Snatch My Daddy’S Wife

Snatch My Daddy’S Wife
Part 54



Lindsay pikir sifat Aloysius sudah berubah. Ternyata sifat sombong dan tidak mau kalah tetap mendarah daging. Namun, entah kenapa ia tidak bisa marah. Justru terkesan lucu karena wajah pria itu saat tidak suka lebih menggemaskan. Bagaikan anak kecil yang ingin menang terus.


Jika Lindsay masih mengulum senyum dan menahan gelak tawa, tidak dengan Andrew yang cekikikan melihat tingkah Aloysius. Di luar nalar manusia biasa.


“Untuk apa kau membelikan barang sebanyak itu? Kau pikir rumah Lindsay gudang penyimpanan?” sindir Andrew. “Mau membuktikan kau kaya, begitu? Sayangnya, Lindsay tidak butuh semua pemberianmu. Dia bisa membeli dengan jerih payah sendiri.”


“Mulutmu bisa diam, tidak?” Aloysius menunjuk bibir Andrew yang banyak bicara. “Aku membawakan semua ini untuk Lindsay, jadi biarkan dia yang menentukan.”


“Oke, kau tanya saja pada Lindsay,” tantang Andrew.


Mata Aloysius pun kini tertuju pada Lindsay. “Aku sudah membayar semua barang-barang itu. Mana mungkin, kan ... dikembalikan lagi. Jadi, kau pasti menerima, iya, kan?” Bukan terkesan bertanya, tapi lebih ke arah memaksa dan harus mau.


“Em ....” Lindsay memutar dua bola mata, lalu melihat truk dengan box besar yang kini pintu belakangnya sedang dibuka. Dia bisa melihat ada banyak tumpukan kardus tertata rapi. “Rumahku akan terasa sesak kalau dibawa masuk semua. Lagi pula untuk apa belanjaan sebanyak itu? Aku tidak ada niatan untuk membuka minimarket juga di sini.”


Mendengar jawaban itu, Aloysius lemas. Seperti pemberiannya ditolak. “Jadi, kau tidak mau?” Ada helaan napas kecewa. “Padahal niatku hanya ingin tak mau terlihat kalah dengan pria ini.” Dia lalu menyingkirkan tangan Andrew yang masih merangkul Lindsay. “Apa tak bisa menghargai pemberianku?”


“Kau cemburu karena Andrew membawakan belanjaanku?” tanya Lindsay. Dijawab anggukan oleh Aloysius.


Lindsay terkekeh geli. Ternyata sifat impulsif Aloysius masih tetap mendarah daging. Selalu melakukan segala sesuatu tanpa pikir panjang.


“Oke, turunkan saja semua, letakkan di teras depan,” putus Lindsay. Sayang juga kalau harus dibuang. Dia tahu akan berujung ke sana jika tidak diterima. Toh tidak dirugikan juga. Lumayan untuk kebutuhan karyawannya agar tak perlu ke kota.


“Sudahlah, Andrew. Niat Alo baik.” Lindsay lalu mendekati tiga orang dengan kaos polo berlogo sebuah supermarket yang tadi baru ia datangi. Memberikan instruksi supaya menurunkan kardus yang entah berjumlah berapa. Untunglah dia memiliki tempat tinggal dengan halaman luas.


Aloysius pun menaikkan kedua alis sebagai pertanda menang. “Lihat, kan? Lindsay lebih membela aku.”


“Aku tidak membela siapa pun. Hanya menghargai apa yang kau berikan.” Lindsay yang mendengar segera meluruskan.


Andrew menertawakan Aloysius saat wajah angkuh mendadak berubah masam. “Terlalu percaya diri.” Ada senyum mengejek dilayangkan.


Andrew membantu untuk menurunkan barang-barang itu. Supaya cepat selesai. Sementara Aloysius hanya berdiri dan mengamati. Memang dasar sifat bos sudah sangat melekat.


“Kau tidak ikut membantu?” tanya Lindsay.


“Untuk apa? Aku sudah membayar tiga orang itu supaya melakukan semuanya,” jelas Aloysius.


“Lihatlah pria itu, Lin. Sosok yang tidak bertanggung jawab, membawakan sebanyak ini tapi tak mau turun tangan secara langsung. Pikirkan lagi kalau kau mau menerima orang seperti itu.” Andrew berteriak menyindir. “Hanya mengandalkan uang, dia pikir masalah akan selesai dengan uang.”


“Jangan munafik! Hidup butuh uang untuk mencukupi segalanya.” Aloysius pun menaikkan lengan panjangnya ke atas. “Aku juga bisa mengangkat itu.”