
Tiga atau empat minggu? Berarti Lindsay pergi dari mansion bukan semenjak diusir Aloysius. Itu sudah lama sekali, anggaplah satu bulan. Lantas, di mana keberadaan wanita yang tengah mengandung anaknya? Dia mengacak-acak rambut dengan sedikit memberi jambakan karena harus berpikir keras.
Tidak mau membuang waktu, Aloysius pun mencari kunci mobil yang ada di rumah. Ia butuh kendaraan untuk bepergian menemukan Lindsay. Untung tak hanya memiliki satu mobil.
Aloysius melajukan transportasi itu dengan kecepatan tinggi. Tujuan pertama adalah arena balap. Siapa tahu Lindsay sedang latihan atau menonton orang kebut-kebutan menggunakan race car. Tak akan tahu hasilnya jika tidak dicoba.
Segera keluar secepat kilat, juga langkah larinya pun bagaikan orang tengah maraton. Aloysius meminta izin pada pengelola arena supaya ia diizinkan masuk.
Sesampainya di dalam, ternyata lumayan sepi. Hanya ada beberapa orang sedang menyewa tempat itu untuk latihan. Tapi, bukan dari tim Lindsay.
Menghembuskan napas kasar, kedua tangan berkacak pinggang. Pria itu terlihat bingung sendiri. “Ke mana aku harus mencari?” gumam Aloysius seraya kepala menengadah ke atas. Entah sedang memohon pada siapa untuk dibantu cari.
Aloysius kembali ke mobil. Sembari berpikir, ia membenturkan dahi ke stir kemudi. “Ayo ... berpikirlah, Alo!”
Satu tahun yang lalu Aloysius juga melakukan hal yang sama. Dia mencari keberadaan Lindsay di tempat-tempat yang ia tahu sering didatangi oleh wanita itu. Tapi, selalu saja nihil. Bahkan apartemen baru Lindsay juga entah di mana. Sebab, yang lama sudah dijual sejak menghilang saat itu. Jadi, sekarang ia tak tahu aset mana saja milik Lindsay.
“Sudahlah, berpikir sembari berkendara. Siapa tahu melihat dia di jalan,” putus Aloysius.
Empat roda kendaraan itu berputar sebesar tiga ratus enam puluh derajat. Membawa si pengendara memutari Kota Helsinki.
Tidak terasa telah menghabiskan waktu lima jam, Aloysius sampai tak sadar kalau awan mulai berubah. Tidak sepanas tadi.
Terlalu fokus, bingung, pusing, dan kalut karena tak kunjung menemukan sosok yang membawa kabur anaknya, Aloysius tak memerhatikan kalau baterai mobil mulai mendekati peringatan habis. Jarang dipakai, tidak dicharge juga sebelum pergi.
“Sial! Ada acara kehabisan baterai,” umpat Aloysius ketika mobil mendadak mati.
“Kenapa semua tidak berpihak padaku? Mau menemukan Lindsay saja sesusah ini, fuckk!” Entah sudah keberapa kali rambutnya dijambak sendiri. Aloysius sampai tak lagi nampak rapi. Dia kacau sekali, sudah keriting, makin kusut pula.
Setidaknya masih ada satu yang bisa membantu, ponselnya. Aloysius pun menghubungi sekretaris.
“Dakota? Cepat kau susul aku, bawa mobil!” titah Aloysius tanpa memberikan izin sekretarisnya menolak.
“Memangnya bos di mana?”
Aloysius pun memberi tahu lokasinya. “Kalau kau tak tahu, ku kirim lokasinya melalui pesan.”
“Bos, kau lebih baik mencari taksi saja. Daerah itu jauh sekali dari lokasiku.”
“Mobilku kehabisan baterai. Jadi, kau harus ke sini untuk mengurus ini!”
“Jual saja mobilnya, beli yang baru.”
“Da—ko—ta! Aku sedang buru-buru mencari Lindsay.”
Terdengar suara gelak tawa dari seberang sana. “Untuk apa dicari? Katanya tidak suka. Bos, kau sudah kemakan oleh kebencianmu sendiri.”
Bukannya menyelesaikan masalah, sekretarisnya justru membuatnya semakin merasa bersalah.