
“Hoek ...!” Aloysius berkali-kali muntah. Dia tidak tahan dengan bau kotoran sapi yang sangat menyengat.
Perut merasa diaduk-aduk, mana tadi baru makan salad saja yang disuapkan Lindsay saat di dalam mobil. Sudah keluar semua karena tak tahan akibat risi.
Lindsay memijat tengkuk pria itu agar lebih nyaman. “Mau berhenti saja? Aku tak pernah memaksamu untuk tetap melanjutkan menjadi peternak sapi.”
“Tidak, aku akan teruskan, hanya belum terbiasa saja,” tolak Aloysius. Dia kembali masuk ke dalam kandang, menghiraukan Andrew yang pasti sedang menatapnya dengan penuh ejekan.
Berusaha fokus dan menanamkan dalam pikiran. “Ini bau parfum yang sangat wangi, limited edition pula.” Begitulah kira-kira Aloysius mensugesti diri.
Kali ini berhasil melewati sepuluh menit awal. Aloysius tidak tiba-tiba berlari keluar hanya untuk muntah. Maklum saja, namanya juga anak orang kaya yang tidak pernah berhadapan dengan hal-hal seperti itu.
Aloysius terus menyerok kotoran yang menumpuk dan dibawa ke sebuah lubang besar pembuangan. Entah apa, mungkin dari sana akan langsung meluncur ke lokasi pengolahan kotoran sapi agar tak membuat bau.
Tidak mau banyak mengeluarkan suara. Aloysius sedang berkonsentrasi penuh supaya tak muntah lagi seperti tadi. Lebih baik cepat menyelesaikan membersihkan kandang yang besar sekali, mana sapinya banyak pula.
“Holly shitt!” umpat Aloysius saat ia berdiri di belakang pantat sapi untuk mengeruk kotoran di bawah hewan itu, ternyata sedang berak tanpa permisi. Sudah begitu ekor dikibas-kibas. Alhasil dia juga kena. “Sapi sialan ...! Ku sembelih juga kau!”
Lindsay yang sejak tadi mengamati dari kejauhan pun tertawa pelan. Aloysius masih saja pemarah, tapi kali ini lucu dan menggemaskan karena emosi pada hewan yang tak memiliki nalar.
“Dia pikir kau itu toilet.” Lagi-lagi Andrew mengejek.
Aloysius yang kesal diejek terus pun menciprati pria itu dengan kotoran yang ada di bawah. Biarlah supaya diam. “Banyak cakap!”
“Lagi pula aku sudah ternoda oleh sapi-sapimu ini, sekalian saja.” Aloysius menunjuk penampilannya dari atas sampai bawah yang tak keruan.
“Sudah, sana kalian keluar, guyur badan dengan air bersih,” titah Lindsay.
“Kandangnya masih kotor, tugasku belum selesai,” tolak Aloysius.
“Bersihkan dulu, nanti baru dilanjut menyikat lantainya.” Lindsay menekan sebuah tombol yang ada di dinding. Kemudian dari ujung bawah keluar air dan menyapu seluruh kotoran yang tersisa.
Aloysius melongo melihat teknologi yang sudah terpasang di kandang itu. “Kenapa tidak sejak awal saja kau hidupkan ... apalah itu namanya.”
“Supaya kau tahu bagaimana tidak enaknya tinggal bersama seorang peternak sapi.” Lindsay tersenyum lembut.
“Jangan harap hanya karena ini lalu aku menyerah.” Telunjuk kanan bergerak ke kanan dan kiri. “Tidak akan.” Aloysius keluar, menuju kran air. Membasahi seluruh tubuh dan menghilangkan kenistaan yang tadi menempel di wajah hingga pakaian.
Aloysius pun menunjukkan kesungguhannya. Dia tetap melanjutkan sampai tugas pertama selesai. Menyikat lantai agar bersih. Kemudian sekaligus memandikan sapi supaya tidak dekil.
Seharian Aloysius berkutat dengan hal-hal kotor dan menjijikkan, tapi akhirnya berhasil melewati itu.
“Oke, sekarang mau memintaku melakukan apa lagi?”