Snatch My Daddy’S Wife

Snatch My Daddy’S Wife
Part 92



Mana mungkin Aloysius mengatakan alasan yang sesungguhnya. Bilang bahwa Andrew berencana menggagalkan pernikahan mereka dengan cara menculik. Nanti yang ada ia dikira penakut dan mudah percaya dengan gertakan orang. Walau sebenarnya memang ada sisi risau juga. Siapa tahu rivalnya memiliki kadar kenekatan yang tinggi. Apa lagi orang patah hati ‘kan sering berbuat seenaknya.


Jadi, Aloysius menjawab pertanyaan Lindsay dengan kata, “Tak apa, aku hanya tidak suka melihat dia ada di peternakanmu terus.” Sembari telapak lebar mengusap puncak kepala si wanita.


“Setelah menikah, kita bisa kembali ke Helsinki. Biarlah Andrew yang mengurus peternakan. Sesekali saja ke sini,” cetus Lindsay. Dia sudah memikirkan kalau menjadi istri akan ikut kemanapun suami pergi.


“Yakin mau meninggalkan sapi-sapimu? Padahal aku berencana ingin tinggal di sini saja.”


Menaikkan sebelah alis, Lindsay sedikit bingung dengan arah pikiran calon suami. “Kenapa? Bukankah pekerjaanmu ada di Helsinki semua?”


“Aku sudah nyaman di sini. Ternyata lebih seru jadi peternak daripada kerja kantoran.” Aloysius meletakkan sendok karena telah selesai menghabiskan semangkuk cream soup. Duduk sedikit menyerong supaya enak menatap calon istri. “Di perusahaan, pasti waktuku bertemu denganmu jauh lebih sedikit. Sementara di sini? Dua puluh empat jam pun bisa, kerja juga tak seharian penuh, cukup sampai siang.”


“Memangnya keluargamu mengizinkan?”


Mengedikkan bahu. “Entahlah, mungkin tidak karena terlalu banyak anak perusahaan. Tapi, pekerjaanku bisa dihandle dari jauh. Untuk apa punya karyawan jika bosnya tetap harus turun tangan setiap hari?”


Bergeleng kepala dengan keputusan sepihak Aloysius. “Lebih baik kau diskusikan masalah itu. Lagi pula aku tak masalah jika harus ikut bersamamu. Dengan senang hati. Kalau kau suka dua puluh empat jam melihat aku, nanti bisa ku temani saat bekerja. Seperti Mr dan Mrs. Grey yang ke mana-mana selalu berdua.”


Kepala Aloysius mengangguk. “Boleh juga idemu.”


Setelah makan, Aloysius pamit untuk menyelesaikan pekerjaan yang tadi dikirimkan melalui email oleh sekretarisnya. Dakota sudah ia buat pusing sepuluh keliling karena selama tiga hari tidak bisa dihubungi. Wanita itu sempat marah-marah. Tapi, namanya juga Aloysius, mana peduli dia dengan orang lain, kecuali Lindsay.


Ketika membaca dokumen dari layar MacBook yang ia bawa dari Helsinki, ponsel Aloysius berdering. Dakota yang menghubungi. Ia angkat panggilan tersebut.


“Kenapa? Aku baru baca isi emailmu.”


“Kapan pulang ke sini, Bos?” tanya Dakota.


“Belum waktu dekat ini.”


“Kau tidak lupa jalan kembali ke Helsinki, kan?”


“Tidak, lah ... ada-ada saja kau itu.”


“Ok, bagus. Kalau begitu, pulanglah hari ini, Bos. Dokumen yang harus kau tanda tangani sangat banyak!” Dakota sengaja menekan di kalimat terakhir supaya Aloysius sadar sudah lama meninggalkan kantor.


“Kau saja yang ke sini, bukankah memang tugasmu melakukan itu?”


“Aku ini sekretaris, bukan pesuruh.”


“Tapi kau digaji dengan hasil perusahaan keluargaku. Jadi, wajib patuh dan tunduk dengan perintahku.”


Bossy sekali Aloysius. Seenaknya memberikan perintah dan harus dilakukan.


“Kenapa tak minta tolong pada keluargamu saja?”


“Kau pikir keluargaku pengangguran?”


“Kau pikir aku ini tak banyak kerjaan?”


“Jika sudah tak mampu melakukan tugas dariku, maka ajukan saja surat pengunduran diri!” Ada decakan yang didengar oleh Aloysius setelah ia mengatakan ancaman itu.


“Iya, aku ke peternakan.”


Panggilan pun berakhir dengan dimenangkan oleh Aloysius. Awalnya ia berancana mau ke Helsinki hanya untuk mengambil surat-surat penting, seperti surat kelahirannya, dan sebaginya. Tapi, berhubung sekretarisnya menelepon, kebetulan ada dokumen yang perlu tanda tangannya juga, maka sekalian saja. Jadi, ia tidak perlu jauh-jauh pulang.


Selesai dengan dokumen yang tadi Aloysius baca, pria itu lekas mencari calon istri. Ternyata sedang di depan televisi dan menonton video rekaman CCTV saat dirinya di peternakan.


“Apa tak bosan? Itu terus yang kau lihat. Aku saja sampai muak,” ucap Aloysius. Duduk di samping Lindsay dan melingkarkan tangan pada pundak sang wanita.


Menggeleng adalah jawaban dari si ibu hamil. “Lucu, anakmu suka.” Ia menuntun tangan kekar untuk menyentuh perut buncit. “Selalu aktif menendang tiap kali melihat video itu.”


“Nanti kalau lahir pasti akan menjadi anak Daddy, ya?” Aloysius sedikit membungkuk, mencium anaknya walau sekadar terkena kulit Lindsay.


Sementara jamari lentik mengusap rambut keriting lebat calon suami. “Pekerjaanmu sudah selesai?”


“Sudah.” Kembali duduk tegak ke posisi semula.


“Jadi membeli cincin?” tanya Lindsay.


Menepuk jidat, Aloysius sampai lupa. Tahu begitu ia menitip Dakota sekalian supaya dibelikan di Helsinki.


“Daerah dekat sini yang ada toko perhiasan mahal di mana?”


“Jauh, perlu ke kota yang lebih besar.”


“Bagaimana jika kita cari cincin online saja? Nanti diantar ke sini,” tawar Aloysius.


“Kenapa begitu?”


“Karena aku tidak mungkin memberikan cincin biasa untuk orang yang ku cintai,” jelas Aloysius. Pria itu selalu memberikan sentuhan fisik. Tidak pernah bosan.


“Ish ... tidak perlu. Beli saja di toko perhiasan terdekat. Menikah itu tak perlu yang mahal, kan? Kalau ada murah, kenapa pula mengeluarkan uang lebih banyak.” Lindsay menolak. Justru menyarankan hal berbeda dari keinginan Aloysius.


Calon suami itu sampai menaikkan kedua alis. “Yang benar saja, aku bisa semakin kaya jika kau tidak mau memoroti uangku.”