang merotasi juga. Melihat bagaimana pria tadi membukakan pintu Lindsay di mobil yang amat gagah dan sangar. Lalu tiba-tiba matanya membelalak saat tangan pria itu mengusap puncak kepala Lindsay.


Ada kecemburuan membara, membakar seluruh tubuhnya. Tangan Aloysius sampai mengepal kuat. Bisa-bisanya mencari Daddy baru untuk anaknya, sementara ia kesusahan mencari.


“Jangan harap kau bisa mendapatkan Lindsay dan anakku, pria tengik!”