Snatch My Daddy’S Wife

Snatch My Daddy’S Wife
Part 68



Aloysius dibawa ke kandang yang berbeda lagi. Mungkin dia bisa tersesat dan salah masuk karena terlalu banyak. Yang kemarin isinya sapi warna cokelat rata. Sekarang putih dengan bulatan cokelat tak merata.


Yakinlah ia tak akan paham jenis-jenisnya. Mungkin harus mulai belajar karena akan menikahi wanita dengan profesi peternak sapi.


“Aku belum pernah. Jadi, tolong bantu diarahkan,” pinta Aloysius.


“Oke, ambil ember yang bersih di sana.” Lindsay menunjuk arah terujung.


Aloysius lekas melaksanakan perintah. Cepat selesai, maka bisa segera menikah juga. Jadi, dia akan semangat terus dan pantang menyerah.


“Lalu, apa lagi?” tanya Aloysius seraya menunjukkan ember yang dibawa.


“Letakkan di bawahnya, lalu kau berjongkok.”


Alis Aloysius terangkat sebelah. “Masih manual? Apa peternakanmu tak ada tekonologi canggih lagi? Kemarin saja membersihkan kandang tinggal menekan tombol. Bisa jadi sekarang juga sama.”


“Ada, tempatku sudah menggunakan teknologi semua. Bahkan di sini juga ada penghangat ruangan agar sapi-sapiku tidak kedinginan,” jelas Lindsay.


“Lantas, kenapa kau tetap memintaku manual? Mau mengerjai, ya?” Aloysius menusuk-nusuk pipi sang wanita dengan tatapan curiga.


“Tidak mau? Ya sudah, kau bisa pulang ke Helsinki.” Mudah sekali mengelak, Lindsay hanya perlu mengeluarkan kalimat itu. “Lagi pula aku tak ada niatan mengerjai, supaya kau tahu saja jika di sini itu tidak semudah yang dibayangkan.” Lebih tepatnya ingin mengajarkan agar Aloysius tidak terlalu sombong seolah muda menakhlukkan segalanya.


“Selalu mengancam begitu.” Aloysius pun mengulurkan tangan. “Tolong lipatkan lengan sewaterku.”


Lindsay tidak perlu menolak atau membantah. Melakukan seperti apa yang diminta. Ia berdiri di samping Aloysius. Pria itu sekarang berjongkok di bawah.


Sebelum melakukan pemerahan, Lindsay sudah memastikan terlebih dahulu kalau kondisi kandang bersih. Jadi, susu aman dari kontaminasi kotoran.


“Bersihkan dulu ambing dan bagian putingg.”


“Menggunakan air?”


“Iya, tapi yang hangat. Kau juga cuci tanganmu sampai bersih.” Lindsay menunjuk kran. “Sudah ada heaternya, tidak perlu masak.”


“Oh, oke.” Seperti orang yang sedang belajar, Aloysius tidak membantah sedikit pun. Dia kembali dengan seember air hangat.


“Oleskan minyak kelapa,” titah Lindsay berikutnya. Dia menyodorkan satu botol.


“Untuk apa?” Bertanya sambil menerima.


“Supaya mudah saat memerah dan menghindari luka pada putingg sapi.”


Aloysius mengangguk, lekas melakukan perintah itu. “Sudah boleh ku nodai sapimu ini?”


Kalimat yang digunakan oleh Aloysius berhasil membuat alis Lindsay naik sebelah. “Nodai?”


“Iya, aku akan memegang bagaian ini, bukankah bagi seorang betina adalah titik sensitif.”


Sabar ... sabar. Lindsay tidak boleh tertawa walau sangat ingin. “Oh ... silahkan nodai saja sapi itu.”


“Setelah ini kau yang ku nodai, ya?” Mata Aloysius mengerling genit.


Lindsay tidak bisa berkata-kata, selalu digoda terus. Pintar memang Daddy anaknya kalau perihal modus dan mesum. “Mulailah pijat itu, tarik ke bawah sampai keluar susunya.”


Dengan percaya diri dan tidak memiliki keahlian, Aloysius menarik bagian putingg dengan sedikit keras supaya cepat keluar. Tapi, bukannya untung, ia justru buntung.


“Mow ....” Sapi itu bersuara keras, lalu kaki belakang menendang ke depan dan mengenai Aloysius.


“Woi ... sapi gila! Kira-kira kau! Sakit, bodoh!” Hewan pun diumpati oleh Aloysius. Dia sampai terpental karena tendangan terlalu kuat.


Lindsay segera membantu, mengulurkan tangan. “Jangan terlalu kuat menariknya, lembut dan penuh kasih sayang. Sapi juga bisa merasakan sakit.”


“Lebih mudah memerah susu Lindsay daripada sapi,” keluh Aloysius saat kembali berjongkok di tempat semula.


“Namanya masih belajar, wajar kalau tidak langsung bisa.” Lindsay memberikan semangat dengan mengusap rambut sang pria.


“Ku kenyot juga sapimu kalau aku emosi.”