
Mereka makan dengan suasana tak sunyi. Ada canda dan tawa yang menambah kesan hangat antara satu sama lain. Aloysius masih menjadi topik yang enak untuk bahan ejekan. Mulai dari video yang terkena kotoran, kencing, dan ditendang sapi, lalu sekarang panggilan sayang Lindsay ‘Daddy Bonsai’ juga sangat layak menjadi bahan.
Mau marah rasanya pada Andrew karena pria itu yang membuat Lindsay memiliki ide untuk memanggilnya dengan kata yang mengandung bonsai. Sayangnya, ketika melihat senyum senang di wajah sang wanita, memilih untuk membiarkan. Lagi pula panggilan tersebut lekat oleh rasa sayang Lindsay padanya. Tak apalah ‘Daddy Bonsai’ walau sedikit aneh. Asal ibu hamil senang.
Setelah selesai makan malam, Lindsay yang merasa pemilik rumah pun hendak menarik alat makan kotor di atas meja. Tapi, Aloysius sudah melarang.
“Biar aku saja,” larang Aloysius. “Kau bersantailah.” Ia yang melakukan tugas bersih-bersih. Di sana tidak ada asisten rumah tangga. Jadi, semua harus dilakukan mandiri.
“Luar biasa kemampuan Lindsay merubah seorang Aloysius. Selain berhasil membuat dia mau berhadapan dengan kotor-kotoran, sekarang juga mau bersih-bersih,” puji Amartha. Dia mengusap punggung calon menantu, anggap saja begitu, walau belum tahu mau atau tidak.
Sementara Aloysius mencuci alat makan kotor secara manual, karena menggunakan mesin merasa kurang bersih. Yang lain berbincang santai di ruang tamu supaya semuanya muat dan bisa duduk di sofa.
Aloysius lalu ikut bergabung di sana. Ia meminta supaya sepupunya berpindah. “Aku mau duduk di samping Lindsay,” usirnya pada Duo Bella.
Lebih baik mengalah daripada nanti digendong paksa.
Mendusel pada si ibu hamil, Aloysius merangkul Lindsay sembari mendengarkan keluarganya mengoceh. Bercerita tentang dirinya. Terkesan sedang promosi. Dia membiarkan dan tidak menyela. Justru terus melihat bagaimana reaksi wajah sang wanita yang sejak tadi hanya mengangguk, layaknya orang yang pura-pura paham.
Terus mengalir obrolan dan canda tawa. Terasa semakin dekat, tiada sekat walau Lindsay hanyalah orang baru bagi keluarga itu.
“Aku seperti memiliki banyak saudara,” bisik Lindsay di telinga Aloysius.
“Anggap saja mereka keluargamu. Saat mengandung anakku, tandanya kau sudah bagian dari kami, meski belum secara sah.” Aloysius mengusap kepala Lindsay, mendekatkan bibir dan mengecup pelipis wanitanya.
“Sekarang sedang musim dingin, untung belum turun salju. Bagaimana kalau aku challenge Aloysius?” Dariush menunjuk keponakannya.
“Apa?” Aloysius menyentakkan alis ke atas seperti siap menerima tantangan.
“Kau harus bisa mendapatkan persetujuan Lindsay dan menikah sebelum salju pertama turun. Bagaimana?” Mengulurkan tangan, Dariush meminta keponakannya menjabat sebagai bentuk kesepakatan.
“Kalau berhasil, aku dapat apa?” tanya Aloysius. “Tak mau jika tidak ada hadiahnya.”
“Tenang, kau mau apa pun juga aku kasih.”
“Sapi untuk Lindsay?”
“Oke, deal.”
“Seratus ekor.”
“Iya.”
“Deal.”
Dariush dan Aloysius pun saling berjabat tangan. Otak calon Daddy ternyata sudah diisi oleh hewan ternak, bukan koleksi mobil lagi.
Semakin larut, mulai menguap juga. Apa lagi keluarga yang belum istirahat setelah perjalanan panjang. Mereka pun bubar. Masuk ke kamar yang sudah disediakan oleh Lindsay. Termasuk Aloysius juga.
Menunggu tidak ada orang yang berkeliaran lagi, Aloysius mau mengendap-endap ke kamar Lindsay. Alasan minta pijit atau apalah, yang penting bisa tidur berdua. Namun, baru juga membuka pintu, sudah dikejutkan oleh sosok sepupunya yang berdiri dengan mata melotot.
“Baru mau aku buka,” ucap Adorabella. Dia main menyelonong ke dalam, diikuti saudari kembarnya.
“Mau apa mencariku?” tanya Aloysius. Jadi terjeda keinginannya. Sudah dini hari pula.
Tadi kakeknya yang menimpuk. Sekarang tangan dua wanita muda itu yang memukul kepalanya secara bersamaan.
“Wanita mana yang kau cium di club malam?” tanya Amabella.