
Baik Brennus, Clemmons, dan Delavar, semua langsung memasang mimik wajah sama. Mereka menaikkan sebelah alis ketika mendengar pengakuan Aloysius. Bukannya terkejut, tapi lebih ke arah tidak percaya dengan apa yang disampaikan.
“Daddy lebih yakin kalau berkata yang beringas itu kau, dibandingkan Lindsay,” ucap Delavar. Dia tak jadi ke kamar, menyempatkan untuk ikut sarapan bersama anak saja.
“Ya ... aku juga setuju,” ucap Brennus, lalu memasukkan makanan ke dalam mulut.
“Muka-muka sepertimu itu tidak meyakinkan.” Clemmons mengambil lagi satu sendok lasagna kesukaannya. “Pasti kau memaksanya, kan?” tuduhnya kemudian.
“Ck! Kalian ini tidak ada yang percaya semua denganku?” gerutu Aloysius. Dia menarik seluruh sisa makanan saat daddynya hendak mengambil. “Aku dulu.”
Delavar mempersilahkan, mengalah saja dengan anak. Apa lagi Aloysius yang sekarang sedang seperti bocah tengah merajuk pada keluarga.
“Jelas saja kami tidak percaya, buktinya di seluruh tubuhmu tidak ada bekas-bekas tanda cinta.” Brennus menunjuk Aloysius dari atas sampai bawah, bersih semua, hanya terkesan berantakan saja karena baru bangun tidur.
Aloysius mencebik, kenapa juga Lindsay tidak menyesap leher, dada, atau bagian manalah supaya ada tanda kemerahan. Kebohongannya jadi tidak dipercaya.
“Ya ... ya ... ya ... kalian menang, tebakannya tepat. Memang aku yang bermain brutal semalam.” Aloysius tidak bisa lagi menutupi karena buktinya memang lebih ke arah dia yang ganas. “Tapi, semalam aku benar-benar mencumbu Lindsay dengan segenap tenagaku.” Dia mengucapkan kalimat itu dengan sangat ditekan dan mata menatap daddynya.
Tapi, Delavar menikmati sarapan dengan santai seolah tidak terpengaruh sedikit pun oleh seluruh ucapan putranya. Tak ada kemarahan juga walau tahu calon istri disetubuhi oleh anak sendiri.
“Kenapa diam saja? Kalian masih tidak percaya juga?” Aloysius kesal karena tiga pria di sana hanya menanggapi dengan anggukan.
“Perlu ku panggilkan wanita murahan itu dan menunjukkan semua kekejianku semalam?” tantang Aloysius. Rasanya menghadapi keluarga yang menanggapinya santai itu lebih mengesalkan.
“Jaga bicaramu, Alo. Kau boleh marah padaku, tapi jangan merendahkan wanita.” Delavar mulai mengeluarkan nasihat dengan serius. “Dia tidak murahan, kau yang membuatnya menjadi wanita tak bernilai. Hanya di matamu Lindsay tidak ada harganya.”
“Oh ... wow ... daddyku marah.” Aloysius melepaskan sendok hingga membentur piring dan mengeluarkan bunyi. Dia menyandarkan punggung. “Lebih membela orang lain dibandingkan anak sendiri, ya? Sudah lupa dengan Mommy juga? Sebegitu berharganya Lindsay di matamu?”
“Lebih baik tadi kita sarapan di luar saja, Cle ... kalau tahu ujung-ujungnya melihat keributan lagi,” ucap Brennus. Makan paginya jadi tak berkualitas karena mendengar perdebatan untuk kesekian kalinya.
“Sebelum mereka berdua datang, makan kita tertelan dengan nikmat dan penuh penghayatan. Sekarang, rasanya menyangkut di tenggorokan,” seloroh Clemmons, meraih gelas dan meneguk untuk menggelontor kerongkongan.
Brennus dan Clemmons berhenti makan. Mereka menyangga kepala dan sama-sama menonton pertikaian yang ada di depan mata.
“Mari taruhan, kira-kira siapa yang menang?” ajak Clemmons.
“Tidak ada, pada akhirnya salah satu dari mereka pasti akan memilih pergi agar perdebatan tidak menjadi panjang,” jawab Brennus. Dia lalu menempelkan telunjuk ke bibir agar kembali menyimak perdebatan seru.
“Lindsay calon istriku, jelas saja aku bela juga,” ucap Delavar.
Aloysius menertawakan daddynya dengan penuh ejekan. “Dia sudah ku pakai, berkali-kali, bahkan termasuk semalam. Apa tidak risi mengambil wanita yang sudah disentuh oleh anak sendiri?”