
Meski makanan tersaji dengan sangat lezat, bahkan itu juga kesukaannya, tapi tetap di lidah rasanya amat buruk. Hambar, seperti hidupnya saat ini yang tak bahagia semenjak Lindsay pergi lagi membawa buah hatinya.
Sulit sekali menelan satu suap. Di tenggorokan bagai tersangkut. Namun, Aloysius tetap memaksakan diri untuk mengisi perut supaya tidak kosong. Bisa-bisa dirawat di rumah sakit lagi.
Biasanya Aloysius hanya butuh waktu sepuluh menit hingga semua hidangan habis. Sekarang tiga puluh menit pun masih tersisa banyak. Dia banyak berhenti saat perut terasa diaduk-aduk dan mual.
“Aneh sekali, ku rasa ada yang salah dengan lidah dan perutku,” keluh Aloysius. Tangan kiri menopang kepala yang terasa sangat berat, sementara sebelah kanan memainkan lasagna menggunakan sendok. “Satu bulan aku tak selera makan begini, apa Lindsay juga sama? Atau hanya aku yang tersiksa karena banyak memikirkan dia, sementara dia tidak memikirkan aku?”
Bergumam sendiri tanpa ada yang mendengar, nampaknya Aloysius sudah sangat frustasi melewati hari-harinya yang amat membosankan dan menyebalkan.
Mendadak pria itu melepaskan genggaman dari sendok. Kini mualnya mulai tidak terkendali, sudah berada ditahap mendesak mau keluar. Aloysius pun segera berjalan cepat menuju toilet, sebelum isi perutnya keluar semua di ruang kerja.
Sama saja tidak jadi makan kalau begitu ceritanya. Baru juga diisi, sudah keluar semua. Bahkan Aloysius sampai merasa tidak ada yang bisa dimuntahkan lagi.
Mengusap bibir menggunakan air, lalu bercermin. Dia melihat kalai wajah memang terlihat sangat sayu dan lelah. “Ini sungguh menyiksa.”
Berjalan gontai untuk kembali ke kursi kerja. Aloysius pun menekan tombol interkom yang menghubungkan langsung ke sekretarisnya.
“Ya, Bos?”
“Panggilkan dokter ke sini.”
“Kau sakit?”
“Tidak, aku sekarat.”
“Perlu ku pesankan tanah pemakaman juga?”
“Ya? Aku masih di sini.”
“Kau sudah bosan bekerja denganku?”
“Iya, tapi aku butuh uang dari gaji perusahaanmu.”
“Kalau begitu, kerjakan saja apa yang aku minta!” Rasanya tak bertenaga untuk berteriak, walau sebenarnya sangat ingin melakukan itu agar Dakota tidak membuatnya kesal.
...........
Berbeda dengan Lindsay, wanita itu justru sedang menikmati hidup dimasa kehamilan trimester satu. Dia tidak pernah merasakan mual, pusing, atau kesakitan lainnya. Seperti hari-hari biasa saja, bedanya kini lebih hati-hati dalam melakukan sesuatu karena ada yang harus dijaga dalam perut.
Wanita itu selalu tersenyum, harus kuat demi anaknya. Walau terkadang merindukan sosok pria yang sudah menghamilinya.
Meski Lindsay mengandung karena hasil dari paksaan, tapi yang memaksanya bercinta adalah sosok yang dicintai. Jadi, dia tidak membenci Aloysius.
Lagi pula kehidupan Lindsay juga tenteram. Sekarang ia ada di tempat yang jauh dari Kota. Lokasinya ada di dekat pulau-pulau kecil bagian dari negara Finlandia.
Dia adalah pemilik lahan yang sejak lama menjadi sumber penghasilan lain. Lindsay memiliki peternakan sapi. Selama ini dikelola oleh karyawannya. Namun, kini ia juga turun tangan untuk mengisi kegiatan.
Lindsay tidak melakukan banyak pekerjaan. Mungkin sesekali memberikan makan sapi-sapinya. Seperti hari ini, dia baru selesai melakukan itu.
“Kita istirahat dulu, ya, Sayang? Mommy lapar sekali,” gumam Lindsay seraya mengusap perut.
“Mau ku buatkan sesuatu? Atau ada makanan yang kau inginkan?” Suara itu terdengar seperti seorang pria.