Snatch My Daddy’S Wife

Snatch My Daddy’S Wife
Part 51



Lindsay awalnya hanya ingin keluar sendiri. Ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungan, sekaligus belanja bulanan. Tapi, kebetulan sekali Andrew juga mau ke arah yang sama karena hendak membeli sesuatu. Jadi, dia menerima tawaran supaya berangkat bersama.


Setelah tadi meninggalkan Aloysius pergi begitu saja, Lindsay beberapa kali melihat ke belakang. Sebenarnya dia rindu. Melihat wajah pria itu langsung membuat perutnya seperti ada yang menendang, biasanya sangat jarang anaknya bergerak. Tapi, dia tidak menunjukkan bahwa mengharapkan kehadiran sosok itu di depannya.


Lindsay masih cukup waras dan memiliki akal untuk bersikap biasa saja. Dia berusaha keras untuk tidak terlihat murahan seperti dahulu. Walau apa yang ia lakukan di masa lalu pun hanya bersama satu pria saja. Akan tetapi, merasa tidak dihargai setelah merelakan segalanya dan tak pernah dianggap sebagai apa-apa kecuali teman ranjang atau kontak darurat ketika Aloysius kesepian.


Lindsay memiliki hati. Dia juga perasa orangnya. Hanya saja pandai menutupi dan terlihat tegar. Sebenarnya ia sosok yang membutuhkan pelukan, sandaran, tempat berkeluh kesah. Namun, hidup tidak selalu berjalan sesuai apa yang diharapkan.


Tak ada yang bertanggung jawab atas patah hati seseorang, kecuali diri sendiri. Begitulah prinsip Lindsay. Rasa sedih, senang, dan segala yang hadir sebagai warna hidup adalah hasil dari perbuatannya sendiri. Dia tidak pernah menyalahkan siapapun.


Sampai tak terasa kalau perjalanan pulang pun begitu cepat. Mobil sudah berhenti di depan rumahnya. Bangunan berlantai dua yang ia tinggali seorang diri, mungkin sebentar lagi akan bertambah satu setelah melahirkan.


“Biar aku saja yang bawakan belanjaannya, kau langsung masuk. Terlalu berat, dan kau sedang hamil besar,” ucap Andrew.


Lindsay mengangguk, dia turun dari mobil dan mengeluarkan kunci rumah. “Nanti langsung bawa ke dapur saja, ya,” pintanya seraya membuka pintu.


Keduanya pun berada di dalam rumah dengan pintu yang sudah dikunci.


Andrew membantu Lindsay mengeluarkan belanjaan dan menata di dalam kulkas. “Kau kenal pria tadi?”


“Ya.” Lindsay sembari membersihkan buah-buahan sebelum disimpan.


“Kenapa kau terlihat tegang saat bertemu dengannya?”


Andrew menghentikan gerakan tangan yang sejak tadi menata isi kulkas. Ia menatap Lindsay dengan sorot mata penuh selidik, mencari letak kesedihan atau putus asa. Tapi, tak pernah ada. Wanita itu tetap saja tegar dan kuat walau hidup sendiri dalam kondisi hamil.


“Apa dia tahu tentang kehamilanmu?” tanya Andrew.


Bahu Lindsay mengedik. “Entah, aku belum sempat memberi tahu padanya.”


Andrew menghela napas, lalu menutup kulkas. “Jika aku tahu pria tadi yang membuatmu melewati masa sulit, akan ku habisi dia sebagai pelajaran.”


“Sudahlah ... aku juga biasa saja menjalani ini, kenapa harus kau yang repot.” Lindsay bergerak membawa wadah berisi buah. Saat melewati Andrew, dia menepuk pundak pria itu.


“Aku sudah berjanji dengan mendiang orang tuamu, akan menjaga kau.”


Keduanya berhenti berbicara ketika telinga mendengar ada orang mengetuk dari luar diiringi memanggil nama Lindsay. Berkali-kali, seakan tak sabaran.


“Seperti suara Alo,” gumam Lindsay.


“Biar aku yang buka, kau di sini saja,” ucap Andrew.


Namun, Lindsay sudah mencegah dan kepala menggeleng. “Tidak, itu tamuku, kau kembali ke peternakan saja. Terima kasih sudah mengantarku hari ini.”


Mencuci tangan sebentar, barulah Lindsay menuju pintu. Baru juga dibuka, ia dibuat mematung saat seorang pria bersimpuh di bawah. Tentu sangat terkejut. Aloysius yang dikenal adalah sosok angkuh, sombong, arogan, dan mau menang sendiri. Lalu, apakah yang kini dilihat salah orang?