Snatch My Daddy’S Wife

Snatch My Daddy’S Wife
Part 78



“Mau melihat pabrik susuku? Siapa tahu ingin menonton proses pembuatannya juga,” tawar Lindsay saat mobil mendekati sebuah bangunan besar.


“Boleh, aku mau tahu bagaimana pembuatan minuman itu. Sekarang menjadi kesukaanku.” Wanita muda yang usianya tak jauh beda dari Lindsay itu paling bersemangat.


“Mau sekarang atau nanti saja setelah di peternakan?”


“Terserah, ku serahkan dan percayakan tour Enjoy Life Farm kali ini pada pemiliknya langsung.” Amartha mengusap lengan Lindsay.


Mata mengamati cuaca sebentar. Cerah, walau udara yang berhembus dingin. “Kita ke peternakan dulu, jam segini sapinya masih ada yang dibiarkan berkeliaran di ladang rumput. Siapa tahu kalian mau foto-foto mengisi postingan sosial media.” Ia melirik kaca spion yang menggantung di depan, menanti Adorabella dan Amabella mau atau tidak, karena ide tercetus setelah melihat dua wanita yang sangat modis itu sejak tadi sibuk mengabadikan pemandangan sekitar. Penilaiannya mengatakan bahwa aktif di berbagai media sosial seperti instagram, twitter, atau mungkin tiktok. Entahlah, ia tidak memiliki aplikasi tersebut karena lebih suka menonton film dibandingkan sibuk dengan ponsel berlayar kecil.


“Ide bagus, Lin.” Duo Bella menyepakati dengan senang hati.


Sampai juga akhirnya. Lindsay memarkirkan mobil di dekat ladang rumput yang tidak jauh dari kandang nomor tiga ratus sembilan puluh sembilan.


“Ayo turun,” ajak Lindsay. Dia mendahului, lalu segera menuju pintu sebelah untuk membantu orang tua Aloysius.


Mengulurkan tangan pada Amartha. “Kuat jalan?”


“Kuat.” Yang ditanya pun mengangguk.


Empat wanita yang tadi minta ikut pun berjalan di belakang Lindsay. Mereka sangat menikmati suasana sekitar. Banyak sapi, hamparan hijau, dan ada beberapa orang yang menjaga ternak-ternak tersebut.


“Kalau masuk musim dingin, ternakku hanya dibiarkan berkeliaran sebentar saat ada matahari. Mungkin beberapa jam saja agar tidak stress kalau di kandang terus.” Sembari berjalan, Lindsay menjelaskan bagaimana prosedur di perternakannya supaya menjaga kualitas susu dan daging. “Jika terlalu lama, takutnya mereka beku, nanti aku rugi kalau sapinya mati.”


“Minta saja Aloysius belikan lagi sebagai ganti. Uangnya banyak, daripada digunakan untuk beli mobil terus tiap tahun,” cetus Amartha. Garasi di mansion sampai penuh oleh kendaraan milik sang putra. Padahal yang rutin dipakai juga hanya satu. Kalau ditegur, katanya sebagai achievement setelah bekerja keras. Namanya juga anak lelaki.


“Dia itu kolektor mobil-mobil baru, Lin,” beri tahu Diora. “Entah untuk apa juga.”


“Namanya juga kolektor, Grandma. Ya ... dikoleksi,” jelas Adorabella sembari memvideo sapi yang sedang makan rumput. “Ada kepuasan tersendiri kalau orang-orang seperti itu bisa membeli apa yang disuka.”


“Boros juga, ya ...,” gumam Lindsay pelan. Dia baru tahu fakta tersebut. Atau mungkin karena senang mobil, maka alasan itu pula yang membuat Aloysius begitu menyukai seorang pembalap seperti dirinya? Entahlah, tidak mau terlalu dipusingkan. Apa pun alasannya, yang penting adalah kesetiaan.


“Daripada koleksi wanita, lebih baik mobil. Uangnya jelas habis untuk membeli barang, dan kelihatan juga wujudnya.” Amabella menimpali. Membela dan membuat sepupunya dipandang bagus oleh Lindsay. Hitung-hitung membantu mempermudah jalan Aloysius untuk diterima menjadi suami si peternak cantik itu.


“Benar, mobil bisa dijual lagi. Kalau uang habis untuk membeli wanita demi kepuasan? Mana ada aset yang terlihat, justru si kaya bisa menjadi miskin karena digerogoti napsu tanpa disadari.” Alceena ikut masuk ke dalam obrolan.


Para wanita keluarga Dominique kompak sekali menjunjung tinggi Aloysius. Meski kadang juga suka kesal dengan pria itu. Tapi, kalau urusan membantu menyelesaikan masalah, tetaplah garda terdepan. Ya ... kadang dibalut ledekan sedikit sebagai pemanis hubungan kekerabatan mereka, bolehlah.