
Berhasil menyingkirkan tangan kekar Aloysius dari pinggulnya, Lindsay mendiamkan pria itu yang baru saja mengerjainya. Tadi dia sudah sempat sedikit panik kalau sungguhan beku. Ternyata hanya mau modus.
“Lin ... begitu saja marah.” Aloysius menyusul dengan wajah masih meninggalkan kekehan lucu melihat mimik kesal wanitanya.
“Aku tidak suka kau berbohong seperti tadi. Bagaimana kalau sungguh terjadi?” Lindsay menarik pintu, masuk ke dalam. Tidak mau berhenti atau berbalik sedikit pun.
“Iya, aku minta maaf, Sayang. Tidak akan diulangi lagi,” bujuk Aloysius. Gerakan kaki yang lebar itu mampu menyusul. Meraih tangan Lindsay untuk sedikit ditahan agar tidak buru-buru saat melangkah.
Menarik ke dalam dekapan, Aloysius memeluk dan langsung merasakan hangat di tubuh. “Jangan marah,” pintanya.
“Siapa yang marah? Aku hanya khawatir.” Lindsay mencubit perut, lalu balas melingkarkan tangan walau ada buncit yang menjadi sekat mereka.
Nyaman dan hangat berada di pelukan satu sama lain. Pasti bisa lupa untuk makan, seandainya tidak ada para manusia sialan yang berdeham bersamaan.
“Kami sudah lapar, melihat kau berpelukan, tak akan bisa membuat kenyang,” ucap Delavar. Melemparkan kacang yang baru saja dikeluarkan dari kulitnya, kena kepala sang putra.
Aloysius mencebikkan bibir saat Lindsay mengakhiri pelukan dan berjalan mendekati meja makan. “Cepat-cepat, pulang! Kalian itu menganggu kebasanku di sini,” usirnya untuk yang kedua kali.
“Sudah seperti tuan rumah saja, kau itu juga tamu,” sindir Dariush.
Tangan Aloysius menarikkan satu kursi kosong untuk Lindsay duduk. Dia melakukan itu sembari menanggapi keluarganya. “Sebentar lagi juga jadi tuan rumah. Tunggu saja waktunya.”
“Percaya diri sekali, memangnya yakin kalau Lindsay mau dengan bocah tengik sepertimu?” cibir Davis.
“Jangan meremehkan kemampuan merayuku, Grandpa.” Aloysius duduk di samping Lindsay. “Biar menyebalkan begini, tapi aku itu cucu seorang pria yang piawai merebut wanita.”
“Cucu belum tentu memiliki kemampuan yang sama. Buktinya mencari Lindsay saja kau butuh waktu berbulan-bulan.” Delavar ikut mencemooh putra sendiri.
“Sudah, jangan banyak bicara. Kita makan sekarang, katanya lapar.” Diora menengahi perdebatan kecil yang selalu menjadi bumbu kehangatan dalam hubungan mereka semua.
Semua mengambil makanan secara bergantian. Tidak perlu berebut. Dari yang paling tua sampai muda. Tapi, berhenti pada Aloysius yang masih bingung memilih mau ambil hidangan apa.
“Ayo cepat! Kau itu lama sekali!” protes Duo Bella karena giliran mereka jadi terjeda akibat Aloysius.
“Sabar ....” Aloysius sedang membedakan mana masakan dari tangan Lindsay atau keluarganya.
“Ini kau yang buat?” tanya Aloysius seraya menunjuk lasagna. Mata tertuju pada sang wanita yang ada di sampingnya.
Lindsay mengangguk membenarkan. “Cobalah, siapa tahu kau suka.”
Aloysius pun menarik satu wadah semuanya tanpa memberikan sisa untuk yang lain. “Aku memang mencari masakanmu.”
“Rakus sekali! Aku juga mau.” Adorabella ingin minta, tapi tidak boleh oleh Aloysius.
“Ambil yang lain saja, karena perutku hanya bisa menerima apa pun hasil dari tangan Lindsay Novak.” Di bawah meja, Aloysius mengusap perut buncit. “Ini sepertinya kutukan dari anakku agar tak bisa jauh-jauh darimu.”
“Hoek ....” Dariush, Delavar, dan Davis membuat bunyi seolah ingin muntah. “Mual sekali mendengar gombalan si tengik.”
“Panggilannya daddy bonsai,” ralat Lindsay. Dia senang dengan julukan itu. Gemas.
“Ha?” Semuanya melongo mendengar itu. Kemudian tawa meledak lagi karena lucu. “Daddy bonsai, kau kerdil? Otakmu sepertinya yang kecil, Alo.”