Snatch My Daddy’S Wife

Snatch My Daddy’S Wife
Part 76



Andai Lindsay sudah memberikan kejelasan, pasti pertanyaan ‘kapan menikah’ sangat mudah untuk dijawab oleh Aloysius. Sayangnya, wanita itu belum juga mengatakan secara gamblang kalau mau menerima ajakannya untuk serius. Walau sebenarnya ia pun tidak terlalu mendesak harus buru-buru diterima. Asal setiap hari tetap diizinkan untuk terus tinggal bersama pun tak dijawab juga tidak masalah. Prinsipnya ‘kan yang penting masih bisa bermesraan. Menjalani hubungan tanpa status selama bertahun-tahun saja kuat, apa lagi menunggu kepastian.


Lagi pula Aloysius yakin kalau Lindsay cinta padanya. Bukti sangat akurat. Itu ada di perut yang buncit. Walau hamil karena ia setubuhi secara paksa dan kasar, tapi tetap dilanjutkan, tidak digugurkan. Jadi, dia santai saja sembari menunggu sang pujaan hati siap dan bersedia resmi menjadi istrinya.


Belum ada yang menjawab, tatapan mata Aloysius masih tertuju pada si rambut pirang yang rapi. Sebab, di sana ada dua yang pirang, satu lagi acak-acakan seperti jarang disisir, siapa lagi kalau bukan istri pamannya.


Semua orang jadi ikut merubah fokus mata pada sosok yang duduk sembari mengusap perut berisi janin. Menanti bibir wanita itu bergerak untuk menuntaskan dahaga atas rasa penasaran yang begitu mendalam.


Tapi, orang yang diamati justru mengerutkan kening. Bingung dan seperti sedang dipantau banyak pasang mata. “Kenapa kalian menatapku seperti itu?”


Menepuk jidat bersama-sama, ternyata Lindsay tak paham juga dengan arti kode keluarga Dominique.


Jadi, Aloysius yang akan menjelaskan. Dengan menggenggam tangan wanitanya. “Begini, Sayang. Tadi mereka bertanya, kapan kita menikah? Aku tidak bisa menjawab karena kau belum memberikan kepastian. Nah ... lalu semua menatapmu karena meminta jawaban.”


Lindsay meringis malu. Terlalu banyak kode dari keluarga itu. Dia jadi merasa seperti dilamar langsung. “Em ... begini. Bukan aku tidak memberikan kejelasan atau berniat menggantungkan ajakan baik Aloysius. Namun, bolehkah menunggu sebentar? Setidaknya sampai yakin kalau pria yang ku pilih memang sudah berubah. Mengingat bagaimana perilakunya di masa lalu yang masih belum bisa dilupakan.” Sebisa mungkin ia memberikan penjelasan masuk akal. “Karena Aloysius sangat menyukai hubungan bebas. Jadi, ada sedikit keraguan apakah dia bisa melewati ikatan yang harus setia dengan satu wanita saja.”


“Kurang setia apa lagi aku?” Aloysius mendorong punggung hingga tersandar di sofa. “Di hatiku hanya Lindsay Novak seorang, tak ada yang lain. Cukup kau yang boleh mengandung anakku, mengerti?”


“Ya sudah, kita hargai keputusan Lindsay. Yang mau menjalani juga mereka, jangan didesak, nanti dia tidak nyaman dengan keluarga kita.” Diora menengahi para kaum pria yang lebih tak sabar ingin segera adanya pernikahan.


“Baiklah.” Akhirnya mereka mengalah.


Berbicara dengan kaum keras kepala itu memang lebih baik menggunakan kelembutan seperti Diora. Asal sampai dan diresapi. Jika mengotot, yang ada jadi saling eyel, tak ada mau mengalah.


Tersenyum dengan kepala mengangguk sekilas. “Terima kasih sudah memahamiku.”


“Kalau begitu, ajak aku jalan-jalan ke sekitar peternakanmu, boleh?” pinta Amartha. Sekaligus dia ingin mengobrol. Memberikan keyakinan pada wanita pilihan anaknya agar tidak meragukan Aloysius lagi.


“Tentu.” Lindsay pun berdiri, lalu izin mendorong kursi roda Amartha untuk diajak keluar.


“Memang anak itu sudah cocok menjadi menantuku, lihat saja dia yang perhatian pada istriku. Sayangnya, kebodohan anakku di masa lalu jadi sedikit memberikan jalan berbelok untuk tujuan mendapatkan wanita seperti Lindsay,” ucap Delavar, menatap punggung dua orang yang mulai menjauh.


Entah sindiran yang keberapa. Aloysius sampai kenyang mendengar itu. “Namanya juga hidup, kalau tidak berliku, tak asyik.” Ada saja kalimat yang digunakan untuk mengelak.