Snatch My Daddy’S Wife

Snatch My Daddy’S Wife
Part 75



Tenang, tahan, jangan tertawa dahulu, belum saatnya. Aloysius terus menatap mimik wajah keluarganya satu persatu. Menanti ada ekspresi yang berbeda. Entah mengumpat karena asin atau sebagainya.


Bahkan ketika bibir gelas mulai masuk ke mulut dan cairan diteguk pun tidak luput dari pengamatan Aloysius. Namun, anehnya, kenapa tidak ada satu pun yang mengumpat atau mengeluh karena rasanya aneh? Semua nampak baik-baik saja, menikmati tanpa protes.


“Hm ... lezat sekali kopi buatan anakku. Baru tahu kalau Aloysius handal dalam hal ini,” puji Delavar.


“Sama, coklat hangatku juga enak. Kapan-kapan buatkan lagi, ya? Kalau kau sudah pulang ke Helsinki,” imbuh Amabella.


Aloysius menaikkan kedua alis. Sepertinya dia tidak salah memasukkan bubuk ke gelas. Yakin betul kalau tadi adalah garam karena sudah dicicipi untuk memastikan kalau asin.


Ku rasa ada yang konslet dari lidah mereka. Aloysius sampai tidak habis pikir. Atau mungkin memang dirinya yang salah menyajikan? Tapi, saat melihat mimik wajah nenek dan mommynya juga tak ada yang berubah, berarti tidak ada yang tertukar.


Kepala Aloysius bergeleng. “Keluarga tidak waras.”


“Loh, kata siapa?” elak Alceena.


“Kataku. Bisa-bisanya minuman asin dikata enak. Apa namanya kalau bukan gila?” sahut Aloysius.


“Mana ada asin, manis sekali. Kau salah menuangkan gula, mungkin ... bukan garam.” Davis kembali menikmati minumannya dengan penghayatan.


“Oh, ya? Memangnya seenak itu?” Aloysius bertanya karena tidak percaya.


“Ya, kau coba saja sendiri. Mana mungkin aku sudah menghabiskan setengah kalau tidak enak.” Delavar menyodorkan cangkir miliknya.


Penasaran, Aloysius pun meraih itu. Mungkin ia salah atau kurang banyak saat memberikan garam. Menyeruput sedikit, lidahnya langsung terasa tak enak.


“Sial!” umpat Aloysius. Dia langsung meletakkan lagi ke meja.


Tadi sudah menertawakan video Aloysius. Sekarang terbahak-bahak karena ulah manusia itu yang mau mengerjai keluarga tapi berbalik pada diri sendiri.


Sebenarnya mereka sudah curiga, pasti tidak mungkin akan dibuatkan sesuai keinginan. Namanya juga keluarga, pastilah tahu bagaimana sifat satu sama lain. Jadi, sudah bersekongkol untuk menahan diri walau akan meminum sesuatu yang tidak enak.


“Memang keluarga sialan, saudara sendiri dikerjai habis-habisan.” Aloysius yang buat, dia juga yang paling pertama mencari penawar. Tangan gesit meraih susu kemasan dan menetralisir lidah yang terasa kasap.


“Makanya, jangan iseng, kena juga, kan?” seloroh Dariush yang tak henti terbahak-bahak.


Aloysius berdecak sebal. Melawan keluarganya memang tidak bisa menang. Mereka terlalu handal, apa lagi yang sudah berpengalaman kalau masalah jahil. “Tidak akan ku izinkan Lindsay memberikan videoku padamu.”


“Oh ... tidak masalah, aku sudah mendapatkannya.” Dariush menunjukkan sebuah flashdisk yang tadi diambil dari televisi.


Tangan Aloysius mengepal. Dia terlambat, kalau sudah ada di tangan keluarganya, entah akan menjadi apa. “Berikan padaku!”


Dariush melempar benda kecil itu hingga terjatuh di paha keponakannya. “Sudah ku copy, tenang saja. Jadi, jangan khawatir kalau sewaktu-waktu kalian kehilangan video itu dan merindukan mau menontonnya, bisa datang kepadaku.” Alisnya naik turun jahil.


Tatapan Aloysius melotot pada sang paman. “Awas, ya! Jangan sampai gunakan untuk yang aneh-aneh,” ancamnya.


“Tenang, aku hanya ingin menyimpan. Siapa tahu bisa menjadi penawar suasana hati kalau sedang lelah. Melihat kau bertempur dengan sapi? Pasti aku akan tertawa terus jika mengingat itu.” Lihat saja kini Dariush telah meledak lagi setelah meledek.


Lindsay mengusap punggung tangan pria yang duduk di sampingnya. “Maaf, ya? Aku lupa kalau benda itu masih tetancap di belakang televisi.”


“It’s ok, aku tidak menyalahkanmu.” Aloysius terang-terangan melakukan sentuhan fisik di depan keluarganya.


“Bercinta sudah sering. Mau punya anak juga. Bermesraan pun tidak tanggung-tanggung, langsung di depan keluarga besar. Tinggal bersama pula.” Davis menyebutkan semua yang dilakukan oleh sang cucu.


“Lantas, kapan nikahnya?” tanya Delavar.