
Tidak langsung mengiyakan. Lindsay menengok ke arah dapur. Aloysius tengah berkutat di sana, tapi belum melakukan membuat minuman. Pria itu tengah bingung mencari sesuatu, entah apa.
Kembali menatap pada orang yang tadi mengajak bicara. “Maaf, aku tanya pada Aloysius dulu, ya? Boleh tidak kalau videonya dibagikan pada orang lain.” Selembut dan sesopan mungkin saat menjawab. “Aku ke dapur sebentar, membantu. Sepertinya Alo bingung. Dia ‘kan tidak pernah membuat minuman di sini,” pamitnya kemudian.
Lindsay pun meninggalkan ruang tamu, lalu menghampiri sang pria. Dia menepuk punggung Aloysius. “Mencari apa?”
“Garam, ada di mana?” tanya Aloysius. Dia tak henti membuka satu persatu kabinet.
“Untuk?” Lindsay mengambil sebuah wadah yang dekat dengan kompor. “Mau masak?” Lalu menyodorkan itu ke sang pria.
“Thanks.” Aloysius mengecup pipi si ibu hamil. Ia kembali mendekati gelas-gelas yang masih kosong. Memasukkan beberapa sendok garam ke gelas yang sudah ditandai. Itu untuk daddynya, pamannya, tantenya, kakeknya, dan dua sepupu kembarnya. Semua yang sudah menertawakan, mendapat minuman rasa garam.
“Loh ... kalau buat minum bukan pakai itu. Tapi gula.” Lindsay mengambil toples berisi butiran manis. Dia menahan tangan Aloysius agar berhenti menuangkan bubuk asin itu. “Yang benar ini.” Menutup kembali wadah garam.
“Iya, aku tahu kalau buatnya pakai gula. Memang sengaja mau ku beri yang asin agar mereka kapok sudah menertawakan aku dan mengejek habis-habisan.” Mengambil kembali garam dari tangan Lindsay. “Beri dua gelas ini saja yang manis, sisanya biarkan mereka merasakan tak enak.”
Bergeleng kepala diiringi decakan. Pria yang Lindsay suka dan cinta ternyata sangat kekanakan. Namun, tetap saja ia menerima semua itu. “Keluargamu, loh ... mau dijahili juga?” Ia mengingatkan sembari menyendokkan satu sendok teh gula ke gelas yang tadi ditunjuk oleh Aloysius.
“Biarlah, mereka juga tak pandang bulu saat menertawakan aku.” Bukan sekadar satu kali tuangan garam, Aloysius memberikan tiga sendok makan.
Sudahlah, memberi tahu Aloysius itu sama saja berbicara dengan batu. Tidak mungkin didengar. Lebih baik Lindsay menyiapkan susu kemasan juga yang ada di kulkas. Jadi, kalau tamunya keasinan bisa langsung dinetralkan.
“Tadi salah satu keluargamu meminta sesuatu padaku,” beri tahu Lindsay seraya menyusun beberapa kotak minuman ke atas nampan.
“Apa?” Sembari tangan Aloysius mengaduk sampai butiran asin itu larut sempurna.
“Katanya mau minta videomu saat di peternakan yang tadi aku putar di televisi, boleh?” Lindsay memindahkan gelas yang sudah selesai diaduk itu ke nampan juga.
Kepala Lindsay menggeleng, dan Aloysius bisa bernapas lega. “Keluargaku itu isi manusianya jahil semua.”
“Tapi terlihat seru memiliki keluarga seperti mereka,” puji Lindsay. Ia merubah posisi menjadi menyandarkan tubuh ke meja. Jadi, bisa saling bertatapan dengan sang pria. “Daripada seperti aku yang tidak memiliki orang tua dan saudara lagi.”
Berhenti mengaduk, tatapan Aloysius kini terpatri pada si cantik berambut pirang. Melepaskan genggaman dari sendok, ia meletakkan telapak lebar ke puncak kepala Lindsay, memberikan usapan penuh kelembutan dan kasih sayang di sana. “Jangan khawatir, nanti kita buat keluarga sendiri yang lebih seru, oke? Ku jamin kau tidak akan merasa kesepian.”
Setelah mengucapkan kalimat semanis madu walau bukan janji-janji palsu, Aloysius menangkup kedua pipi Mommy dari anaknya. Mendekatkan bibir pada kening, mencium selama mungkin. Tidak mengandung gairah sedikit pun, hanya cinta dan ungkapan sayangnya.
Tak berhenti sampai di situ. Aloysius menarik tubuh si buncit untuk didekap. “Percaya saja padaku. Setelah menikah, kau akan memiliki keluarga yang harmonis, penuh canda, tawa, cinta.”
Merasa terlalu lama minum tak segera jadi. Dariush pun menyusul ke dapur. Dia tidak mendengar perbincangan di awal. Kedatangannya bertepatan saat keponakannya dan si pemilik peternakan sedang berpelukan mesra.
“Ehem!” Dariush berdeham.
Aloysius mencebik kesal. “Mengganggu.” Dia melepaskan Lindsay.
“Kalau tak ku ganggu, bisa-bisa keluargamu kehausan. Kalian pasti akan berbuat sesuatu di dapur, kan?” Kedua alis Dariush naik turun jahil.
“Sok tahu.” Aloysius mengibaskan tangan supaya pamannya kembali. “Ini juga sudah jadi.”
Tangan kekar itu membawa nampan yang ternyata berat juga. Aloysius tidak membiarkan Lindsay membantu, dan menyuruh sang wanita supaya kembali ke ruang tamu mendahului.
Menyajikan gelas yang sudah ditandai lebih awal supaya tidak tertukar untuk nenek dan mommynya. Dia tidak memberikan perintah apa pun supaya tak mencurigakan. Langsung duduk saja di samping Lindsay.
“Tidak kau racun, kan?” Itu hanya pertanyaan kelakar dari Davis. Dia tetap meraih gelas berbentuk cangkir. “Selagi masih hangat, enak untuk perut.”