Snatch My Daddy’S Wife

Snatch My Daddy’S Wife
Part 86



Wanita? Cium? Club malam? Aloysius bingung dengan pertanyaan sepupunya. Bahkan ia pun tidak ingat siapa yang dimaksud. Isi pikiran hanya Lindsay seorang, kalaupun memang pernah mencium yang lain, lalu lupa, berarti bukan sosok penting dalam hidupnya.


“Entah, memangnya siapa? Aku juga tak tahu.” Aloysius mengedikkan bahu. Menuju ranjang dan duduk di bagian tepi untuk mengobrol. “Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?”


“Ck! Kau itu membuat kami malu.” Adorabella melipat kedua tangan di dada dan menatap sebal Aloysius si pria yang tidak merasa bersalah.


“Aku tak berbuat apa pun pada kalian, kenapa harus malu?”


Menarik napas sedalam mungkin. Duo Bella memang harus lebih sabar menghadapi sepupu yang sialnya belum sadar dan ingat juga.


“Kami sekeluarga sudah berusaha menceritakan hal baik tentangmu di depan Lindsay, supaya dia mau menerima ajakanmu menikah tanpa risau dan berpikir terlalu lama,” beri tahu Amabella.


Dua wanita itu lalu menuju sofa yang ada di ujung ranjang. Duduk di sana supaya tidak pegal saat bicara.


“Lalu, apa kau tahu alasan sebenarnya Lindsay belum mau menikah denganmu?” tanya Adorabella.


Bahu Aloysius mengedik. “Mana ku tahu, Lindsay saja tak pernah bilang.”


Adorabella dan Amabella menepuk jidat bersamaan. Ampun ... tidak habis pikir dengan sepupunya yang mau mencapai tujuan tanpa mengingat pernah berbuat salah apa.


“Karena dia pernah melihatmu mencium wanita lain di club malam. Itu yang membuat Lindsay ragu dengan kesetiaanmu. Apa lagi kau memiliki riwayat penyuka hubungan tanpa status. Semakin jauhlah jalanmu mendapatkan dia.” Tidak tahan untuk menyimpan pembahasan tersebut terlalu lama. Amabella bicara terang-terangan saja. Sebab, sepupunya itu tak bisa cepat paham kalau bicara tak pada intinya.


Terdiam, Aloysius jadi berusaha untuk mengingat lagi siapa wanita yang ditemui ke club malam, lalu dicium. “Pasti aku dalam kondisi mabuk. Demi apa pun, tidak ingat sama sekali.”


“Ya memang.” Tidak menampik, Aloysius mengakui itu. Kalau anak baik, mana mungkin jalannya berliku hanya untuk mendapatkan seorang wanita.


“Lindsay mengatakan apa lagi? Adakah hal lain yang membuatnya mengganjal untuk memilih aku?” Kini dia jadi lupa untuk ke kamar sang wanita. Ternyata obrolan bersama Duo Bella lebih menarik karena sekarang baru tahu kalau Lindsay pernah melihatnya bersama wanita lain.


“Tidak ada. Tapi, kau jangan pernah katakan padanya kalau kami memberi tahu tentang itu, ya? Tak ku bantu lagi jika sampai keluar dari mulutmu,” ancam Amabella.


“Iya, santai.” Mungkin Aloysius akan minta maaf atau memancing Lindsay supaya mengatakan sendiri padanya. Namun, mau dijawab apa jika ditanya nama wanita yang dicium? Dia saja lupa dan tak tahu siapa.


Lagi pula, kenapa Lindsay tidak pernah mengungkit hal itu dengannya? Bertanya juga tidak. Aloysius jadi kepikiran, pasti perasaan wanitanya sangat kacau ketika melihatnya mencium orang lain. “Nanti ku coba ingat-ingat.”


“Tak harus mengingat. Yang penting kau minta maaf dan jelaskan saja kejadian sebenarnya. Pasti dia akan memahami.”


Mengangguk menurut. Tumben sekali Aloysius tidak membantah. “Besok, sekarang sudah malam.”


Duo Bella pun berdiri, lalu pamit kembali ke kamar. Sudah puas menyadarkan pikiran sepupunya. Biarlah selanjutnya mencari cara sendiri, setidaknya sudah digalikan informasi penting.


Sebelum benar-benar meninggalkan Aloysius seorang diri, Adorabella pun memberi tahu sesuatu yang baru saja teringat. “Oh ... lupa, aku juga menyarankan pada Lindsay untuk meminta restu sapimu. Carilah cara agar hewan ternaknya bisa berpihak denganmu.”


“Apa?” Aloysius terpekik tak percaya. “Ada gila-gilanya juga kau.”