
Saking senangnya karena akhirnya diterima, Aloysius mengangkat tubuh Lindsay dari belakang. Tepat di bawah ketiak wanita itu tangannya melingkar. Tapi, mendadak diturunkan lagi.
“Maaf, aku lupa kalau kau sedang hamil. Hampir saja mau ku putar-putar.” Aloysius berganti dengan menggendong depan seperti seorang pengantin baru, walau belum resmi menikah. Setidaknya sebentar lagi.
Dengan semangat menggebu dan membara, Aloysius membawa sang wanita masuk ke dalam kamar. Menidurkan di atas ranjang. “Karena aku sedang bahagia, maka seharian akan ku peluk kau sampai hangat.” Ia lalu ikut berbaring. Merengkuh Lindsay dari belakang karena posisi begitu sangat enak. Ia bisa memeluk sekaligus dua orang, yang satu masih ada di perut.
Terkekeh, Lindsay memang sedikit kedinginan. Jadi, dia menerima perlakuan manis dan hangat dari calon suami.
Aloysius belum ingin melakukan sesuatu selain cuddle. Bercinta enaknya malam saja. Siang takutnya diganggu oleh Andrew yang suka tiba-tiba mengetuk pintu hanya untuk laporan hal-hal tak penting. Seolah sengaja mengganggu kebersamaannya.
Teringat dengan tantangan yang diberikan oleh pamannya. Aloysius izin sebentar. “Aku ambil ponsel dulu, ya? Di kamarku.”
Setelah dijawab anggukan, dia berlari. Kemudian kembali sudah membawa alat komunukasi di genggaman. Aloysius melihat kondisi luar dari jendela. Belum turun salju juga. Jadi, ada kemungkinan menang taruhan.
“Kalau kita menikah dalam waktu dekat ini, bagaimana? Apakah kau mau?” tanya Aloysius. Kembali mendusel Lindsay.
“Mau.”
“Tanggalnya terserah aku, ya?” mohon Aloysius.
Lindsay melepaskan tangan yang melingkar di tubuhnya, merubah posisi menjadi menghadap sang pria. “Memangnya kenapa?”
“Kau lupa? Aku ditantang kalau berhasil menikahimu sebelum salju pertama turun, maka dianggap menang.” Aloysius mengingatkan perjanjian yang ia sepakati saat ada Lindsay juga. Sembari menyingkirkan helaian rambut pirang untuk disampirkan ke belakang telinga.
“Ingat. Seingin itu memenangkan tantangan?” Jemari Lindsay juga sama saja. Sejak lama sudah menahan diri untuk tidak memberikan sentuhan fisik yang berlebihan, sekarang dia berani mengusap wajah Aloysius dengan segenap rasa bahagia memenuhi hati.
“Tentu. Supaya ternakmu semakin banyak.” Bibir mendekat, Aloysius mengecup kening sang wanita. “Aku main ponsel sebentar, ya? Boleh, kan?” Dia sampai izin karena Lindsay adalah manusia yang jarang sibuk dengan alat komunikasi. Bahkan sejak dahulu. Hanya saat penting saja baru memegang.
Coba saja tanya di mana meletakkan ponsel. Pasti Lindsay baru akan mencari keberadaan benda yang sudah lama tak digenggam. Lupa kapan terakhir kali digunakan, karena terlalu lama.
“Silahkan.” Lindsay merasa dihargai, walau sebatas pendapat sederhana tentang memakai alat komunikasi. Tapi, hal itu membuatnya senang dan merasa dibutuhkan.
Sementara Aloysius sibuk mencari nomor BMKG. Dia harus bertanya tentang perkiraan cuaca supaya tepat memilih tanggal dan persiapan juga tidak terlalu dadakan.
Dapat, tanpa bantuan siapa pun. Aloysius menelepon supaya cepat.
“Selamat siang, dari—” Belum juga selesai menyapa, Aloysius yang tak sabar sudah memotong.
“Ini instansi yang sering memberikan perkiraan cuaca, ya?”
“Benar, apakah ada yang bisa dibantu?”
“Aku mau tanya, kira-kira tanggal berapa mulai turun salju?” Tidak mau basa-basi, langsung saja pada intinya.
“Jika dari perkiraan kami, mungkin satu minggu lagi.”
“Oke, terima kasih.” Aloysius mengakhiri panggilan itu. Lalu mengusap lengan Lindsay yang sejak tadi tidak menunjukkan pergerakan. “Ternyata sudah tidur.”
Posisi itu adalah paling nyaman bagi si ibu hamil. Selama ini Lindsay sudah menahan diri untuk tidak mendorong harga dirinya agar terjun bebas. Tapi, sekarang tidak lagi karena kejelasan pernikahan ada di depan mata.
Tidak mengganggu atau membangunkan, Aloysius membiarkan. Dia menghubungi sang paman supaya bersiap.
“Halo, Bonsai, ada apa kau meneleponku?” Panggilan itu jadi dipakai oleh seluruh keluarga yang tahu tentang kejadian di peternakan Lindsay.
“Siapkan sapi seratus dalam waktu dekat. Aku akan menikah dengan Lindsay.” Aloysius berbicara dengan kepongahannya.
“Kapan?”
“Satu minggu lagi. Pastikan yang ukurannya besar dan sehat.”
“Menikah saja dulu, bisa jadi keduluan salju daripada pernikahanmu,” remeh Dariush.