
Kalau untuk mengingat wanita yang entah siapa, Aloysius menyerah. Mungkin jika disebutkan ciri-cirinya bisa ingat. Sayangnya, Lindsay tidak pernah membahas atau mengungkit tentang kesalahan itu. Jadi, sulit baginya tiba-tiba berbincang pada topik sensitif. Pandai sekali menutupi perasaan yang terluka, sampai ia pun tidak sadar jika pernah berbuat hal bodoh sebelumnya.
Aloysius hanya bisa berusaha untuk mendekatkan diri dengan sapi-sapi Lindsay. Seperti kisi-kisi yang sudah dibocorkan oleh sepupunya saat malam itu.
Jadi, pagi ini, ketika ia diminta untuk memerah lagi, dilakukan dengan hati-hati, penuh penghayatan, dan kasih sayang. Aloysius tidak buru-buru atau kasar lagi seperti awal pertama belajar. Walau ini baru yang kelima, tapi perkembangannya pesat. Mungkin karena memiliki motivasi yang sangat besar.
Aloysius juga cepat belajar. Dia tidak perlu meminta diarahkan lagi tata caranya. Masih sangat ingat jelas bagimana langkah mulai dari membersihkan hingga proses terakhir.
Tidak ada kejadian ditendang lagi, atau disembur oleh air seni. Kali ini Aloysius aman dari berbagai hal-hal buruk. Bahkan ada raut wajah mulai senang melakukan aktivitas di peternakan. Tak cemberut atau memasang mimik masam seperti saat pertama kali mendapatkan tugas berhadapan langsung dengan para sapi menyebalkan. Namun, kini terasa lebih menyenangkan.
Keluarga Dominique sudah pulang sejak tiga hari lalu. Mereka hanya menginap selama dua malam. Jadi, sekarang Aloysius bisa kembali bebas dan tenang dari adanya gangguan manusia-manusia yang senang sekali mengejek dirinya.
“Sudah mahir, ya? Tidak perlu diajari lagi?” Andrew yang baru masuk ke kandang sapi perah pun bersuara. Entah memuji atau mengejek. Wajahnya selalu terlihat mengesalkan di mata Aloysius. Padahal hanya menunjukkan mimik datar.
“Tentu, aku itu pria yang cepat beradaptasi.” Sombong tetap harus. Lagi pula memang benar begitu faktanya.
Aloysius selesai memerah. Tidak ada lagi yang dikeluarkan dari sapi. Ia menunjukkan hasilnya pada Lindsay. “Apa ini jauh lebih baik dari kemarin?”
“Sekarang aku dan sapimu sudah bersahabat. Ternak itu tidak mencari masalah lagi denganku,” kelakar Aloysius. “Aku pindahkan ke sana dulu.” Tanpa perlu diperintah, dia langsung menuju bagian untuk menuangkan cairan berwarna putih itu agar diolah oleh mesin.
Setelah menyelesaikan tugas, Lindsay mengajak pulang. Wanita itu sudah cukup melihat perkembangan sang pria yang kini jauh lebih baik.
“Jalan-jalan sebentar, selagi masih ada matahari,” pinta Aloysius. Menggandeng tangan pujaan hati agar tidak jadi naik ke mobil.
Baiklah, menurut saja. Anggap sebagai apresiasi karena pria itu membuatnya terkesan dengan tekad yang sangat besar hingga berhasil menakhlukkan hewan ternaknya. Mungkin memang saatnya bagi Lindsay membuang keraguan di hati. Aloysius telah berjuang demi mendapatkan dirinya. Benar apa kata keluarga Dominique, dia perlu melupakan masa lalu dan lihat ke depan. Bisa jadi sosok yang kini tak henti merengkuh pinggulnya adalah orang yang akan menjadi sumber kebahagiaan. Dia tidak mau menyesal jika terlalu lama menunda.
“Aku ingin bicara sesuatu,” ucap Lindsay.
“Aku mau bertanya padamu,” tutur Aloysius.
Keduanya mengeluarkan suara secara bersamaan. Dengan kepala juga saling menengok satu sama lain. Entah siapa yang mau mengalah.