Snatch My Daddy’S Wife

Snatch My Daddy’S Wife
Part 73



“Mana ini Aloysius yang sok jagoan? Oh ... ternyata begini sekarang, dia?” sindir Delavar. Pria paruh baya itu tak henti tertawa terbahak-bahak. Meski yang diejek adalah anaknya sendiri, tapi masa bodoh, lucu sekali video yang terus berputar berulang kali di televisi. Apa lagi sekarang wajah sang putra nampak menahan kesal bercampur malu.


Puas sekali rasanya Delavar. “Dulu saja kurang ajar dengan daddynya, main pukul seenak jidat, marah-marah tidak jelas. Sekarang?” Masih terbahak-bahak dengan telunjuk ke arah layar berukuran lima puluh inch. “Haduh ... aku sampai tidak bisa berkata-kata lagi.” Ia memegang perut yang kram akibat kebanyakan tertawa terpingkal-pingkal.


“Aku tidak suka susu, kalian tahu, kan?” Davis menimpali dengan menirukan bagaimana kalimat cucunya saat ia perintahkan minum sebuah minuman kemasan dari peternakan Lindsay. “Lalu, sekarang mau mengenyot langsung dari sapinya.” Sindiran lain juga keluar dari mulutnya.


Davis yang sudah tua sampai terhibur sekali. Apa lagi rekaman CCTV yang berputar ada audionya. Jadi, mereka bisa mendengar setiap gerutuan dan umpatan Aloysius.


Belum puas rasanya, Dariush juga mau ikut-ikutan. “Minum fresh dari sumbernya.” Astaga ... renyah sekali tawa itu. “Bonus tendangan sapi.”


“Ekstra kotoran sapi,” tambah Amabella.


“Tidak lupa suplemen penambah, kencing ternaknya Lindsay,” imbuh Adorabella.


Demi apa pun, memang keluarga Dominique itu laknat semua. Mereka kembali terpingkal hingga rasanya sulit berhenti. Saudara sendiri pun terkena bulan-bulanan. Apa lagi Aloysius yang dahulu sangat angkuh pada Delavar, kini berubah menjadi pria yang tidak berkutik di hadapan sapi.


Diora yang sejak tadi hanya mengulum senyum pun sampai cekikikan. Masih menahan diri, walau sebenarnya ingin dikeluarkan secara terang-terangan. “Sudah-sudah, Alo jangan diejek terus.” Berusaha menengahi.


Melihat wajah Aloysius yang kini menegang, tangan terkepal kuat, membuat Amartha tidak tega. “Sabar, ya, Sayang. Maklum, keluargamu ‘kan masih banyak kurang hiburan.” Dia ingin menepuk pundak sang putra. Tapi, posisi terlalu jauh.


Aloysius sudah berusaha sekuat tenaga supaya tidak mengumpat seluruh orang. Dia sudah yakin seratus persen kalau akan diejek. Dan sungguh terjadi. Sangat tahu bagaimana tabiat keluarganya.


“Setidaknya apa yang aku lakukan adalah salah satu cara untuk memperjuangkan cinta, demi bisa mengambil hati dan kepercayaan seseorang yang pernah ku sakiti.” Aloysius berucap tegas, penuh keyakinan. Dia bergerak mendekati sofa di mana Lindsay tertidur di sana, mengambil alih remot yang masih ada di genggaman wanitanya.


Aloysius menekan tombol power. Layar pun kini berubah gelap. Tidak ada lagi video yang bisa menjadi bahan tertawaan. Walau percuma, semua keluarganya sudah melihat dan pasti akan diingat terus.


“Oh ... akhirnya keponakanku pintar juga, ya? Sudah tidak bodoh lagi seperti saat diberikan petunjuk melalui susu kemasan?” Dariush itu kalau urusan menggoreng kesalahan orang dan jahil memang nomor satu.


“Mungkin dulu dia sedang khilaf, otaknya tersumbat oleh kotoran,” sahut Delavar. Sudahlah, kalau ia dan Dariush dipertemukan, memang tak ada habisnya.


“Sht ... kalian bisa diam, tidak?” Aloysius melotot memberikan peringatan. “Lindsay sedang tidur, mengganggu saja!”


“Engh ....” Wanita berperut buncit itu melenguh, Lindsay mengucek mata. “Aku sudah terbangun sejak tadi mendengar suara tawa orang.”


Aloysius lekas berjongkok di hadapan wanitanya, mengusap kening Lindsay, lalu mengecup sekilas. “Maaf, ya? Istirahatmu jadi terganggu. Mereka itu memang tidak pernah tahu tempat dan situasi jika berkelakar.” Tatapannya sengit ke arah lima orang yang masih berdiri dengan sisa tawa. Nenek dan mommynya tidak termasuk, karena dua wanita itu terlalu baik hati untuk ia sebut sebagai pengacau.


Setelah kesadaran penuh, Lindsay berdiri. Menghadap ke arah keluarga Dominique. “Wah ... ramainya rumahku. Ayo, duduk. Pasti kalian lelah setelah menempuh perjalanan jauh.” Dia menunjuk ruang tamu yang muat untuk menampung semuanya.


“Bukan lelah lagi, encok,” sahut Davis sembari memegang punggung.


Keluarga yang datang seperti orang sekampung itu berjalan menuju ruang tamu. Lindsay mengikuti di belakang, dan Aloysous juga sama.


“Mau minum apa? Aku buatkan,” tawar Lindsay.


“Tidak perlu kau yang repot. Biar Aloysius yang melakukan itu.” Delavar menunjuk putranya yang masih berwajah kesal. “Katanya sedang memperjuangkan sesuatu, kan? Jangan biarkan Lindsay melakukan semua pekerjaan, dong.”


“Iya ... aku buatkan.” Aloysius tersenyum licik. Dia akan balas yang tadi sudah menertawakan dan mengejek habis-habisan. Rasakan pembalasanku.


“Kopi panas.”


“Coklat panas.”


“Teh panas.”


“Susu fresh dari sapinya Lindsay.”


Pesanan pun memberondong Aloysius. Pria itu menuju dapur dan akan membuatkan sesuka hatinya.


Sementara di ruang tamu, Lindsay menerima keluarga itu dengan hangat. Berterima kasih juga saat tahu kalau kedatangan ke sana memang ingin menjenguk dirinya yang sedang hamil keturunan Dominique.


Lindsay jadi terharu dan merasa diperhatikan. Dia yang tidak memiliki orang tua lagi pun bisa mendapatkan hal-hal yang dirindukan dari sebuah kehangat keluarga. Namun, menahan diri agar tidak menitikan air mata bahagia. Cukup tersenyum dan sangat lega karena kehadiran anak dalam kandungannya ternyata membawa berkah kebaikan untuk semua.


“Lin?” panggil Dariush.


“Ya?”


“Boleh aku minta video Aloysius yang tadi ada di televisimu?” pinta pria dua anak itu. Sudah pasti Dariush akan berniat menjadikan bahan pengingat keponakannya. Atau hadiah untuk bayi yang beberapa bulan lagi akan terlahir ke dunia.