
Aloysius jadi ketagihan dengan susu kemasan yang diberikan oleh keluarganya kemarin. Di apartemen ia stok banyak dan pagi hari selalu terasa lebih ringan jika minum itu, tidak seberat biasanya.
Saking terpukau oleh produk itu, Aloysius sampai membawa ke kantor untuk dibagikan ke seluruh karyawan. Dia ingin semua orang merasakan kalau ada minuman seenak itu.
Setiap hari bisa menghabiskan lima sampai sepuluh kotak. Jadi, persediaan di apartemen habis secara cepat.
Rencananya Aloysius akan beli lagi ke supermarket atau minimarket saat berangkat ke kantor sekalian. Menyempatkan mampir hanya untuk mencari susu Enjoy Life.
Sayangnya, Aloysius tidak bisa mendapatkan apa yang dia mau.
“Bagaimana bisa kehabisan? Memangnya kalian tidak stok banyak?” protes Aloysius pada kasir saat ia menanyakan tentang produk yang dicari.
“Tuan, kami sudah pesan lagi ke pabriknya, tapi pengiriman tidak satu detik langsung sampai. Mereka harus mengirim dahulu ke gudang di perusahaan, kemudian baru diantar ke sini bersama produk-produk lainnya,” jelas kasir itu secara rinci, supaya pelanggan paham.
Aloysius berdecak. “Lambat.” Lalu ia keluar dari tempat keenam yang sudah didatangi.
Melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan, ternyata sudah pukul sepuluh dan belum sampai kantor. Aloysius pun menunda untuk mencari minuman kemasan yang kini menjadi kesukaannya. Dia meminta supir untuk langsung ke perusahaan saja karena ada pertemuan penting dengan Mr. Grey.
Masih ada waktu, Aloysius pun menemui sekretarisnya terlebih dahulu untuk memberikan pekerjaan. Dia berdiri di depan meja Dakota.
“Tolong kau cari susu Enjoy Life, harus sampai dapat! Beli yang banyak sekaligus!” titah Aloysius.
“Bukannya aku tidak mau, Bos. Tapi, itu memang sedang viral, aku pun mau beli selalu kehabisan.”
“Aku tidak mau tahu, cari cara supaya bisa mendapatkan, kalau perlu datang ke pabriknya langsung!”
“Kenapa tidak kau saja yang ke sana? Pekerjaanku banyak sekali, Bos.”
“Tunda dulu kerjanya.”
“Tidak suka? Kirim surat pengunduran dirimu kalau begitu!” ancam Aloysius dengan mata mendelik.
“Setelah pertemuan dengan Mr. Grey aku berangkat.” Dakota mengusap dada supaya sabar.
“Ok.” Aloysius pun bergerak menuju ruang meeting. Mr. Grey sudah sampai di perusahaan.
Melihat seorang pria berjalan masuk seorang diri, lalu ada wanita yang mengikuti, Aloysius pun langsung menyeletuk. “Tumben tidak bersama istrimu?”
“Hari ini dengan sekretarisku.” Mr. Grey membalas jabatan tangan.
“Oh ... biasanya kalian selalu bersama.”
Mr. Grey terlihat menaikkan sebelah alis. “Memangnya kekasihmu tidak pernah cerita kalau istriku sering bermain ke tempatnya? Sekarang mereka jadi seperti teman dekat.”
Aloysius terdiam, dia tidak pernah membenarkan kesalahpahaman itu, Mr. Grey selalu mengenal Lindsay sebagai kekasihnya. Mau berkomentar tapi nanti kelihatan kalau hubungannya dengan Lindsay sedang tidak baik.
“Aku terlalu sibuk. Jadi, jarang memegang ponsel,” kilah Aloysius seraya duduk ke tempatnya.
“Ya, aku maklumi. Kau beruntung sekali memiliki kekasih Lindsay, kalau istriku saja senang menghabiskan waktu dengannya, berarti personality wanita itu memang tidak perlu diragukan lagi.”
Aloysius mengangguk saja, mungkin dia bisa memanfaatkan moment ini untuk bertanya. “Mereka bertemu di mana?”
“Peternakannya Lindsay. Istriku sering main ke sana.”
Aloysius mendadak membeku. Otaknya mulai bekerja untuk menyusun setiap petunjuk yang sepertinya semua orang telah mengkode padanya. Hanya saja selama ini tidak bisa memahami.