
Setiap hari Aloysius terus merenungkan nasihat dari neneknya. Mungkin selama ini ia kurang merasa diperhatikan setelah mommynya sakit. Jadi, sering melakukan apa pun sesuka hati dan jarang ada yang melarang.
Mungkin benar kalau perlu memulai untuk menjalin dengan wanita baru. Entah dengan siapa, Aloysius hanya ingin coba-coba. Apakah berhasil membuat pikirannya tidak lagi terisi Lindsay atau justru semakin kuat.
Mendengar ada seseorang mengetuk pintu, Aloysius mempersilahkan. Dia melihat sekretarisnya berdiri di depan meja.
“Ada yang bisa dibantu, Tuan?” tanya Dakota. Wanita dengan penampilan sangat rapi dan selalu bekerja sempurna.
“Carikan aku seorang wanita!” titah Aloysius. Mata sembari melihat sekretarisnya dari atas sampai bawah. Namun, kepala selalu menyandar di kursi. Dia merasa kalau pusing. Sudah terjadi selama kurang lebih satu bulan ini. Tapi, sengaja diabaikan dan tak terlalu dirasakan.
“Untuk?”
“Menjadi teman kencanku.” Tangannya memijat pelipis yang sekarang menjadi lebih berdenyut dari sebelumnya.
“Kau bisa mempertimbangkan aku.” Dakota malas pusing. Terlebih ia memang menginginkan bosnya. Siapa yang tidak mau dengan sosok pria keturunan keluarga Dominique? Hanya orang bodoh saja pastinya.
Aloysius menaikkan sebelah alis. Sekretarisnya? Entah kenapa ia kurang tertarik. Kalau wajah memang cantik, standar pada umumnya. Kinerja juga bagus, tidak perlu diragukan. Tapi, rasanya aneh kalau harus mengencani orang yang telah bekerja dengannya selama dua tahun terakhir.
“Why? Aku bisa melakukan segalanya. Asalkan ... gajiku naik tiga kali lipat.” Dakota mengajukan penawaran. Dia membuka kancing mulai dari paling atas, sembari melangkah ke kursi atasannya.
Tiba-tiba Dakota sudah berada di atas pangkuan Aloysius. Mulai menggoda pria itu yang terlihat pucat. Tapi, ia tidak peduli. Toh bosnya belum mengeluh sakit atau minta dipanggilkan dokter juga.
“Mari dimulai dengan mencicipi dadaku?” Dakota menurunkan kemejanya, hingga kini menampakkan sebuah garis akibat terhimpit oleh sebuah cup ganda.
“No, kau sekretarisku. Tidak ada yang boleh menjalin hubungan antar pekerja di perusahaan ini.” Aloysius mendorong tubuh wanita yang sudah setengah polos. Meski dihadapkan oleh tubuh seksi, tapi ia tidak bergairah sedikit pun. Tak tahu kenapa, mungkin akibat sakit. Atau perutnya yang semakin lama terasa bagaikan ditusuk seribu jarum.
Dakota menghela napas kecewa dan memungut kembali kemejanya yang sudah dijatuhkan ke lantai. “Apa aku akan dipecat karena sudah lancang?”
“Tidak, kinerjamu bagus. Itulah sebabnya aku tidak bisa menjadikanmu teman kencan. Aku tak ingin pekerjaan akan menjadi kacau jika kita memiliki ikatan,” jelas Aloysius. Dia menunjuk pintu untuk mengusir. “Silahkan keluar, dan aku ingin nanti malam harus sudah ada wanita untuk menemaniku makan malam bersama klien.”
Dakota memakai kemejanya lagi. “Akan ku usahakan. Adakah kriteria yang kau inginkan? Supaya aku bisa menemukan orang yang cocok dan lebih spesifik.”
“Berambut pirang bergelombang, tidak lurus atau keriting. Mata abu-abu gelap, hidung mancung, bibir sensual, dagu runcing, pipi tidak tembam, wajah oval. Tinggi sekitar di bawah telingaku, berat badan tidak lebih dari lima puluh kilogram. Dan dia menyukai race car.” Entah sadar atau tidak, semua yang disebutkan oleh Aloysius merupakan ciri-ciri Lindsay.